AMERIKA, POPULI.ID – Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sedang membahas “berbagai opsi” untuk mengakuisisi Greenland, termasuk kemungkinan penggunaan militer AS, kata Gedung Putih.
“Presiden Trump telah menyatakan dengan jelas bahwa akuisisi Greenland merupakan prioritas keamanan nasional Amerika Serikat dan hal ini penting untuk mencegah para pesaing kami di kawasan Arktik,” kata juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt dilansir Rabu (7/1/2026).
Leavitt menambahkan bahwa Presiden Trump bersama timnya sedang mendiskusikan berbagai opsi untuk mengejar tujuan kebijakan luar negeri yang disebutnya penting.
“Tentu saja, penggunaan militer Amerika Serikat selalu menjadi salah satu opsi yang berada dalam kewenangan Panglima Tertinggi,” ucap Leavitt.
Pernyataan tersebut disampaikan menyusul usulan berulang Presiden Donald Trump untuk mengakuisisi Greenland itu demi kepentingan strategis AS.
Sehari setelah operasi militer AS di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro, Trump pada Minggu (4/1/2026) kembali mengulangi seruan untuk mengambil alih Greenland demi kepentingan keamanan nasional.
“Kami membutuhkan Greenland dari sudut pandang keamanan nasional, dan Denmark tidak akan mampu melakukannya,” ujar Trump ketika ditanya mengenai potensi tindakan AS terhadap Greenland.
Greenland merupakan wilayah otonom dalam Kerajaan Denmark dan telah berulang kali menolak usulan yang mengarah pada pemindahan kedaulatan kepada Amerika Serikat.
Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, telah mendesak Trump untuk menghentikan berbagai ancaman tersebut.
NATO Pasang Badan Soal Kedaulatan Greenland
Denmark pun bersama enam negara anggota NATO mengeluarkan pernyataan bersama tentang Greenland. Mereka mendesak penghormatan terhadap “kedaulatan, integritas teritorial, dan keutuhan perbatasan” setelah munculnya kembali seruan Amerika untuk mengambil alih wilayah itu.
“Greenland milik rakyatnya. Hanya Denmark dan Greenland yang berhak memutuskan soal urusan Denmark dan Greenland,” kata para pemimpin Denmark, Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Spanyol, dan Inggris dalam pernyataan bersama.
Pernyataan itu menegaskan bahwa keamanan Arktik tetap menjadi “prioritas utama bagi Eropa,” dan banyak sekutu telah meningkatkan kehadiran, aktivitas, serta investasi mereka untuk menjaga stabilitas kawasan.
“Keamanan di Arktik harus dicapai secara kolektif bersama sekutu NATO, termasuk Amerika Serikat, dengan menjunjung tinggi prinsip Piagam PBB tentang kedaulatan, integritas teritorial, dan keutuhan perbatasan,” tambah para pemimpin tujuh negara anggota NATO itu.
Mereka juga menyatakan bahwa AS merupakan “mitra penting” dalam upaya ini, sebagai sekutu NATO, dan berdasarkan perjanjian pertahanan antara Kerajaan Denmark dan AS tahun 1951.
Presiden AS Donald Trump telah beberapa kali menyatakan keinginannya untuk mengambil alih Greenland, wilayah semi‑otonom di bawah Kerajaan Denmark, dengan alasan kepentingan keamanan nasional dan strategis.
Pernyataan Trump itu memicu kekhawatiran di Eropa, terutama setelah AS melakukan operasi militer di Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolás Maduro.
Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen mendesak Washington untuk “menghentikan ancaman” terhadap sekutu historisnya, menolak gagasan pengambilalihan paksa Greenland.
Beberapa negara Eropa, serta Uni Eropa, Senin, menyatakan dukungan kuat mereka bagi Denmark dan Greenland seraya menolak gagasan bahwa masa depan pulau itu dapat ditentukan oleh kekuatan luar negeri.
Pemimpin Eropa itu menekankan bahwa setiap keputusan tentang masa depan Greenland harus dibuat oleh Denmark dan rakyat Greenland sendiri, sesuai hukum internasional.
Greenland, pulau berpenduduk sekitar 57.000 jiwa, adalah wilayah otonom di bawah Kerajaan Denmark dan termasuk bagian dari aliansi militer NATO.
Pernyataan bersama ini mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas di Eropa atas retorika terkait pencaplokan dan pentingnya mempertahankan tatanan keamanan kolektif di kawasan Arktik.












