YOGYAKARTA, POPULI.ID – Kondisi tribun Stadion Sultan Agung (SSA), Bantul yang belakangan tampak melompong bukan sekadar pemandangan mata yang sunyi. Bagi manajemen PSIM Yogyakarta, setiap kursi kosong adalah beban finansial yang kian menghimpit. Laskar Mataram kini berada dalam situasi sulit di mana pemasukan tiket tak lagi mampu menutup biaya operasional.
Berikut adalah deretan fakta yang merangkum krisis finansial di balik sepinya laga kandang PSIM:
1. Rekor Terendah Sepanjang Musim
Puncak kelesuan antusiasme penonton terjadi saat PSIM menjamu PSM Makassar pada Jumat, 10 April 2026. Laga tersebut mencatatkan rekor jumlah penonton kandang terendah sepanjang kompetisi Super League 2025/2026. Dari kuota 7.500 kursi yang disediakan panitia pelaksana (panpel), hanya 1.862 penonton yang hadir memberikan dukungan langsung. Angka ini sangat kontras mengingat kapasitas yang diberikan sudah disesuaikan dengan izin keamanan.
2. Putaran Pertama yang Sempat Menjanjikan
Kondisi saat ini berbanding terbalik dengan dinamika di awal musim. Sepanjang putaran pertama, PSIM sebenarnya mencatatkan total kehadiran 49.687 penonton. Jika dirata-rata dari laga yang dilalui, jumlah kehadiran mencapai sekitar 5.520 penonton per pertandingan.
Antusiasme tertinggi sempat dirasakan saat menjamu tim raksasa, seperti:
• Persib Bandung: 8.725 penonton.
• Arema FC: 8.618 penonton.
• Borneo FC: 8.068 penonton.
Namun, memasuki paruh kedua musim, angka tersebut merosot tajam hingga menyentuh titik terendah di bawah 2.000 orang.
3. Tekor untuk Biaya Operasional dan Perizinan
Anjloknya jumlah penonton berdampak langsung pada napas finansial klub. Direktur Utama PSIM Yogyakarta, Yuliana Tasno, secara blak-blakan mengakui bahwa pendapatan dari tiket saat ini bahkan tidak cukup untuk membayar panitia pelaksana.
“Pastilah impact banget. Buat biaya panpel saja tidak nutup karena perizinan juga mahal,” ungkap sosok yang akrab disapa Liana tersebut.
Ia juga menegaskan bahwa beban pembiayaan di kasta tertinggi sangatlah berat.
“Kalau semuanya dilempar ke manajemen, itu berat sekali. Saya sendiri juga tidak kuat kalau harus menanggung sendiri,” tambahnya.
4. Lonjakan Budget di Kasta Tertinggi
Transisi PSIM dari Liga 2 ke Super League membawa konsekuensi biaya yang sangat besar. Manajer PSIM, Razzi Taruna, mengakui bahwa kebutuhan anggaran melonjak signifikan setelah 18 tahun mereka berjuang di kasta kedua.
“Kalau ditanya berpengaruh, jujur saja iya. Kita di Liga 2 sudah 18 tahun, budget kita di Liga 1 ini bertambah. Jadi dengan liga yang lebih kompetitif… kita ingin generate revenue yang lebih banyak,” kata Razzi.
Faktor geografis seperti lokasi SSA yang jauh dari pusat Kota Yogyakarta serta jadwal pertandingan sore hari pada hari kerja diakui menjadi penghambat suporter untuk datang. Razzi berharap suporter tetap menyempatkan diri untuk menyaksikan laga Laskar Mataram.
“Saya paham situasi di SSA dan main sore. Tapi saya juga berharap teman-teman suporter kalau memang ada waktunya bisa datang membantu PSIM,” katanya.
5. Harapan Besar di Laga Kontra Persija Jakarta
Kini, manajemen menaruh harapan besar pada laga kandang melawan Persija Jakarta yang akan digelar pada Rabu, 22 April 2026. Pertandingan ini mendapatkan perhatian khusus karena hubungan sejarah dan komunikasi yang baik antara kedua kelompok suporter.
Ketua Panpel PSIM, Wendy Umar Seno Aji, berharap momentum melawan tim besar dengan basis massa kuat seperti Persija bisa kembali memadati stadion. Kehadiran penonton dalam jumlah besar bukan lagi sekadar dukungan moral, melainkan “pelampung penyelamat” bagi finansial Laskar Mataram agar tetap bisa berkompetisi dengan stabil di kasta tertinggi.











