YOGYAKARTA, POPULI.ID – Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) telah menetapkan target untuk dunia pendidikan di wilayahnya. Mulai tahun ajaran 2026/2027, Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ) ditargetkan akan mulai diterapkan secara menyeluruh di semua sekolah di DIY.
Langkah tersebut merupakan instruksi langsung dari Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, dengan tujuan agar nilai-nilai luhur Yogyakarta dapat menjiwai seluruh peserta didik.
Apa Itu Pendidikan Khas Kejogjaan?
Banyak yang mungkin bertanya-tanya apakah PKJ akan menjadi beban baru bagi siswa. Namun, Ketua Dewan Pendidikan DIY, Sutrisna Wibawa, menjelaskan bahwa PKJ bukanlah mata pelajaran baru yang akan ditambahkan ke dalam kurikulum.
PKJ adalah sebuah sistem pendidikan yang berfokus pada penanaman nilai-nilai Jogja yang berkaitan dengan karakter. Keilmuan ini nantinya akan disisipkan atau diintegrasikan ke dalam mata pelajaran yang sudah ada. Beberapa contoh integrasinya antara lain:
* Pendidikan Agama: Menyisipkan filosofi sangkan paraning dumadi tentang asal-usul dan tujuan manusia diciptakan.
* Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia, dan IPS: Disisipi dengan wacana-wacana khas Yogyakarta untuk memperkuat literasi budaya.
Mengembalikan Identitas Kota Pelajar
Penerapan PKJ ini merupakan satu di antara upaya untuk mengembalikan label Yogyakarta sebagai “Kota Pelajar” yang belakangan ini dinilai mulai memudar akibat maraknya aksi kejahatan jalanan atau kenakalan remaja.
Tujuan utama dari PKJ adalah membentuk “Jalma Kang Utama”, yaitu manusia yang berperilaku sangat baik dan berbudi pekerti luhur. Siswa diharapkan memiliki jiwa trilogi, yakni:
1. Hamemayu Hayuning Bawono (Memperindah keindahan dunia).
2. Memahami Sangkan Paraning Dumadi (Asal dan tujuan penciptaan).
3. Berperilaku Manunggaling Kawula Gusti.
Persiapan dan Hasil Uji Coba
Rencana penerapan menyeluruh di tahun 2026 ini tidak muncul begitu saja. PKJ telah melalui tahap uji coba sejak tahun 2024 di 10 sekolah contoh. Hasil evaluasi menunjukkan dampak yang sangat positif terhadap karakter siswa, dengan nilai rata-rata mencapai 4,1 dari skala 5 pada indikator pengukuran karakter.
Sutrisna Wibawa menegaskan bahwa perangkat pendukung untuk penerapan ini sudah siap sepenuhnya.
“Saat ini buku PKJ maupun media pembelajarannya sudah siap. Kami juga sudah menyiapkan serangkaian bimbingan teknis (bimtek) bagi para pengajar,” ujarnya.
Dari PAUD hingga Perguruan Tinggi
Keunikan dari Pendidikan Khas Kejogjaan adalah cakupannya yang luas. Program ini akan diterapkan mulai dari tingkat PAUD, SD, SMP, SMA/SMK, hingga Perguruan Tinggi.
Untuk tingkat universitas, PKJ dapat diberikan mulai dari masa pengenalan kampus. Hal ini dianggap penting karena banyak mahasiswa di Yogyakarta merupakan pendatang dari luar daerah, sehingga PKJ menjadi sarana agar mereka juga mengenal dan menginternalisasi nilai serta budaya lokal selama menempuh studi di Jogja.
Dengan penerapan PKJ secara masif di tahun depan, diharapkan lulusan pendidikan di Yogyakarta tidak hanya cerdas secara intelektual dan teknologi, tetapi juga memiliki karakter unik dan sopan santun yang berakar pada budaya Jawa yang luhur.






![Penumpang memasuki kereta api dari stasiun Yogyakarta. [Dok. PT KAI]](https://populi.id/wp-content/uploads/2025/03/pt-KAI-120x86.png)





