SLEMAN, POPULI.ID — Pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menjaga peninggalan masa lalu. Di Sleman, upaya tersebut mulai diarahkan lebih jauh dengan menyiapkan generasi penerus sejak usia sekolah.
Semangat itu ditandai dengan diluncurkannya Sekolah Pedalangan Anak Sembada (SEPADAN) dalam rangkaian peringatan 14 tahun Undang-Undang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (UU Keistimewaan DIY) di Taman Budaya Lohjinawi, Kalurahan Sinduharjo, Kapanewon Ngaglik, Sleman, Rabu (9/9/2026).
Program SEPADAN menjadi salah satu langkah Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) untuk mengenalkan seni pedalangan kepada anak-anak, khususnya siswa sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama.
Peluncuran tersebut bukan sekadar menghadirkan program kebudayaan baru. Lebih dari itu, SEPADAN diarahkan menjadi ruang belajar sekaligus ruang regenerasi agar seni pedalangan tetap memiliki penerus di tengah perkembangan zaman.
Plt Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Sleman, Wildan Solichin, yang hadir mewakili Bupati Sleman, mengatakan peringatan UU Keistimewaan DIY seharusnya tidak berhenti pada seremoni maupun pengingat lahirnya sebuah regulasi.
Menurutnya, keistimewaan Yogyakarta juga hidup melalui tata nilai, tradisi, bahasa, kesenian, dan berbagai warisan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Salah satu warisan budaya tersebut adalah wayang kulit.
“Wayang bukan sekadar tontonan, wayang adalah tuntunan,” ujar Wildan.
Ia menjelaskan, cerita pewayangan menyimpan berbagai nilai kehidupan, mulai dari kepemimpinan, keberanian, kesetiaan, tanggung jawab, pengendalian diri hingga perjuangan membedakan kebenaran dan kebatilan.
Karena itu, menjaga wayang bukan hanya mempertahankan sebuah pertunjukan seni, tetapi juga menjaga nilai kehidupan dan jati diri kebudayaan.
SEPADAN Jadi Ruang Tumbuh Anak
Wildan mengapresiasi peluncuran SEPADAN sebagai langkah konkret mengenalkan wayang dan seni pedalangan sejak usia dini.
Menurutnya, pendidikan pedalangan dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan kecintaan anak terhadap budaya sekaligus membangun karakter.
SEPADAN juga diharapkan membuka ruang bagi lahirnya generasi baru pelaku seni pedalangan.
“SEPADAN merupakan langkah nyata Pemerintah Kabupaten Sleman dalam mengenalkan wayang dan seni pedalangan sejak usia dini, membangun kecintaan anak-anak terhadap budaya, membangun karakter, sekaligus membuka ruang bagi lahirnya generasi baru pelaku seni pedalangan,” jelasnya.
Ia berharap SEPADAN tidak berhenti sebagai sebuah program, tetapi berkembang menjadi ruang belajar, ruang regenerasi, sekaligus ruang tumbuh bagi anak-anak Sleman untuk mengenal dan mencintai kebudayaannya.
“Investasi” di bidang kebudayaan, lanjutnya, merupakan investasi jangka panjang untuk memperkuat ekosistem kebudayaan di Kabupaten Sleman.
Pengenalan seni sejak usia sekolah diharapkan menjadi fondasi agar pedalangan tidak kehilangan generasi penerus pada masa mendatang.
Pengampu kegiatan, Esti, menjelaskan SEPADAN memang dirancang untuk memperkenalkan seni pedalangan kepada anak-anak sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama.
Namun, tujuan program tersebut tidak semata-mata mencetak dalang atau seniman muda.
Anak-anak juga diajak memahami nilai-nilai yang terkandung dalam cerita dan karakter pewayangan, sehingga dapat mengambil pelajaran yang relevan dengan kehidupan sehari-hari.
Dalang Remaja Tunjukkan Wayang Masih Punya Masa Depan
Pesan regenerasi budaya semakin kuat ketika panggung Taman Budaya Lohjinawi kemudian diisi pementasan wayang kulit oleh dalang remaja, Davin Mahatma.
Kehadiran Davin menjadi gambaran bahwa seni pedalangan masih memiliki ruang di kalangan generasi muda.
Penampilan dalang remaja tersebut sekaligus menjadi contoh nyata bahwa regenerasi tidak berhenti pada wacana. Anak-anak dan remaja dapat mengambil peran dalam meneruskan tradisi pewayangan.
Dari panggung tersebut, seni pedalangan tidak hanya diperkenalkan sebagai warisan masa lalu, tetapi juga ditampilkan sebagai kebudayaan yang masih dapat hidup dan berkembang bersama generasi sekarang.
Dari Pedalangan hingga Kebaya
Rangkaian peringatan 14 tahun UU Keistimewaan DIY tersebut juga diisi dengan Fashion Show Kebaya untuk Remaja dan Dewasa.
Peserta menampilkan Gagrak Ngayogyakarta sekaligus kreasi kebaya funky yang lebih modern. Perpaduan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan kreativitas.
Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Sleman, Ani Martanti, mengapresiasi kegiatan tersebut dan menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga budaya.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak semestinya hanya menjadi tugas pemerintah, tetapi membutuhkan partisipasi masyarakat secara luas.
Sementara itu, salah satu peserta fashion show, Gitri dari UMKM Sukoharjo, Sleman, mengatakan ketertarikannya terhadap budaya Jawa menjadi alasan mengikuti kegiatan tersebut.
Baginya, mengenakan busana tradisional bukan sekadar mengikuti perlombaan, tetapi menjadi bentuk nyata ikut menjaga budaya Jawa.
Selain kegiatan kebudayaan, rangkaian acara juga diisi dengan penyerahan 20 paket bantuan sosial dari Baznas Kabupaten Sleman kepada masyarakat penerima bantuan.
Peringatan 14 tahun UU Keistimewaan DIY di Sleman akhirnya tidak hanya menjadi momentum mengenang perjalanan keistimewaan. Melalui SEPADAN, wayang, dalang remaja, dan kebaya, pesan yang dibangun adalah bahwa keistimewaan akan tetap hidup apabila budaya terus dikenalkan, dipraktikkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. *







![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)



