YOGYAKARTA, POPULI.ID – Program gotong-royong bedah rumah Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta kali ini menyasar rumah milik seorang juru kunci makam asal Sanggrahan, Semaki, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Minggu (23/11/2025).
Sarwoko (72), pria yang hidup sebatang kara itu setiap hari memiliki kesibukan. Meskipun bekerja bersama kesunyian di tengah Makam Sunyaragi, ia tampak ikhlas menjalani aktivitasnya sehari-hari.
“Kadang sehari sekali, kadang dua hari sekali. Paling sibuk kalau ada orang yang meninggal,” katanya saat diwawancarai usai Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo meninjau rumahnya.
Dengan kondisi serba kekurangan, ia masih bersyukur atas kesehatan yang diberikan sang pencipta.
Pria yang terkenal aktif di dalam kegiatan kampungnya ini setiap hari harus menempati rumahnya di bawah bayang-bayang reruntuhan.
“Blandar buri ngajeng, usuke nggeh pun gropoh (keropos),” katanya saat diwawancarai. Bahkan nampak tak ada sekat antara kamar tidur dan ruang tamu.
Tak banyak yang bisa ia ungkapkan, barangkali hal tersebut menjadi kendala bagaimana Sarwoko tidak ingin banyak merepotkan orang di sekitarnya.
Pagi itu, Sarwoko merasa senang atas kepedulian dari pemerintah. Rumahnya yang sudah tak sanggup lagi akan digarap hingga 2 minggu ke depan.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo hadir menjadi pelengkap kegembiraan bagi Sarwoko. Bagaimana tidak, orang nomor 1 di Kota Yogyakarta itu bahkan memberikan 20 sak semen bersama dengan Ketua DPRD Kota Yogyakarta, Wisnu Sabdono Putro.
“Oh ya kita rencana (bedah rumah) meskipun kecil kita bikin bersih dan sehat. Kalau menurut saya rumah itu ditinggikan atapnya diganti jendela dibuat bersih,” katanya.
Hasto mengapresiasi peran penting Sarwoko sebagai seorang pinisepuh yang masih setia mengabdikan dirinya untuk masyarakat sebagai seorang penjaga sekaligus juru kunci makam.
“Pak Sarwoko kerjanya untuk takmir dan penjaga makam. Mengabdi untuk takmir dan bersih bersih makam. Jadi kalau nggak dipikirkan rumahnya ya siapa lagi,” kata mantan Bupati Kulon Progo tersebut.
Hasto merasa bersyukur bahwa melalui saran gotong royong, upaya memberikan hunian layak, aman, dan nyaman bisa diwujudkan dengan cepat.
“Seperti ini kalau antri pakai APBD lak lama sekali gerakkan gotong-royong bisa dalam waktu sebentar,” jelasnya.
Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Semaki Mujiharto menyampaikan bahwa proyek renovasi tersebut akan memakan waktu 2 minggu.
Rumah tersebut menurutnya sudah diajukan melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Yogyakarta untuk dilakukan renovasi.
“Sebetulnya itu parah, karena struktur bocor sedikit, ya sudah rapuh ada rekomendasi 2019 dari Bappeda,” katanya.
Kendati begitu, ia menyebut rencana bantuan kepada Sarwoko urung diambil karena baru berupa struktur, bukan secara keseluruhan.
“Dulu skemanya berbeda, belum ada dengan seperti saat ini skala prioritas. Dulu rekomendasinya masih struktur,” katanya.
“Kalau ini rekomendasi ada swadaya masyarakat. Kalau dulu bantuan Rp15 juta plus Rl 2,5 untuk tukang. Setengah kekurangannya dari pihak penerima manfaat, kami alihkan karena malah nombok,” jelasnya.
Ia menyampaikan, selama rumahnya dipercantik, ia mempersilahkan Sarwoko untuk memilih tempat beristirahat selama rumah itu dibuat layak huni.
“Ini kami geser aja selama bongkar nanti atap kita tutup pakai terpal terpal tetap bisa dipakai. Tapi kalau berkenan juga ada keluarganya di sekitar sini,” katanya.
Ia menilai bahwa Sarwoko merupakan pribadi yang baik dalam masyarakat. Sarwoko tidak pernah hilang dari setiap momen kampung.
Berbagai kegiatan masih ia ikuti seperti kerja bakti, ronda hingga arisan masih ia lakukan.
Ia berupaya untuk menggerakkan warga sekitar, baik berupa kerja bakti maupun menyediakan konsumsi. Uluran tangan terasa berarti agar setiap warganya bisa merasakan manisnya gotong-royong.
Ia berharap dengan bantuan bedah rumah tersebut bisa menjadi hadiah bagi keaktifan Sarwoko di tengah-tengah masyarakat. (populi.id/Hadid Pangestu)












