SLEMAN, POPULI.ID – Pemerintah Kabupaten Sleman belum mengambil langkah final terkait penanganan fenomena kebakaran misterius yang terjadi di rumah warga Padukuhan Kasuran, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan. Keputusan lanjutan akan ditentukan setelah hasil kajian para ahli selesai dirumuskan.
Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Bambang Kuntoro, mengatakan saat ini pemerintah daerah masih fokus mendampingi keluarga terdampak sembari menunggu rekomendasi dari tim peneliti yang tengah melakukan investigasi di lokasi kejadian.
“Langkah yang akan diambil pemerintah harus berdasarkan kajian yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu kami tidak ingin terburu-buru dalam mengambil keputusan,” ujar Bambang, Kamis (4/6/2026).
Ia menjelaskan sejumlah opsi masih menjadi pertimbangan, termasuk kemungkinan relokasi sementara atau pengosongan area terdampak. Namun, seluruh kebijakan akan mengacu pada hasil penelitian yang dilakukan para pakar.
“Apakah nantinya perlu dilakukan pengungsian atau pengosongan lokasi, semuanya masih menunggu hasil kajian. Kami ingin memastikan keputusan yang diambil benar-benar yang terbaik bagi warga,” katanya.
Menurut Bambang, tim peneliti yang terdiri dari Universitas Gadjah Mada (UGM), UPN Veteran Yogyakarta, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), BPPTKG, serta unsur terkait lainnya dijadwalkan menyampaikan hasil temuan sementara dalam pertemuan di Kapanewon Seyegan.
Hasil penelitian tersebut nantinya akan menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam menentukan langkah penanganan, termasuk kemungkinan menetapkan status tanggap darurat apabila kondisi dinilai memenuhi kriteria.
“Hasil kajian dari berbagai lembaga itu akan kami formulasikan sebagai dasar pengambilan kebijakan. Dari situ akan terlihat apakah perlu ada penetapan status tanggap darurat atau langkah lainnya,” jelasnya.
Selain fokus pada aspek mitigasi bencana, pemerintah juga akan mempertimbangkan berbagai rekomendasi ilmiah terkait fenomena yang terjadi, termasuk apabila terdapat potensi sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan secara aman oleh masyarakat.
Di tengah proses penelitian yang masih berlangsung, pemilik rumah, Muftiana, mengaku berharap segera ada kepastian mengenai penyebab kemunculan api yang telah berulang kali terjadi di kediamannya.
“Saya berharap hasil penelitian bisa segera diketahui. Selama ini kami hanya bisa berjaga karena api masih muncul sewaktu-waktu dan membuat keluarga tidak tenang,” ungkapnya.
Ia mengatakan kondisi tersebut membuat dirinya bersama anggota keluarga harus bergantian mengawasi rumah sepanjang hari. Rasa khawatir masih terus menghantui karena kemunculan api belum dapat diprediksi.
“Kalau malam kami bergantian berjaga. Kami ingin ada solusi yang benar-benar bisa menghentikan kejadian ini supaya keluarga bisa kembali hidup normal,” katanya.
Berdasarkan data BPBD Sleman, jumlah kemunculan api di rumah tersebut telah mencapai lebih dari 90 kejadian sejak pertama kali dilaporkan pada 23 Mei 2026. Peristiwa itu telah mengakibatkan kerusakan pada sejumlah barang rumah tangga dan menimbulkan kerugian yang ditaksir mencapai puluhan juta rupiah. (populi.id/Hadid Pangestu)










![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)

