POPULI.ID – Baru- baru ini Presiden Prabowo Subianto sempat melontarkan uneg-unegnya mengenai program Makan Bergizi Gratis yang oleh sebagian kalangan dicibir.
Dalam acara peresmian dan groundbreaking 1.179 SPPG serta 18 gudang ketahanan pangan Polri di Jakarta, Jumat (13/2/2026), Prabowo mengungkapkan program yang digagaskan soal makan gratis mendapat olokan sejumlah pihak bahkan di antara yang mengejeknya ada dari kalangan terdidik.
Gaya Presiden Prabowo yang melontarkan uneg-uneg dalam forum nyatanya bukan kali itu saja. Dalam beberapa kesempatan, mantan Menteri Pertahanan itu bersikap serupa.
Oleh sejumlah pengamat, gaya komunikasi Prabowo dinilai membawa warna baru yang unik, namun sekaligus memicu kontroversi terkait transparansi dan keterbukaan terhadap kritik.
Spontanitas dan Latar Belakang Militer
Satu di antara ciri khas Prabowo adalah gaya bicaranya yang sering kali bersifat “impromptu” atau spontan tanpa persiapan naskah yang kaku. Sebagai seorang orator ulung, spontanitas ini memang menunjukkan kekuatannya, namun di sisi lain meningkatkan risiko salah ucap atau slip tongue.
“Latar belakang militernya kerap memengaruhi pilihan kata yang ia gunakan, seperti istilah “kedaulatan” saat membicarakan visi besar bangsa, yang terkadang sulit dipahami secara mendalam oleh masyarakat awam jika hanya didengar sekilas,” tulis laporan ABC News.
Contoh nyata dari gaya bicara spontan ini terlihat saat ia membela perluasan kebun kelapa sawit.
“Namanya kelapa sawit ya pohon, ada daunnya kan?” ujar Prabowo kala itu.
Pernyataan tersebut belakangan menuai kritik dari pegiat lingkungan karena dianggap tidak berbasis data dan abai terhadap dampak ekologis monokultur kelapa sawit.
Perbandingan dengan Jokowi: Citra vs Keterbukaan
Perbedaan mencolok terlihat ketika membandingkan Prabowo dengan Joko Widodo (Jokowi). Era Jokowi dikenal dengan penggunaan media sosial yang masif dan strategi “Narasi Tunggal” untuk menyelaraskan pesan di semua kementerian.
“Jokowi merupakan tokoh politik yang menitikberatkan karier politiknya pada pembentukan citra melalui kegiatan seperti blusukan,” tulis The Conversation.
Berbeda dengan komunikasi era Jokowi yang cenderung satu arah, Prabowo dinilai lebih tertutup dan sulit diprediksi.
Jika Jokowi sangat menjaga reputasi melalui publikasi kegiatan yang teratur, wartawan di era Prabowo justru mengeluhkan tidak adanya informasi detail mengenai agenda harian presiden yang mempersulit peliputan isu-isu penting.
Perbandingan dengan SBY dan Orde Baru
Jika ditarik lebih jauh ke belakang, gaya komunikasi setiap era memiliki karakteristiknya sendiri.
Pada era Orde Baru, komunikasi publik sepenuhnya dikendalikan oleh Departemen Penerangan tanpa adanya check and balance karena media massa sangat dibatasi.
Sementara di era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang kala itu mengesahkan UU Keterbukaan Informasi Publik (KIP), komunikasinya lebih banyak mengandalkan peran Juru Bicara Kepresidenan.
Berbeda dengan SBY yang melembagakan keterbukaan informasi, Prabowo justru mulai menunjukkan indikasi anti kritik.
Masih mengutip dari ulasan The Conversation, penggunaan kata “ndasmu” oleh Prabowo dalam acara internal partai untuk merespons kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) dianggap sebagai sinyal bahwa ia cenderung tidak terima kritik publik atas kebijakannya.
“Ia melontarkannya untuk merespons khalayak yang kerap mengkritik program MBG unggulannya dan kabinetnya yang cenderung gemuk,” tulis laporan tersebut.
Ketegasan sebagai Kunci Stabilitas
Sementara itu, penilaian lain datang dari pengamat politik dan kebijakan Universitas Brawijaya (UB), Andhyka Muttaqin.
Ia menilai Prabowo mempunyai gaya komunikasi yang tegas. Dari sudut pandangnya, cara komunikasi Prabowo berdampak baik pada stabilitas politik nasional.
Menurut Andhyka, ketegasan tersebut mampu meredam potensi polarisasi yang sempat memanas setelah Pilpres 2024.
“Ketegasan dari gaya komunikasi Presiden Prabowo selama setahun menjabat ini relatif bisa mengendalikan polarisasi yang muncul pasca pilpres,” jelas Andhyka dilansir dari Antara.
Gaya tersebut juga dinilai turut mendorong kinerja pemerintahan ke arah yang baik karena instruksi presiden kepada para menteri menjadi lebih jelas dan terukur.
Pendekatan Merangkul di Balik Kewibawaan
Andhyka juga menyoroti bahwa ketegasan Prabowo diimbangi dengan sikap merangkul lawan politik. Strategi ini dianggap berhasil membangun kepercayaan dari berbagai pihak, termasuk mereka yang sebelumnya berseberangan, untuk bergabung dalam pemerintahan.
Meskipun begitu, Andhyka memberikan catatan penting agar keseimbangan itu tetap terjaga.
“Jika komunikasi tegas tidak diimbangi dengan pendekatan yang merangkul, ketegasan bisa dianggap keras dan memperlebar jarak dengan lawan politik,” tuturnya.
Ia mengingatkan hal tersebut penting dijaga secara konsisten agar citranya tetap positif di mata publik.












