KULON PROGO, POPULI.ID – Kasus dugaan keracunan massal yang melibatkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, terus meluas. Hingga Rabu (22/7/2026), Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat mencatat sebanyak 105 orang mengalami gejala gangguan kesehatan usai mengonsumsi hidangan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangwuni.
Peristiwa ini menjadi perhatian serius karena korban tidak hanya berasal dari kalangan pelajar, tetapi juga menyentuh kelompok rentan. Para korban terdiri atas 98 siswa, empat tenaga pendidik, satu ibu hamil, dan dua ibu menyusui. Sebaran kasus ditemukan di beberapa lokasi, antara lain SMP Negeri 3 Wates, SD Negeri Darat, SD Negeri Sogan, MI Ma’arif, serta dua posyandu di wilayah Karangwuni.
Kepala Dinas Kesehatan Kulon Progo, RR Susilaningsih, mengungkapkan bahwa mayoritas korban mengeluhkan gejala serupa, yakni nyeri perut, diare, serta mual, pusing, dan muntah. Meski demikian, ia memastikan kondisi para korban, termasuk ibu hamil yang terdampak, saat ini dalam keadaan stabil.
“Sampai saat ini kondisinya masih stabil. Ibu hamilnya sudah memasuki usia kehamilan sekitar tujuh bulan, sehingga muntah-muntahnya tidak sampai menyebabkan dehidrasi. Berdasarkan laporan di lapangan, tidak ada yang memerlukan penambahan cairan intravena atau infus,” ujar Susilaningsih pada Rabu (22/7/2026).
Celah Pengolahan: Jeda Waktu 10 Jam dan Higienitas
Hasil investigasi awal Dinkes Kulon Progo mengungkap sejumlah faktor risiko krusial dalam proses penyediaan makanan di SPPG Karangwuni. Salah satu temuan paling menonjol adalah lamanya jeda waktu antara proses memasak hingga makanan dikonsumsi oleh para penerima manfaat.
Diketahui, proses memasak ayam dengan menu saus barbeque dimulai sekitar pukul 02.00 WIB dini hari, namun makanan tersebut baru dikonsumsi pada pukul 08.00 hingga 10.00 WIB. Jeda waktu 8 hingga 10 jam ini dinilai sangat berisiko karena makanan berada terlalu lama dalam “zona bahaya” suhu yang memicu pertumbuhan bakteri.
Selain faktor waktu, masalah higienitas juga menjadi sorotan. Berdasarkan rekaman CCTV, ditemukan petugas penjamah makanan yang tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) secara lengkap saat proses pengolahan dan penyimpanan. Petugas juga menemukan adanya ketidaksesuaian pada pemantauan suhu penyimpanan serta proses pencucian peralatan masak yang diduga belum optimal.
“Proses pemasakan beberapa tahap juga berisiko terjadi kontaminasi silang kalau higiene dari penjamah makanan kurang bagus,” tegas Susilaningsih.
Operasional Dapur Dihentikan Sementara
Menanggapi insiden ini, Pemerintah Daerah DIY dan Badan Gizi Nasional (BGN) bergerak cepat dengan menghentikan sementara operasional SPPG Karangwuni hingga proses investigasi dan pemeriksaan laboratorium selesai sepenuhnya. Langkah ini diambil sebagai prosedur standar keamanan pangan guna mencegah jatuhnya korban tambahan.
Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, menyatakan bahwa evaluasi total akan dilakukan mencakup seluruh rantai produksi, mulai dari bahan baku hingga distribusi.
“Semuanya dilihat dulu baru kemudian aman ya baru jalan lagi,” katanya.
Hingga saat ini, penyebab pasti keracunan masih menunggu hasil resmi pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan, sisa bahan baku, serta sampel muntahan dan tinja para korban.







![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)



