YOGYAKARTA, POPULI.ID – Relokasi kios permak pakaian di Jalan Dr. Sardjito menuju Pasar Terban, Kota Yogyakarta memunculkan polemik tersendiri khususnya bagi para penjahit. Lantaran, kios di Pasar Terban yang disediakan pemerintah dinilai kurang memadai kebutuhan para penjahit.
Keberadaan dua meja cor di masing-masing kios dinilai mempersempit ruang gerak para penjahit dalam menata barang-barang. Terutama barang berupa mesin jahit dan mesin obras yang menjadi jantung usaha mereka.
Kondisi kios yang terbuka bebas tanpa penutup juga dianggap jadi PR bagi para penjahit. Sebab, mereka mengkhawatirkan faktor keamanan ketika barang-barang ditinggal pulang.
Mau tak mau, penjahit harus merogoh kocek untuk merombak kios agar lebih layak memenuhi kebutuhan mereka. Hal itulah yang membuat sejumlah penjahit pikir ulang dan ragu menempati kios Pasar Terban. Mereka untuk sementara waktu pindah ke lokasi lain sambil memantau perkembangan kios Pasar Terban.
Meski begitu, sebagian penjahit permak pakaian dan servis tas serta sepatu juga mulai menempati kios Pasar Terban. Peralatan mesin jahit, benang, dan barang-barang milik pelanggan yang sedang diperbaiki tampak menghiasi jejeran meja-meja cor berkeramik putih.
Sesekali suara khas mesin jahit mengema di ruangan lantai 2 pasar rakyat tersebut. Satu hingga dua pelanggan pun mulai terlihat mondar-mandir mendatangi penjahit langganannya.
Walaupun sebagian besar kios Pasar Terban masih kosong, namun para penjahit yang sudah menempati kios siap menyongsong rezeki di tempat baru tersebut.
Setidaknya itulah yang dirasakan Sugiarto (51), penjahit kios Thole yang sudah pindah ke Pasar Terban. Pria paruh baya itu mengaku optimistis menjemput rezeki di Pasar Terban.
“Saya baru Senin (19/1/2025) kemarin pindah ke sini. Ya sementara masih menyesuaikan dan Alhamdulillah pelanggan-pelanggan masih datang cari saya. Kalau orang baru sementara masih satu dua, belum sepenuhnya seperti di Jalan Dr. Sardjito. Ya saya harus sabar dulu, tapi mungkin saya optimis,” ujar dia kepada Populi.Id, Selasa (20/1/2026).
Sugiarto tak menampik awalnya sempat kecewa saat melihat kondisi kios yang tersedia. Akan tetapi, dia mencoba berdamai dengan keadaan dan memilih mencari solusi meskipun harus merogoh kocek.
Akhirnya, dia melubangi salah satu meja cor untuk memasang mesin jahit setelah mendapatkan izin. Dia juga membuat lemari kecil di bawah salah satu meja cor untuk menyimpan barang-barangnya. Langkah tersebut diambil untuk memastikan keamanan peralatan menjahitnya.
“Saya habis sekitar Rp1.100.000 untuk merombak kios, termasuk membuat spanduk. Ya, saya anggap itu sebagai modal operasional. Pokoknya rezeki itu Tuhan yang mengatur,” ucapnya.
Meskipun sempat kecewa, akan tetapi Sugiarto juga mengaku merasa puas pindah ke Pasar Terban. Sebab, kini tempat penjahit permak pakaian bisa lebih terpusat. Apalagi lokasi kios kini lebih sejuk dan aman tidak kehujanan saat musim penghujan.
“Konsumen juga bisa duduk-duduk santai saat menunggu hujan reda. Lebih nyaman daripada di sana, tidak bising, dan adem,” tutur dia.
“Saya maklumi kan baru beberapa hari, mungkin belum semuanya tahu dan paham. Barangkali besok atau selanjutnya bisa seperti saat di tepi jalan, mudah-mudahan,” tandasnya. (populi.id/Dewi Rukmini)


![Wisatawan mencoba fasilitas air siap minum yang disediakan Pemkot Yogyakarta di kawasan Malioboro. [Dok Pemkot Yogyakarta]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/01/minum-dari-fasilitas-air-siap-minum-120x86.png)









