AMERIKA, POPULI.ID – Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyampaikan kepada Iran lewat jalur diplomatik bahwa pihaknya membuka diri untuk perundingan meski Amerika Serikat meningkatkan keberadaan militernya di Teluk Persia, menurut laporan Axios pada Minggu (1/2/2026).
Mengutip seorang pejabat senior AS, laporan itu menyebutkan bahwa Presiden Donald Trump belum mengambil keputusan akhir untuk melancarkan serangan militer terhadap Iran dan masih mengupayakan solusi diplomatik.
Disebutkan pula bahwa Turki, Mesir, dan Qatar tengah berupaya mengatur pertemuan di Ankara pekan ini antara utusan Gedung Putih Steve Witkoff dan pejabat senior Iran.
Dua sumber di kawasan juga mengatakan kepada Axios bahwa ketiga negara itu menjalin koordinasi erat dengan AS dan Iran.
“Prosesnya sedang berjalan. Kami mengusahakan yang terbaik,” kata seorang pejabat dari salah satu negara mediator.
Upaya diplomatik itu dilakukan setelah Trump menyatakan dalam unggahan media sosial pada Rabu bahwa sebuah “armada besar” tengah bergerak menuju Iran, sembari mendesak negara itu untuk segera memasuki perundingan.
Presiden AS itu sebelumnya mengancam akan mengambil tindakan militer terhadap Iran di tengah meningkatnya ketegangan menyusul aksi unjuk rasa anti pemerintah di Iran pada akhir Desember 2025.
Iran kemudian memperingatkan bahwa setiap serangan AS akan dibalas dengan respons yang “cepat dan menyeluruh.”
Arab Saudi Dukung Solusi Damai
Seorang pejabat tinggi Saudi, Minggu (1/2/2026), membantah laporan media AS tentang adanya desakan Arab Saudi kepada Washington untuk melancarkan serangan militer terhadap Iran, dengan mengatakan Riyadh masih mendukung upaya untuk mencapai solusi damai atas konflik antara kedua negara.
Dalam komentar yang dimuat oleh surat kabar Al-Sharq Al-Awsat milik Saudi, pejabat tersebut menyebut laporan media Amerika Serikat (AS) tentang perubahan sikap kerajaan mengenai kemungkinan serangan AS terhadap Tehran sebagai “tidak benar.”
“Arab Saudi mendukung upaya untuk menemukan solusi damai atas semua isu yang diperselisihkan antara AS dan Iran melalui dialog dan cara diplomatik,” kata sumber yang tidak disebutkan namanya itu.
Dia menekankan penolakan kerajaan untuk menggunakan wilayah udaranya untuk tindakan militer apa pun terhadap Iran.
Portal berita AS, Axios, sebelumnya mengeklaim bahwa Riyadh telah mendesak Washington untuk menyerang Tehran, memperingatkan bahwa kegagalan untuk menyerang dapat memperkuat rezim Iran.
Pada Selasa, Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman, melalui suatu panggilan telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, menegaskan kembali dukungan kerajaan dalam upaya yang bertujuan menyelesaikan perselisihan melalui dialog untuk memastikan stabilitas regional.
Pada Rabu, Presiden AS Donald Trump mengatakan dalam sebuah unggahan media sosial bahwa sebuah armada besar sedang menuju Iran, sambil mendesak Tehran untuk segera memulai negosiasi.
Pernyataan tersebut memicu spekulasi tentang kemungkinan serangan militer AS, yang menyebabkan reaksi keras dari para pejabat Iran serta aktivitas diplomatik yang sibuk di kawasan tersebut.
Juni 2025, Israel, dengan dukungan AS, melancarkan perang 12 hari melawan Iran, yang memicu serangan balasan berupa drone dan rudal dari Tehran sebelum Washington mengumumkan gencatan senjata.












