• Tentang Kami
Saturday, May 2, 2026
populi.id
No Result
View All Result
  • Login
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
No Result
View All Result
populi.id
No Result
View All Result
Home headline

Bencana Sumatra, Dosa Siapa?

Deforestasi menyisakan kerugian teramat besar bagi Aceh hingga Sumbar. Model pembangunan ekstraktif disebut sebagai yang memantik kerusakan lingkungan hingga mengakibatkan bencana di Sumatra

byredaksi
December 12, 2025
in headline, Sikap
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Ilustrasi dampak deforestasi yang mengakibatkan banjir. [pexels/Nikita Belokhonov]

Ilustrasi dampak deforestasi yang mengakibatkan banjir. [pexels/Nikita Belokhonov]

0
SHARES
16
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare via WhatsApp

POPULI.ID – Bencana banjir dan tanah longsor hebat yang melanda Sumatra memperlihatkan salah arah model pembangunan yang berorientasi pada ekstraksi sumber daya alam.

Selain lebih menguntungkan elite, model pembangunan tersebut melemahkan daya dukung lingkungan yang berakibat meningkatkan risiko bencana yang mesti ditanggung masyarakat luas.

BERITA MENARIK LAINNYA

Kali Belik Meluap Akibat Hujan Deras, Pemkot Yogyakarta akan Lakukan Ini

Viral Video Banjir Tumpukan Sampah di Sungai Winongo, Ini Kata DLH Kota Yogyakarta

Data terbaru dari situs BNPB, Kamis (11/12/2025) mencatat total korban tewas berjumlah 986 orang. Terdapat 224 orang dinyatakan masih hilang dan 5.100 orang terluka. Bencana inipun berdampak pada 52 kabupaten/kota di tiga provinsi.

BNPB juga mencatat ada 157,9 ribu rumah rusak, dan sekitar 800 ribu jiwa masih menjadi pengungsi akibat bencana. Bencana juga merusak 1.200 fasilitas umum, 219 fasilitas kesehatan, 581 fasilitas pendidikan, 434 rumah ibadah, hingga 498 jembatan.

Menurut perhitungan CELIOS, kerugian daerah mencapai Rp 2,04 triliun di Aceh, Rp2,07 triliun di Sumut, dan Rp2,01 triliun di Sumbar.

Jambi, Riau, dan Sumatra Selatan ikut terdampak dengan kerugian sekitar Rp2 triliun per provinsi karena akses transportasi memukul pergerakan barang konsumsi dan pasokan industri.

Sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkirakan, biaya pemulihan daerah terdampak di Aceh, Sumut, dan Sumbar mencapai Rp 51,82 triliun.

Lagi-lagi soal perhitungan bahwa besarnya kerugian dan biaya yang dibutuhkan untuk rekontruksi tidak sebanding dengan pendapatan negara yang didapatkan dari kegiatan ekstraksi sumber daya alam yang menjadi faktor utama bencana kali ini.

Perhitungan Celios menyebut penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor tambang di Aceh per 31 Agustus hanya Rp929 miliar, dana bagi hasil (DBH) perkebunan sawit Aceh Rp12 miliar, sementara DBH mineral dan batubara Rp56,3 miliar pada 2025.

Total pendapatan tersebut jauh di bawah kerugian di Aceh akibat bencana yang mencapai Rp2,04 triliun. Bahkan Celios memperkirakan, kerugian ekonomi akibat bencana ini mencapai Rp68,67 triliun.

Ada banyak bukti memperlihatkan besarnya skala banjir dan tanah longsor di Sumatra kali ini terkait dengan kerusakan lingkungan di kawasan tersebut.

Deforestasi dan degradasi hutan di kawasan hulu membuat fungsi alam sebagai penyerap air dan penahan erosi menjadi hilang sehingga ketika hujan ekstrem terjadi akibat siklon tropis Senyar, banjir dan tanah longsor besar melanda kawasan di hilir.

Guru Besar Bidang Geomorfologi Lingkungan UGM Djati Mardiatno tak menampik kenyataan dampak dari model pembangunan ekstratif.

Iapun berpendapat pembangunan ekstraktif akan selalu menurunkan daya dukung lingkungan hidup (DDLH) dan satu di antara dampaknya meningkatnya kerentanan terhadap bencana.

Kerusakan hutan dan perubahan tata air akibat ekstraksi, disebutnya, meningkatkan risiko bencana ekologis seperti banjir bandang, tanah longsor, dan banjir luapan sungai.

“Banjir dan longsor di wilayah Sumatra yang baru saja terjadi, misalnya, sering dikaitkan dengan model pembangunan ekstraktif tersebut,” katanya dilansir dari laman UGM, Jumat (12/12/2025).

Djati menandaskan bagaimanapun pembangunan ekstraktif banyak menimbulkan dampak sosial-ekologis.

Di antaranya terjadi perampasan ruang hidup masyarakat adat dan lokal yang membuat mereka terusir dari tanah mereka sendiri karena wilayahnya dialihfungsikan menjadi area konsesi ekstraktif.

Alihfungsi tersebut kenyataan merampas hak mereka atas lingkungan yang aman dan layak huni. Bahkan kesejahteraan yang dihasilkan dari model pembangunan ekstratif dinilainya sebagai kesejahteraan semu.

“Meski pembangunan ekstraktif sering digadang sebagai pilar ekonomi, namun beberapa riset menunjukkan desa-desa di sekitar area pertambangan justru rentan terhadap kesulitan sosial, seperti pendidikan yang lebih rendah, kesulitan akses air bersih, dan kerentanan terhadap bencana,” terangnya.

Iapun mengingatkan pembangunan ekstraktif tanpa tata kelola yang ketat (good governance) dan prinsip berkelanjutan (sustainability) tetap berpotensi merusak daya dukung lingkungan.

Bahkan berdampak menimbulkan krisis sosial-ekologis, dan kerusakan-kerusakan lingkungan yang ditimbulkan pembangunan ekstraktif diantaranya pencemaran, deforestasi, dan hilangnya keanekaragaman hayati.

“Eksploitasi berlebihan yang melampaui kemampuan alam tentu membuat kesulitan untuk memulihkan diri,” ungkapnya.

Djati Mardiatno berpandangan ada beberapa hal bisa dilakukan guna menjamin keberlanjutan lingkungan hidup dan meminimalisir bencana yang mungkin terjadi di masa depan.

Menurutnya sangat perlu menetapkan dan mematuhi batas Daya Dukung dan Daya Tampung Lingkungan Hidup (D3TLH) sebagai sistem peringatan dini kerusakan lingkungan.

Baginya, perlu juga untuk mempertimbangkan faktor risiko bencana dalam proses perencanaan pembangunan di wilayah yang akan dimanfaatkan.

“Sudah saatnya pemerintah menerapkan moratorium izin dan bertindak tegas terhadap perusahaan yang tidak melaksanakan prinsip-prinsip kelestarian lingkungan dalam operasional usaha atau kegiatannya, dan sudah saatnya juga mengalihkan model pembangunan dari model ekonomi ekstraktif yang umumnya bersifat eksploitatif dan merusak menuju model pembangunan yang lebih bijaksana, inklusif, dan berkelanjutan,” tuturnya.

Tags: AcehbanjirbencanaDjati Mardiatnokerusakan lingkunganLongsorpembangunan ekstraktifSumatra

Related Posts

Suasana Kali Belik di Kampung Iromejan, Kelurahan Klitren, Kemantren Gondokusuman, Kota Yogyakarta, pada Jumat (10/4/2026).

Kali Belik Meluap Akibat Hujan Deras, Pemkot Yogyakarta akan Lakukan Ini

April 11, 2026
Viral Video Banjir Tumpukan Sampah di Sungai Winongo, Ini Kata DLH Kota Yogyakarta

Viral Video Banjir Tumpukan Sampah di Sungai Winongo, Ini Kata DLH Kota Yogyakarta

March 29, 2026
Ilustrasi longsor di Bantul

BPBD Bantul Rekomendasikan Warga di Desa Sriharjo yang Terancam Longsor untuk Relokasi

March 25, 2026
Harga Tiket Bus ke Sumatra di Terminal Giwangan Naik Rp110 Ribu Jelang Lebaran

Harga Tiket Bus ke Sumatra di Terminal Giwangan Naik Rp110 Ribu Jelang Lebaran

March 10, 2026
Ilustrasi longsor di Bantul

Atasi Longsor di Clongop, Pemda DIY Kerahkan Sejumlah Alat Berat

March 4, 2026
Bupati Gunungkidul Endah Subekti meninjau lokasi di wilayah Tancep, Ngawen yang terdampak longsor, Rabu (18/2/2026)

Pemkab Gunungkidul Relokasi Warga Terdampak Longsor di Tancep

February 19, 2026
Next Post
Sambut Natal, SCH Suguhkan Wahana Salju hingga Santa

Sambut Natal, SCH Suguhkan Wahana Salju hingga Santa

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No Result
View All Result

TERPOPULER

Ilustrasi SMP di Sleman

8 SMP Terbaik di Sleman yang Bisa Jadi Pilihan

June 4, 2025
Kabupaten Bantul memiliki sejumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang menjadi incaran para pendaftar.

10 SMP Favorit di Bantul: Pilihan Terbaik Sekolah Negeri dan Swasta

June 18, 2025
ilustrasi : Sekolah Dasar

10 SD Favorit di Bantul dengan Akreditasi A, Layak Jadi Pilihan!

June 12, 2025
Berikut 10 SMP unggulan di Bantul yang bisa dijadikan acuan sebelum mendaftar SPBM 2025.

Inilah 7 SMP Unggulan di Bantul yang Paling Diburu Jelang SPMB 2025

June 9, 2025
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo.

Penetapan UMK dan UMP DIY 2026 Berpotensi Mundur, Wali Kota Yogyakarta Berharap Ada Kenaikan

December 12, 2025

Subscribe

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Copyright ©2025 | populi.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO

Copyright ©2025. populi.id - All Right Reserved.