YOGYAKARTA, POPULI.ID – Angka kasus bunuh diri anak di Indonesia menunjukkan tren peningkatan yang sangat memperihatinkan. Berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), dalam periode 2023-2025 tercatat sebanyak 116 anak melakukan bunuh diri.
Adapun pada 2026 tercatat sudah ada lima kasus anak mengakhiri hidupnya. Bahkan pada 2023-2024 angka kasus bunuh diri di Indonesia menjadi yang tertinggi se-Asia Tenggara.
Satu di antara kasus anak bunuh diri yang menjadi perhatian luas menimpa siswa SD di Ngada, NTT, diduga karena ketidakmampuan ekonomi. Terbaru, kasus bunuh diri menimpa siswa SD di Kabupaten Demak, Jawa Tengah.
Fenomena tingginya kasus bunuh diri anak tersebut mendapatkan tanggapan dari Dewan Pakar Asosiasi Psikologi Forensik (Apsifor), Prof Koentjoro Soeparno.
Mantan Guru Besar Universitas Gajah Mada (UGM) itu menilai fenomena tersebut terjadi karena ada perubahan sosial imbas kemunculan media sosial.
“Dengan adanya media sosial membuat anak-anak khususnya Gen Z dan Gen Alpha punya dua dunia. Yaitu dunia nyata dan dunia virtual dari internet atau dunia maya. Nah tergantung anak lebih banyak hidup di dunia nyata atau dunia maya,” ucap Koentjoro saat dihubungi Populi.id, Senin (16/2/2026).
Menurutnya, kehadiran media sosial atau teknologi juga membuat orang tua terlena. Sehingga cenderung membiarkan anak larut terpapar konten media sosial.
“Kalau anak semakin dibiarkan, akibatnya dia hidup bukan di dunia nyata tapi di dunia maya. Itu satu dampak dari teknologi,” katanya.
Koentjoro menuturkan, saat ini anak-anak lebih banyak bermain handphone daripada bersosialisasi dengan kawan atau tetangga sebaya.
Akibatnya peran masyarakat dari tri pusat pendidikan (orang tua, masyarakat, dan sekolah) menjadi hilang. Padahal masyarakat berperan mengenalkan norma-norma bermasyarakat dalam hidup bersosialisasi.
“Karena peran masyarakat tidak ada, membuat anak berbicara di dunia nyata semakin tipis. Malah justru hidup dengan dunia khayalannya,” ucapnya.
Dikatakan, media sosial juga memberikan mediasi dalam berbagai variasi, mulai dari konten melankolis, ekstrem, hingga radikalis yang bisa membuat mudah tersinggung atau strees.
Lantas karena orang tua kurang memberi perhatian, akhirnya anak-anak bermain dengan emosinya sendiri yang sudah terkontaminasi paparan konten media sosial.
“Kalau menurut pengamatan saya, anak-anak kan berpikir dengan pola pikir anak. Ketika dia berusaha bunuh diri itu sebenarnya upaya anak mencari perhatian karena mungkin tidak pernah diperhatikan orang tua,” jelasnya.
“Tetapi dunia anak tidak paham kalau bunuh diri itu mati, tidak bisa hidup kembali. Nah mati itu sebetulnya proses validasi, mereka ingin tahu siapa yang menangis. Karena pikiran anak-anak belum terlalu jauh,” imbuhnya.
Menanggapi adanya fenomena tersebut, Koentjoro menyebut jangan pernah meninggalkan anak-anak sendiri. Orang tua harus memantau dan memastikan anak-anak tidak larut dalam dunia media sosial. Orang tua juga diminta aktif memonitori konten media sosial apa saja yang diakses anak-anak.
“Cara monitornya anak disuruh cerita kepada orang tua apa saja yang diikuti di media sosial. Kemudian harus tahu berapa lama anak menggunakan media sosial. Kalau bisa dibatasi penggunaannya,” tutur dia.
Selain itu, orang tua juga harus memberikan pujian kepada anak atas proses belajar dan perkembangannya. Sehingga anak punya kepercayaan diri dan pola pikir positif dalam menghadapi konflik atau tekanan hidup. (populi.id/Dewi Rukmini)











