SLEMAN, POPULI.ID – Jumlah siswa yang mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kapanewon Turi, Sleman, bertambah menjadi 69 orang. Panewu Anom Turi Mohammad Yunan mengatakan, jumlah tersebut masih dapat bertambah karena laporan dari sekolah maupun masyarakat masih terus dipantau.
“Masih kami monitor, masih ada terus laporan terdampak. Sementara 69 siswa,” kata Yunan saat dikonfirmasi, Selasa (8/9/2026).
Yunan merinci, 69 siswa tersebut berasal dari tiga sekolah. Sebanyak 23 siswa berasal dari SMK Muhammadiyah 1 Turi, 27 siswa dari SMP Negeri 3 Turi, dan sembilan siswa dari SD Muhammadiyah Balerante.
Pemerintah Kapanewon Turi terus berkoordinasi dengan Puskesmas Turi untuk memastikan penanganan terhadap para siswa yang mengalami keluhan kesehatan. Apabila kondisi korban membutuhkan penanganan lebih lanjut, siswa akan dirujuk ke RSUD Sleman.
Yunan juga meminta orang tua tidak panik dan tetap memantau kondisi kesehatan anak masing-masing. Menurut dia, berdasarkan koordinasi dengan Dinas Kesehatan, reaksi akibat dugaan keracunan tidak selalu muncul pada hari yang sama setelah makanan dikonsumsi.
“Reaksi kalau keracunan tidak harus hari ini. Tetap dipantau dan dijaga anaknya bagaimana tetap sehat. Kalau ada gejala, dilarikan ke fasyankes terdekat,” jelasnya.
Terkait biaya pengobatan, Yunan memastikan pembiayaan bagi siswa yang terdampak dugaan gejala keracunan MBG akan ditanggung oleh pihak SPPG dan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Kualitas Makanan
Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) Sleman Budi Black, Senin (7/9/2026) mengatakan, kualitas makanan dalam program makan bergizi gratis (MBG) harus jadi prioritas utama. Selain itu, aspek keamanan, proses pengolahan, distribusi hingga pengawasan harus dilakukan dengan baik. Budi menyayangkan dan turut prihatin atas dugaan kasus keracunan makanan yang dialami puluhan siswa di Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman tersebut.
Menurut Budi, kejadian tersebut harus menjadi perhatian serius bagi semua pihak, mengingat program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyangkut kesehatan dan keselamatan anak-anak sebagai penerima manfaat. Ia meminta pemerintah dan seluruh pihak yang terlibat untuk mengkaji ulang secara menyeluruh pelaksanaan dan mekanisme pengawasan program MBG, khususnya di wilayah Sleman. Evaluasi perlu dilakukan secara terbuka agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
“Kami meminta semua pihak untuk tidak saling menyalahkan, tetapi segera melakukan evaluasi dan kajian menyeluruh. Mulai dari bahan baku, proses memasak, standar kebersihan, pengemasan, distribusi, hingga makanan diterima dan dikonsumsi oleh siswa harus dipastikan memenuhi standar keamanan pangan,” tegasnya.
GPM Sleman juga mendorong agar penanganan terhadap siswa yang terdampak menjadi prioritas, termasuk memastikan mereka mendapatkan pemeriksaan dan pelayanan kesehatan yang optimal. “Keselamatan dan kesehatan anak-anak harus menjadi yang utama. Jangan sampai program yang bertujuan memberikan gizi dan kebaikan justru menimbulkan persoalan kesehatan. Kami berharap kejadian ini menjadi momentum untuk memperkuat pengawasan dan memperbaiki sistem pelaksanaan (Hadid Pangestu)







![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)



