• Tentang Kami
Friday, May 29, 2026
populi.id
No Result
View All Result
  • Login
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
No Result
View All Result
populi.id
No Result
View All Result
Home Cendekia

Soroti Insiden Ledakan di SMAN 72 Jakarta, Pakar: Murni Reaksi Personal

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, AB. Widyanta, menyatakan memandang kasus peledakan di SMA Negeri 72 Jakarta bisa dilakukan dengan dua sudut pandang yaitu perspektif sosiologis dan psikososial.

byredaksi
November 16, 2025
in Cendekia, headline
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Ilustrasi perundungan

Ilustrasi perundungan. [pixabay/tumisu]

0
SHARES
2
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare via WhatsApp

SLEMAN, POPULI.ID – Suasana khidmat ibadah Jum’at siang (7/11) di masjid sekolah SMAN 72 Jakarta, Kelapa Gading, Jakarta Utara sontak berubah menjadi kekacauan setelah bom meledak di lokasi tersebut.

BERITA MENARIK LAINNYA

Megawati Menangis Usai Menonton Film Pesta Babi: Itu Benar Adanya

Koperasi Desa Merah Putih Tak Cerminkan Demokrasi Ekonomi

Beberapa siswa yang tengah sembahyang pun terluka dan dibawa ke rumah sakit terdekat. Tidak terlalu lama dari peristiwa, polisi telah mengantongi satu siswa sekolah tersebut sebagai tersangka pelaku, dan penetapan sebagai pelaku berdasarkan hasil pemeriksaan sejumlah saksi dan temuan bukti yang dimiliki.

Dunia pendidikan tentu dibuat terkejut atas peristiwa tersebut. Bahkan beberapa pihak lain dibuat heran dan bingung dengan tindakan ekstrem yang dilakukan seorang siswa SMA tersebut.

Pertanyaan-pertanyaan pun bermunculan terkait hidup sang pelaku menyangkut kondisi sosial, psikologis, dan pendidikan yang dijalaninya selama ini. Ironis memang, karena sang pelaku adalah siswa bersekolah yang masih di bawah umur.

Bahkan beberapa sumber informasi mengatakan pelaku peledakan diduga korban perundungan yang tak memiliki ruang aman untuk berlindung.

Begitu tidak terbukanya terhadap permasalahan bullying yang dihadapinya, ia pada akhirnya mengalami repressing psikis yang menimbulkan perasaan dikeluarkan dari komunitas, tidak dihargai, dan dikucilkan.

Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, AB. Widyanta, menyatakan memandang kasus peledakan di SMA Negeri 72 Jakarta bisa dilakukan dengan dua sudut pandang yaitu perspektif sosiologis dan psikososial.

Dalam pandangannya tekanan psikologis yang dialami seorang anak tidak muncul dari ruang hampa melainkan akumulasi dari persoalan sosial yang menumpuk dan terinternalisasi.

Dampak daripada bullying, disebutnya, berimplikasi pada perasaan-perasaan individual dan perasaan personal yang sangat mendalam.

“Sehingga yang dihidupi oleh dia itu rasa sakit hati, rasa ada amarah yang mendalam. Tetapi juga ada rasa keinginan untuk balas dendam. Implikasi yang bisa dilihat kan muncul agresivitas karena terstimulasi peristiwa bullying yang dialami sang anak,” ucap Widyanta dikutip dari laman UGM, Minggu (16/11/2025).

Sebagai pengamat, Widyanta menilai fenomena ini sebagai kasus pertama di Indonesia. Tindakan ekstrem yang dilakukan oleh anak, dinilainya murni tanpa ada kaitan dengan kelompok radikal atau ideologi tertentu.

“Saya menilai ini murni reaksi personal terhadap kekerasan lingkungan, yang difasilitasi oleh teknologi digital,” terangnya.

Ketidakmampuan keluarga memenuhi kebutuhan afeksi, sekolah yang terjebak dalam kompetisi pasar, serta negara yang gagal melindungi anak dari paparan digital berbahaya, dalam pendapat Widyanta sebagai faktor yang saling bertautan.

Oleh karena itu, ia sangat berharap kehadiran dan peran keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara.

“Anak ini korban, dan ia tumbuh dalam ekosistem yang mereproduksi kekerasan,” jelasnya.

Terhadap kasus tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia sudah seharusnya turut bertanggung jawab, dan agar tidak terulang kembali maka berbagai akses yang seharusnya tidak bisa diakses oleh anak-anak dibatasi. Bahkan jika perlu tidak dengan mudahnya bisa dibuka atau dikonsumsi oleh anak-anak.

“Bagaimanapun Komdigi yang berwenangan mengatur soal ini yaitu tentang teknologi digital. Jangan lagi bertindak ceroboh dengan membiarkan anak-anak bisa mengakses link-link yang berbasis kekerasan, atau bahkan yang namanya judol, pinjol, dan segalanya. Jangan dibiarkan”, ungkapnya.

Widyanta menandaskan kasus ini semestinya menjadi peringatan keras bagi seluruh pemangku kepentingan untuk meninjau ulang sistem pendidikan dan struktur sosial yang ada.

Menurutnya diperlukan pendekatan jangka panjang yang berfokus pada kesejahteraan keluarga, lingkungan belajar yang manusiawi, dan literasi digital kritis bagi generasi muda.

“Dari kasus ini, anak ini adalah cermin dari sebuah cermin yang remuk, dan kita semua ini adalah cermin yang remuk juga”, tandasnya.

Tags: AB. WidyantaKomdigiledakan SMAN 72 Jakartapsikologissistem pendidikanUGM

Related Posts

Presiden ke-5 Indonesia Megawati Soekarnoputri memberikan arahan dalam forum National Policy Dialogue yang digelar di UGM, Jumat (22/5/2026)

Megawati Menangis Usai Menonton Film Pesta Babi: Itu Benar Adanya

May 24, 2026
Logo Koperasi Desa Merah Putih

Koperasi Desa Merah Putih Tak Cerminkan Demokrasi Ekonomi

May 21, 2026
ilustrasi uang Rupiah yang diwacanakan bakal dilakukan redenominasi

Kritik Narasi Pemerintah Soal Optimisme Ekonomi, Pakar: Buktikan Secara Ilmiah

May 21, 2026
Ilustrasi mata uang Rupiah

Akademisi UGM Dorong Pemerintah Pusat Turun Tangan Atasi Persoalan Keterbatasan Fiskal Pemda

May 14, 2026
Ilustrasi pengelolaan Makan Bergizi Gratis atau MBG

Pakar Analisis Kebijakan Publik Nilai Usulan Kampus Terlibat di MBG Melenceng dari Tupoksi Universitas

May 13, 2026
Ilustrasi daycare

Mencuat Kekerasan Anak di Daycare Little Aresha, Psikolog UGM: Alarm Serius bagi Keluarga dan Pemerintah

May 11, 2026
Next Post
Pemkot Yogyakarta gelar pasar murah di kemantren Jetis, Senin (17/11/2025)

Sambut Nataru, Pemkot Yogyakarta Gelar Pasar Murah di 14 Kemantren

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No Result
View All Result

TERPOPULER

Ilustrasi SMP di Sleman

8 SMP Terbaik di Sleman yang Bisa Jadi Pilihan

June 4, 2025
Kabupaten Bantul memiliki sejumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang menjadi incaran para pendaftar.

10 SMP Favorit di Bantul: Pilihan Terbaik Sekolah Negeri dan Swasta

June 18, 2025
ilustrasi : Sekolah Dasar

10 SD Favorit di Bantul dengan Akreditasi A, Layak Jadi Pilihan!

June 12, 2025
Berikut 10 SMP unggulan di Bantul yang bisa dijadikan acuan sebelum mendaftar SPBM 2025.

Inilah 7 SMP Unggulan di Bantul yang Paling Diburu Jelang SPMB 2025

June 9, 2025
Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]

9 SMP Negeri Terbaik di Sleman Berdasar Data Terbaru Tahun 2026

February 9, 2026

Subscribe

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Copyright ©2025 | populi.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO

Copyright ©2025. populi.id - All Right Reserved.