SLEMAN, POPULI.ID — Produksi susu sapi perah di Kabupaten Sleman masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan populasi hingga ancaman penyakit. Di tengah berbagai tantangan, mulai dari kondisi geografis, penyakit ternak, hingga regenerasi peternak, Koperasi Susu Merapi Sejahtera (Samesta) menjadi penggerak utama penguatan sektor ini sekaligus mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Koperasi Samesta yang berdiri sejak 2016 kini menaungi sekitar 200 peternak sapi perah di kawasan lereng Merapi, seperti Cangkringan, Pakem, dan Turi. Para peternak tergabung untuk mempermudah akses pemasaran, pembinaan, hingga kemitraan dengan industri pengolahan susu.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman, Rofiq Andriyanto, menjelaskan bahwa sapi perah membutuhkan kondisi lingkungan tertentu agar dapat berproduksi optimal. Sapi perah yang berasal dari wilayah subtropis membutuhkan suhu dingin, sehingga pengembangannya diarahkan di dataran tinggi seperti lereng Merapi.
Ia menuturkan, produksi susu juga berkaitan erat dengan siklus reproduksi sapi. Indukan sapi harus dalam kondisi bunting agar dapat menghasilkan susu, sehingga peternakan tidak hanya berorientasi produksi, tetapi juga keberlanjutan populasi.
“Sapi perah indukannya harus bunting agar keluar susunya. Jadi diarahkan untuk produksi sekaligus melahirkan anak,” jelasnya.
Proses pemerahan dilakukan secara rutin dua kali sehari, pagi dan sore. Pemerahan umumnya dilakukan pada pukul 05.00 hingga 07.00 pagi, dengan prosedur kebersihan yang ketat. Sebelum pemerahan, kandang harus dibersihkan untuk menjaga higienitas, bahkan sejumlah kelompok peternak telah menggunakan alat perah otomatis.
Dalam kondisi optimal, satu ekor sapi mampu menghasilkan sekitar 4,5 hingga 5 liter susu per hari. Namun produktivitas tersebut sangat dipengaruhi oleh kebersihan kandang, kualitas pakan, dan kesehatan ternak.
Ancaman penyakit mulut dan kuku (PMK) menjadi salah satu faktor yang dapat menurunkan produksi secara signifikan. Jika terpapar PMK, produksi susu dapat turun hingga 50 persen, yang berdampak langsung pada pendapatan peternak. Untuk itu, pemerintah memprioritaskan vaksinasi PMK bagi sapi perah, dengan pemberian vaksin secara berkala setiap enam bulan dan tanpa biaya.
“Kalau kena PMK, produktivitas bisa turun sampai 50 persen. Peternak tentu rugi. Kami prioritaskan vaksinasi untuk sapi perah. Pengecekan dan vaksin diulang setiap enam bulan, dan itu gratis dari pemerintah,” kata Rofiq.
Selain itu, pengawasan kesehatan ternak juga menjadi perhatian, termasuk memastikan pakan yang diberikan memenuhi standar food grade. Pemerintah turut mendorong inovasi pakan, salah satunya melalui pengenalan rumput varietas baru seperti gama umami yang memiliki kandungan protein tinggi, meski pakan utama tetap berupa hijauan.
Rofiq menyebut populasi sapi perah di Sleman hingga akhir 2025 mencapai sekitar 2.755 ekor. Jumlah tersebut dinilai masih belum mencukupi kebutuhan susu masyarakat, mengingat pengembangannya terbatas di wilayah dataran tinggi.
Di sisi lain, Sleman juga menghadapi risiko bencana erupsi Gunung Merapi. Namun pemerintah daerah telah memiliki sistem mitigasi yang matang. Ketika status Merapi meningkat, sapi-sapi akan segera diungsikan ke lokasi penampungan sementara di wilayah bawah.
“Kalau status Merapi naik, sapi langsung diungsikan. Kami sudah punya manajemen mitigasi, ada tempat penampungan sementara, ketersediaan pakan, air, hingga dokter hewan. Ini bahkan diapresiasi pemerintah pusat dan FAO (Food and Agriculture Organization),” ungkap Rofiq.
Meski demikian, persoalan regenerasi peternak masih menjadi tantangan. Pemerintah telah menyediakan sarana prasarana seperti kandang kelompok, namun minat generasi muda untuk terjun ke sektor ini masih perlu terus didorong.
Dukungan juga datang dari pemerintah kalurahan, yang menyediakan lahan kas desa untuk pengembangan pakan ternak. Di kawasan lereng Merapi, ketersediaan rumput relatif terjaga bahkan saat musim kemarau, berbeda dengan wilayah Sleman bagian bawah yang kerap mengalami kesulitan pakan.
“Beberapa tanah kas desa bisa digunakan untuk pengembangan rumput. Di lereng Merapi relatif aman, beda dengan wilayah bawah saat kemarau,” ujar Rofiq.
Wakil Ketua DPRD Sleman, Hasto Karyantoro, menegaskan bahwa keberadaan koperasi menjadi kunci dalam penguatan peternak sapi perah. Menurutnya, peternak harus menjadi anggota koperasi untuk mendapatkan akses pembiayaan, termasuk kredit indukan sapi yang sudah bunting, peralatan peternakan, hingga kebutuhan pendukung seperti alas kandang.
Sistem pembayaran kredit di koperasi dinilai memudahkan karena dilakukan melalui pemotongan hasil setoran susu harian. Dengan demikian, peternak tidak perlu mengeluarkan uang tunai, dan pembayaran dilakukan secara bertahap berdasarkan produksi susu.
“Pembayarannya dipotong dari setoran susu harian. Jadi tidak perlu merogoh uang,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa sapi perah mulai bunting pertama pada usia sekitar 18 bulan dan memasuki masa produksi optimal setelah dua tahun. Karena itu, perawatan yang konsisten sangat penting, termasuk menjaga jadwal pemerahan yang tidak boleh terlewat karena dapat menyebabkan stres pada sapi.
“Sapi harus diperah setiap hari. Kalau tidak, dia bisa stres. Jadwalnya sudah bagus, pagi dan sore,” katanya.
Hasto menambahkan, wilayah Sleman menjadi satu-satunya daerah di DIY yang memiliki koperasi sapi perah, sejalan dengan budaya beternak yang telah lama berkembang di kawasan lereng Merapi-Merbabu. Termasuk di wilayah Klaten bagian atas, Boyolali, dan Salatiga yang dikenal sebagai sentra susu.
Untuk mendorong regenerasi, koperasi juga rutin menggelar kompetisi tahunan bagi peternak muda di bawah usia 40 tahun. Program ini menjadi bagian dari upaya melahirkan peternak milenial, sejalan dengan konsep petani dan peternak muda yang dikembangkan pemerintah daerah.
“Di koperasi ini ada kegiatan setahun sekali yaitu championship untuk peternak muda. Jadi semacam kompetisi untuk peternak muda di bawah 40 tahun, biar muncul genrasi peternak baru. Sebenarnya ini konsep umum di Sleman, seperti petani milenial, terus ini ada peternak milenial,” tutur Hasto.
Dari sisi kebijakan, DPRD bersama pemerintah daerah memberikan dukungan melalui perlindungan, pembinaan, serta alokasi anggaran. Pembinaan mencakup pelatihan, peningkatan keterampilan, hingga penguatan kelembagaan koperasi, termasuk memastikan rapat anggota tahunan berjalan dengan baik.
Peternak juga berpotensi mendapatkan tambahan pendapatan melalui bonus dari industri pengolahan susu. Bonus tersebut diberikan di akhir bulan dan dikembalikan kepada peternak dalam bentuk insentif per liter susu yang disetorkan.
Ketua Koperasi Samesta, Ruslan, menekankan pentingnya menjaga kualitas susu sejak awal pemerahan. Ia menjelaskan bahwa susu harus segera didinginkan maksimal dalam waktu dua jam setelah diperah untuk mencegah pertumbuhan bakteri yang dapat merusak kualitas.
“Setelah diperah, maksimal dua jam harus masuk mesin pendingin. Kalau tidak, bakteri berkembang dan susu bisa rusak. Rasanya asam, tidak layak konsumsi,” jelasnya.
Setelah melalui proses pendinginan, susu hanya dapat bertahan maksimal dua hari sebelum dikirim ke industri pengolahan. Koperasi Samesta sendiri melakukan pengiriman hingga empat kali dalam seminggu, termasuk ke PT Sari Husada untuk diolah menjadi susu bubuk formula.
Selain memasok industri, koperasi juga melayani pasar ritel di wilayah Sleman dan mengembangkan produk olahan seperti keju. Bahkan, Samesta memiliki unit eduwisata yang membuka kesempatan bagi pelajar dan mahasiswa untuk belajar tentang peternakan sapi perah, dengan biaya kunjungan yang terjangkau.
Dalam mendukung kebutuhan pakan, koperasi menyediakan konsentrat bagi anggota dan mengembangkan teknologi silase, yaitu hijauan yang diawetkan menggunakan mesin. Bahan baku yang digunakan antara lain tebon jagung berumur sekitar 70 hari yang mengandung glukosa dan dinilai mampu meningkatkan kualitas susu. Proses pembuatan silase memakan waktu sekitar dua minggu sebelum siap digunakan.
Ruslan juga menyatakan kesiapan koperasi dalam mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG). Samesta telah memiliki rumah produksi pasteurisasi dan menjalin komunikasi dengan sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Kami siap mendukung program MBG. Kami sudah punya rumah produksi pasteurisasi dan sudah komunikasi dengan beberapa SPPG,” ungkap Ruslan.
Namun ia mengingatkan, kapasitas produksi susu di Sleman masih terbatas.
“Kalau hanya mengandalkan Sleman, bisa kewalahan karena produksi susu masih kurang,” ujarnya.
Untuk program tersebut, susu akan disalurkan dalam kemasan siap minum berukuran 125 mililiter sesuai arahan Badan Gizi Nasional (BGN).
Di sisi lain, pemerintah daerah juga menjalankan program kampanye minum susu yang menyasar anak-anak TK dan SD. Ketua Tim Kerja Bina Produksi Peternakan DP3 Sleman, Sri Haryatini, menjelaskan bahwa sekolah dapat mengajukan proposal untuk mengikuti program tersebut.
“Sasarannya anak TK dan SD. Sekolah bisa mengajukan proposal, dan tahun berikutnya kami fasilitasi. Susu yang digunakan adalah susu pasteurisasi produksi peternak Sleman,” bebernya.
Program ini menggunakan susu pasteurisasi yang diproduksi oleh peternak lokal Sleman, sehingga tidak hanya meningkatkan konsumsi susu di kalangan anak-anak, tetapi juga memperkuat pasar bagi peternak setempat.












