YOGYAKARTA, POPULI.ID – Di bawah mendung nan menggelayut, suasana pemakaman Selokraman, Kelurahan Purbayan, Kemantren Kotagede, Kota Yogyakarta, DIY, tampak sepi, Kamis (26/2/2026).
Sekilas, area tersebut tak berbeda dengan pemakaman pada umumnya. Tapi, di antara jajaran tempat peristirahatan terakhir tersebut bersemayam satu tokoh spesial yang berperan penting dalam perkembangan agama Islam di tanah air.
Di komplek makam Selokraman itu, terdapat makam tak berkijing tempat beristirahatnya jasad KH As’ad Humam.
Ya, bisa jadi kamu tak asing bukan dengan nama tersebut? Atau kalau masih samar dengan nama itu, coba ingat buku Iqro yang kala kecil kerap kamu baca saat mengikuti kegiatan mengaji sore hari di surau atau masjid.
Di makam yang dipagari batu bata dan batu hias warna terang itulah telah beristirahat KH As’Ad Humam sang pelopor metode membaca Iqra.
Buku Iqra karyanya memuat cara cepat belajar membaca Al-Quran. Berkat buku yang terdiri dari enam jilid itu, jutaan anak hingga orang dewasa di Indonesia bahkan dunia bisa memahami huruf Arab dan pelafalannya, serta mampu membaca Al-Quran.
Meski kontribusi dan warisan yang ditinggalkan KH As’ad Humam sangat besar untuk umat muslim. Namun, tempat peristirahatan terakhirnya tampak sederhana.
Pengelola Makam Selokraman, Tri Kuswoyo (68), mengungkapkan kesederhanaan makam KH As’ad Humam tak lepas dari pribadi Bapak Iqro itu semasa hidup.

“Di kampung sini, beliau itu orang yang paling baik, sosialnya bagus, dan suka membantu orang. Makam beliau paling sederhana berbeda dengan makam sebelah-sebelahnya yang mewah (pakai kijing). Tapi memang keluarganya minta begitu saja,” ujar Kuswoyo kepada Populi.id, Kamis (26/2/2026).
Dikatakan, KH As’ad Humam adalah warga asli Kelurahan Purbayan, Kemantren Kotagede, Kota Yogyakarta. Beliau lahir pada 1933 dan meninggal dunia 2 Februari 1996.
Kuswoyo menyampaikan, semasa hidup KH As’ad Humam aktif membantu masyarakat dan anak-anak untuk belajar membaca Al-Quran. Seringkali anak-anak diberikan hadiah ketika berhasil menyelesaikan pembelajaran, sehingga memacu semangat mereka.
“Sebelum mendirikan TPA (Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Balai Penelitian dan Pengembangan Sistem Pengajaran Baca Tulis Alquran), di dekat rumah beliau ada musala. Jadi anak-anak kecil disuruh mengaji di situ, untuk mengerakkan anak-anak Pak As’ad sering memberikan hadiah-hadiah,” ceritanya.
Yayasan TPA yang dibentuk KH As’ad Humam dikatakan masih beroperasi hingga kini. Bahkan, gang dekat kantor yayasan hingga jalan menuju rumah keluarga KH As’ad Humam diberi nama Gang Iqro oleh pengurus RT setempat.

“Banyak sekali yang berkunjung. Biasanya saat menjelang Ramadan dan musim liburan banyak yang datang untuk kirim doa. Kami sebagai tetangga ya merasa senang dan bangga,” tandasnya. (populi.id/Dewi Rukmini)











