• Tentang Kami
Saturday, March 7, 2026
populi.id
No Result
View All Result
  • Login
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
No Result
View All Result
populi.id
No Result
View All Result
Home headline

Politik di Atas Lapangan Hijau: Menelusuri Jejak Sanksi FIFA terhadap Negara Berkonflik

Ketegangan militer antara negara besar seperti Iran dan Amerika Serikat kerap merembet ke ranah olahraga. FIFA, sebagai otoritas sepak bola dunia, terkadang mengambil langkah tegas terhadap negara anggota yang terlibat konflik atau pelanggaran kemanusiaan.

Gregorius BramantyobyredaksiandGregorius Bramantyo
March 7, 2026
in headline, Sports
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Bendera FIFA.

Bendera FIFA. [Shutterstock]

0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare via WhatsApp

POPULI.ID – Ketegangan militer yang melibatkan negara-negara besar seperti Iran dan Amerika Serikat sering kali membawa perdebatan ke ranah olahraga: sejauh mana otoritas sepak bola dunia, FIFA, akan mengintervensi?

Sejarah mencatat bahwa FIFA tidak jarang menjatuhkan sanksi berat kepada anggotanya yang terlibat dalam konflik atau pelanggaran kemanusiaan, menjadikannya instrumen politik yang kuat di luar urusan teknis pertandingan.

BERITA MENARIK LAINNYA

Profil dan Rekam Jejak Kombes Pol Edy Setyanto, Eks Kapolresta Sleman yang Disanksi Demosi Buntut Kasus Hogi Minaya

Eks Kapolresta Sleman Disanksi Demosi Buntut Kasus Hogi Minaya

Belajar dari Sejarah: Kasus Afrika Selatan dan Yugoslavia

Sanksi paling ikonik dan berdurasi paling lama dalam sejarah sepak bola terjadi di Afrika Selatan (1961–1992). Hal ini dipicu oleh kebijakan Apartheid atau rasisme institusional, di mana federasi sepak bola negara tersebut hanya mau mengirimkan pemain berkulit putih.

Meskipun sempat ada upaya lobi untuk memulihkan status mereka, tragedi Soweto pada tahun 1976 membuat FIFA mengambil langkah tegas dengan mengeluarkan mereka secara resmi hingga runtuhnya sistem Apartheid pada awal 1990-an.

Berbeda dengan Afrika Selatan di mana FIFA mengambil inisiatif sendiri, kasus Yugoslavia (1992) menunjukkan sisi FIFA sebagai pelaksana hukum internasional. Akibat perang saudara dan munculnya Resolusi PBB 757 yang mengembargo Yugoslavia secara total, FIFA terpaksa melarang tim nasional mereka berkompetisi di EURO 1992 dan kualifikasi Piala Dunia 1994. Keputusan ini harus dibayar mahal dengan hilangnya kesempatan bagi generasi emas pemain mereka, seperti Dragan Stojković, untuk bersinar di panggung dunia.

Era Modern: Isolasi Total Rusia

Di masa kini, Rusia (2022–sekarang) menghadapi konsekuensi paling ekstrem akibat invasi mereka ke Ukraina. Kerja sama antara FIFA dan UEFA menghasilkan isolasi menyeluruh yang membuat tim nasional maupun klub-klub Rusia didepak dari berbagai turnamen besar, termasuk babak play-off Piala Dunia 2022.

Sanksi ini tidak hanya bersifat kompetitif tetapi juga ekonomi, seperti pemutusan kontrak sponsor dengan perusahaan raksasa Gazprom. Selain itu, FIFA memperkenalkan regulasi darurat (Annex 7) yang mengizinkan pemain dan pelatih asing di Rusia untuk menangguhkan kontrak mereka secara sepihak demi melindungi karier mereka selama konflik berlangsung.

Meski Presiden FIFA, Gianni Infantino, sempat menyinggung kekhawatiran akan munculnya kebencian akibat pelarangan ini, tekanan dari negara-negara Eropa tetap kokoh untuk mempertahankan sanksi tersebut.

Bagaimana FIFA Mengambil Keputusan?

Menjatuhkan sanksi bukan perkara sederhana; ini adalah perpaduan rumit antara aturan internal dan dinamika global. Secara umum, ada tiga jalur utama yang digunakan FIFA untuk bertindak:

  1. Intervensi Pemerintah: Negara akan dilarang bertanding jika pemerintahnya mencampuri urusan internal federasi sepak bola nasional, seperti yang pernah dialami oleh Indonesia pada tahun 2015.
  2. Keamanan dan Etika: Hak-hak tertentu dapat dicabut jika ada ancaman keselamatan atau pelanggaran hak asasi manusia, contohnya adalah pembatalan status Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 pada 2023.
  3. Kepatuhan Hukum Internasional: FIFA bertindak sebagai perpanjangan tangan dari instruksi badan internasional seperti PBB, sebagaimana terlihat dalam kasus Yugoslavia dan Rusia.

Melalui langkah-langkah ini, FIFA membuktikan bahwa sepak bola tidak pernah benar-benar terpisah dari dinamika politik dan kemanusiaan di dunia nyata.

Tags: FIFAnegara konfliksanksi

Related Posts

Mantan Kapolresta Sleman, Kombes Pol Edy Setyanto Erning Wibowo.

Profil dan Rekam Jejak Kombes Pol Edy Setyanto, Eks Kapolresta Sleman yang Disanksi Demosi Buntut Kasus Hogi Minaya

February 28, 2026
Kapolresta Sleman Kombes Pol Edy Setianto Erning Wibowo (tengah) saat memberikan keterangan kepada awak media terkait proses disposal mortir di Cangkringan, Sleman, Senin (11/8/2025).

Eks Kapolresta Sleman Disanksi Demosi Buntut Kasus Hogi Minaya

February 28, 2026
Kronologi dan Ancaman Sanksi Usai Persib Tersingkir dari ACL 2

Kronologi dan Ancaman Sanksi Usai Persib Tersingkir dari ACL 2

February 20, 2026
Deretan Fakta di Balik Hukuman 20 Laga Sumardji dari FIFA

Deretan Fakta di Balik Hukuman 20 Laga Sumardji dari FIFA

February 14, 2026
Oknum suporter yang menyalakan apar di laga PSS Sleman kontra Barito Putera di Stadion Maguwoharjo akhir pekan lalu yang berujung sanksi dari Komdis PSSI

Kena Sanksi Berat Buntut Insiden APAR, PSS Sleman Seret Oknum Suporter ke Jalur Hukum

February 4, 2026
PSS Sleman menggelar game internal sebagai ajang menjaga kebugaran dan kekompakan tim

Gegara Sanksi, PSS Sleman Bakal Jalani 2 Laga Home Kompetisi Championship Tanpa Penonton

September 11, 2025
Next Post
Ilustrasi media sosial.

Melindungi Generasi Digital, Ini Daftar Negara yang Membatasi Media Sosial bagi Anak

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No Result
View All Result

TERPOPULER

Ilustrasi SMP di Sleman

8 SMP Terbaik di Sleman yang Bisa Jadi Pilihan

June 4, 2025
Kabupaten Bantul memiliki sejumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang menjadi incaran para pendaftar.

10 SMP Favorit di Bantul: Pilihan Terbaik Sekolah Negeri dan Swasta

June 18, 2025
Berikut 10 SMP unggulan di Bantul yang bisa dijadikan acuan sebelum mendaftar SPBM 2025.

Inilah 7 SMP Unggulan di Bantul yang Paling Diburu Jelang SPMB 2025

June 9, 2025
ilustrasi : Sekolah Dasar

10 SD Favorit di Bantul dengan Akreditasi A, Layak Jadi Pilihan!

June 12, 2025
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo.

Penetapan UMK dan UMP DIY 2026 Berpotensi Mundur, Wali Kota Yogyakarta Berharap Ada Kenaikan

December 12, 2025

Subscribe

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Copyright ©2025 | populi.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO

Copyright ©2025. populi.id - All Right Reserved.