SLEMAN, POPULI.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman memastikan fenomena kebakaran berulang yang terjadi secara misterius di sebuah rumah di Padukuhan Kasuran, Kapanewon Seyegan, tidak disebabkan oleh faktor alam.
Kesimpulan tersebut diperoleh setelah dilakukan serangkaian penelitian oleh tim akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan UPN Veteran Yogyakarta. Hasil penelitian secara konsisten menunjukkan tidak ditemukan keterkaitan antara kondisi alam maupun temuan di lokasi dengan kemunculan api yang berulang.
Kepala BPBD Sleman, Bambang Kuntoro, mengatakan hasil kajian tersebut menjadi dasar bagi pihaknya untuk menyerahkan penanganan kasus kepada kepolisian guna mengungkap penyebab pasti munculnya api.
“Fenomena alam itu tidak menimbulkan api yang muncul di situ. Sehingga tadi kami sampaikan bahwa untuk selanjutnya, terkait apa penyebabnya, kami serahkan kepada kepolisian untuk penyelidikan lebih lanjut,” kata Bambang, Senin (15/6/2026).
Menurut Bambang, sejak pertama kali terjadi pada 23 Juni lalu, api misterius tersebut tercatat telah muncul sebanyak 126 kali. Meski demikian, dalam dua hari terakhir tidak ditemukan lagi kemunculan api.
“Hari terakhir terbakar adalah malam Sabtu, muncul sekali. Setelah malam Jumat saat ada kegiatan yasinan di sana, itu yang terakhir,” ujarnya.
BPBD Sleman hingga kini belum melakukan perhitungan resmi terkait total kerugian akibat kebakaran yang menimpa rumah milik Mutfiana tersebut. Namun berdasarkan informasi sementara, nilai kerugian diperkirakan mencapai Rp45 juta.
Untuk mengantisipasi kejadian lanjutan sekaligus mengamankan aset yang masih tersisa, BPBD sebelumnya telah memasang kamera pengawas (CCTV) di sekitar lokasi.
“Ada aset di sana seperti lemari es, tabung gas, dan tabung melon. Kami tidak tahu karena banyak orang yang masuk ke lokasi. Pemasangan CCTV juga sebagai bukti pendukung. Jika hasil rekamannya dibutuhkan oleh kepolisian, kami siap memberikan,” jelas Bambang.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Sleman AKP Matheus Wiwit Kustiyadi mengatakan pihaknya sejak awal telah melakukan pendampingan terhadap proses penelitian yang dilakukan oleh akademisi maupun Pemerintah Kabupaten Sleman.
Polisi juga mengikuti berbagai forum pembahasan terkait hasil penelitian dan temuan di lapangan. Seluruh hasil tersebut akan dikoordinasikan dengan pimpinan sebagai dasar menentukan langkah selanjutnya.
“Apakah nantinya ada unsur pidana atau tidak, kami akan melakukan penyelidikan lebih lanjut dengan melibatkan ahli maupun dinas terkait,” ujar Wiwit.
Ia menambahkan, berbagai data dan temuan yang diperoleh dari para ahli maupun BPBD akan dikaji untuk menentukan apakah dapat menjadi alat bukti yang mengarah pada proses hukum.
“Terkait alat bukti, ada beberapa bahan dari ahli maupun rekan-rekan BPBD. Nanti akan kami kaji apakah dapat menjadi alat bukti dan berkembang menjadi tindakan hukum atau tidak,” imbuhnya.
Wiwit juga menilai pemasangan CCTV di lokasi merupakan langkah yang tepat untuk membantu mengungkap sumber munculnya api.
“Selain untuk mengetahui sumber api yang sebenarnya, pemasangan CCTV juga bertujuan menjaga keamanan lingkungan. Untuk kepentingan penelitian juga, apakah ada hal lain di luar fenomena yang selama ini diteliti. Semua itu akan kami kumpulkan sehingga nantinya didapatkan fakta yang utuh,” pungkasnya. (populi.id/Hadid Pangestu)









![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)

