• Tentang Kami
Senin, Agustus 31, 2026
populi.id
No Result
View All Result
  • Login
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
No Result
View All Result
populi.id
No Result
View All Result
Home headline

Petani Ngaglik Keluhkan Banyaknya Alih Fungsi Lahan untuk Usaha

sebagian lahan persawahan yang tersisa di Ngaglik dimanfaatkan untuk budidaya pertanian hortikultura yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMDes).

byredaksi
Oktober 15, 2025
in headline, Sleman
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Ilustrasi sawah atau pertanian di DIY

ilustrasi sawah atau pertanian di DIY. [pexels/tom fisk]

0
SHARES
81
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare via WhatsApp

SLEMAN, POPULI.ID – Petani di Kalurahan Sinduharjo, Ngaglik, Sleman, DIY menceritakan selama ini tidak pernah mendapatkan ganti rugi akibat adanya alih fungsi lahan yang terjadi di tengah upaya Swasembada pangan yang digaungkan oleh pemerintah.

Ketua Kelompok Tani Ngudi Makmur Dwi Hertanto merasa sedih atas banyaknya alih fungsi lahan pertanian oleh sejumlah pihak yang banyak dimanfaatkan untuk kepentingan bisnis.

BERITA MENARIK LAINNYA

Bupati Sleman Siap Temui Kemendikdasmen, Cari Solusi Keluarkan 4.278 Anak dari Status Tak Sekolah

Tanggapi Isu Kenaikan Gaji Kepala Daerah, Bupati Sleman: Yang Saya Cari Amal Jariyah

Ia menyampaikan tanah pertanian sebagian besar merupakan Tanah Kas Desa (TKD).

“Tanah Kas Desa biasanya untuk hijau-hijauan, banyak digunakan untuk hortikultura atau sayur mayur. Sebenarnya bisa bermanfaat untuk ketahanan pangan namun malah untuk kebutuhan segelintir kelompok dan kebutuhan pribadi,” katanya, Selasa (15/10/2025).

Dwi menyampaikan bahwa dari pemerintah daerah selama ini pemerintah kurang serius dalam memperhatikan petani dengan masih banyaknya alih fungsi lahan untuk mengejar target Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD).

“Ya kalau itu nanti hanya untuk pemasukan APBD, keuntunganya hanya untuk pihak terkait, banyak yang disewa untuk skala usaha. Petani tidak semua dapat kompensasi,” ujarnya.

Ia menyebut sebagian lahan persawahan yang tersisa di Ngaglik dimanfaatkan untuk budidaya pertanian hortikultura yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMDes). Harapan dengan pengelolaan badan usaha desa tersebut bisa membuka lapangan pekerjaan bagi petani.

Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Riset Sosial Humaniora (RHS) Universitas Gadjah Mada melakukan penelitian yang menyoroti fragmentasi lahan sawah (leapfrog) dan perubahan makna lahan pertanian di DIY, salah satunya di Kapanewon Ngaglik, Sleman.

Tim menemukan fakta bahwa selama satu dekade terakhir, fragmentasi lahan sawah terjadi secara masif di pinggiran kota, terutama di sebagian kapanewon di Kabupaten Sleman dan Bantul. Ahsan menyebut Kapanewon Ngaglik, Sleman, sebagai daerah dengan fenomena leapfrog terbesar.

“Dampak jangka panjang fragmentasi sawah akan berpengaruh pada turunnya produksi padi yang mengancam kedaulatan pangan Daerah Istimewa Yogyakarta,” kata salah satu anggota Tim Peneliti Mohammad Ahsan, Selasa (14/10/2025).

Disebutnya, sejak 2024, kuantifikasi tutupan lahan di wilayah Sub Urban di DIY dari tahun 2015 sampai 2024 menemukan bahwa Kapanewon Ngaglik merupakan wilayah dengan dengan fragmentasi tertinggi.

Aturan pemerintah melalui kebijakan Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (PLP2B) disebutnya saat ini belum optimal.

“Perlindungan lahan sawah melalui PLP2B belum optimal karena saat penetapan lahan sawah masih belum dapat mengakomodasi penerimaan masyarakat pemilik lahan,” katanya
“Hal ini menimbulkan perbedaan nilai, makna, dan kepentingan antara pemilik dengan pemerintah,” ungkapnya.

Tidak hanya mengkaji fenomena fragmentasi atau leapfrog, penelitian ini juga menggali dinamika makna lahan pertanian bagi masyarakat, swasta, dan pemerintah dalam menghadapi dominasi perkembangan kota.

ia berharap penelitian tersebut dapat menjadi pertimbangan strategis bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pengelolaan lahan yang lebih baik.

“Kita ingin hasil penelitian tidak hanya berkontribusi sebagai literatur akademik, tetapi juga menjadi bahan pertimbangan strategis bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan pengelolaan lahan yang lebih seimbang,” pungkasnya.

(populi.id/Hadid Pangestu)

Tags: alih fungsi lahanDwi HertantoKelompok Tani Ngudi MakmurNgaglikpertanianSlemantanah kas desa

Related Posts

Bupati Sleman Harda Kiswaya

Bupati Sleman Siap Temui Kemendikdasmen, Cari Solusi Keluarkan 4.278 Anak dari Status Tak Sekolah

Agustus 5, 2026
Bupati Sleman Harda Kiswaya

Tanggapi Isu Kenaikan Gaji Kepala Daerah, Bupati Sleman: Yang Saya Cari Amal Jariyah

Agustus 5, 2026
Anggota medis melakukan evakuasi jenazah pria lanjit usia yang tertemper di Timur Fly Over Janti, Caturtunggal, Depok, Sleman, DIY, Minggu (3/8/2026). (Polresta Sleman)

Lansia Pencari Rongsok Tewas Tertemper Kereta Api di Janti, KAI Ingatkan Hal Ini

Agustus 3, 2026
Polisi melakukan penyelidikan kekerasan jalanan di Jalan Laksda Adi Sucipto, Maguwoharjo, Sleman, DIY, Minggu (2/8/2026). (Polresta Sleman)

Pelajar Asal Tangerang Selatan Jadi Korban Tembakan Air Softgun di Sleman

Agustus 3, 2026
Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Sleman Mustadi.

Laptop bagi Siswa SMP Tak Wajib, Disdik Sleman: Hanya Berlaku bagi Kelas Digital Pilihan

Juli 28, 2026
Polisi menunjukkan barang bukti pencurian motor di wilayah Tempel, Sleman, DIY, Senin (27/7/2026).

Residivis Curi Motor Tamu Salon di Tempel, Sempat Ubah Warna dan Rusak Nomor Rangka

Juli 28, 2026
Next Post
Ilustrasi sampah organik. [pexels/emmet]

Hindari Kemasan Plastik, Pelaku Usaha di Mantrijeron Ganti Pakai Botol Kaca

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No Result
View All Result

TERPOPULER

Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]

9 SMP Negeri Terbaik di Sleman Berdasar Data Terbaru Tahun 2026

Februari 9, 2026
Kabupaten Bantul memiliki sejumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang menjadi incaran para pendaftar.

10 SMP Favorit di Bantul: Pilihan Terbaik Sekolah Negeri dan Swasta

Juni 18, 2025
Ilustrasi SMP di Sleman

8 SMP Terbaik di Sleman yang Bisa Jadi Pilihan

Juni 4, 2025
ilustrasi : Sekolah Dasar

10 SD Favorit di Bantul dengan Akreditasi A, Layak Jadi Pilihan!

Juni 12, 2025
SMP Negeri 5 Yogyakarta

7 SMP Negeri Terbaik di Kota Yogyakarta Berdasarkan Ranking TKA-TKAD 2026

Mei 6, 2026

Subscribe

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Copyright ©2025 | populi.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO

Copyright ©2025. populi.id - All Right Reserved.