SLEMAN, POPULI.ID – Jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Sleman pada awal 2026 mengalami penurunan cukup signifikan. Dinas Pariwisata Sleman mencatat angka kunjungan hingga Februari turun sekitar 37 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kepala Bidang Pemasaran Wisata Dinas Pariwisata Sleman, Kus Endarto, mengatakan penurunan tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari kondisi cuaca hingga melemahnya daya beli masyarakat.
“Awal tahun memang biasanya wisatawan menurun karena faktor hujan dan cuaca yang kurang mendukung. Selain itu kondisi ekonomi juga cukup berpengaruh,” kata Kus Endarto, Rabu (11/3/2026).
Menurutnya, meningkatnya harga kebutuhan pokok membuat masyarakat lebih memprioritaskan pengeluaran untuk kebutuhan dasar dibandingkan kebutuhan tersier seperti berwisata.
“Saat harga kebutuhan naik, masyarakat tentu lebih fokus pada kebutuhan makan dan kebutuhan pokok lainnya. Wisata itu kebutuhan tersier, jadi orang cenderung menahan diri untuk bepergian,” jelasnya.
Meski demikian, Kus menilai konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah hingga saat ini belum memberikan dampak langsung terhadap sektor pariwisata di Sleman. Hal ini karena mayoritas wisatawan yang datang merupakan wisatawan domestik.
“Kalau untuk di Sleman dampaknya relatif kecil, karena sekitar 95 persen wisatawan yang datang adalah wisatawan nusantara,” ujarnya.
Ia menjelaskan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Yogyakarta juga didominasi dari kawasan Asia, terutama Malaysia dan Singapura, sehingga konflik di Timur Tengah tidak terlalu memengaruhi arus kunjungan wisata.
Namun, ia mengingatkan apabila konflik berlangsung dalam jangka waktu lama, dampaknya bisa merembet ke sektor ekonomi global, salah satunya melalui kenaikan harga minyak dunia yang berpotensi memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
“Kalau perang berlangsung lama, dampaknya bisa ke banyak sektor. Harga minyak dunia sudah di atas 100 dolar per barel. Kalau BBM naik sementara pendapatan masyarakat tetap, orang kemungkinan akan memilih wisata yang lebih dekat dari rumah,” ujarnya.
Kus mencontohkan wisatawan dari daerah sekitar seperti Klaten yang biasanya berkunjung ke Yogyakarta atau Sleman bisa saja memilih destinasi wisata yang lebih dekat dengan tempat tinggal mereka untuk menekan biaya perjalanan.
“Kalau biasanya dari Klaten ke Sleman sekitar 30 menit, dalam kondisi ekonomi yang menekan mereka mungkin memilih wisata di sekitar Klaten saja yang hanya 15 menit dari rumah,” katanya.
Sementara itu, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono, menyebut konflik Timur Tengah hingga saat ini belum berdampak signifikan terhadap tingkat okupansi hotel di Yogyakarta.
“Konflik Timur Tengah sampai saat ini belum berpengaruh terhadap okupansi hotel di DIY,” ujarnya.
Ia mengakui tingkat hunian hotel memang sedang rendah selama bulan puasa. Namun kondisi tersebut lebih disebabkan turunnya daya beli masyarakat serta belum masuknya musim liburan.
“Puasa ini okupansi memang anjlok dan menjadi masa paceklik bagi kami, tetapi bukan karena konflik itu. Lebih karena daya beli masyarakat yang turun dan belum masuk musim liburan,” kata Deddy.
Menurutnya, wisatawan dari kawasan Timur Tengah selama ini juga tidak memberikan kontribusi besar terhadap kunjungan wisata ke Yogyakarta karena umumnya datang melalui Bali.
“Pasar Timur Tengah di DIY tidak terlalu signifikan. Mereka biasanya datang lewat Bali yang informasinya juga sedang turun,” ujarnya.
Saat ini, pasar wisata Yogyakarta masih didominasi wisatawan domestik serta wisatawan Asia, khususnya dari Malaysia dan Singapura. Menjelang masa liburan, reservasi hotel juga masih didominasi wisatawan nusantara.
“Wisatawan Asia masih ada reservasi ke DIY walaupun tidak sebanyak tahun lalu,” katanya.
Ia menambahkan wisatawan dari Eropa berpotensi terdampak jika konflik berkepanjangan, karena sebagian penerbangan dari Eropa menuju Indonesia biasanya transit di kawasan Timur Tengah sebelum tiba di Jakarta atau Bali.
“Wisatawan Eropa bisa terganggu karena banyak penerbangan mereka yang transit di Timur Tengah,” ujarnya.
PHRI DIY berharap konflik tersebut tidak berlangsung lama karena dapat mengganggu stabilitas ekonomi global yang pada akhirnya berdampak pada sektor pariwisata.
“Kami berharap konflik ini tidak berlarut-larut karena bisa mempengaruhi stabilitas ekonomi dunia dan nasional yang berpotensi mengancam okupansi hotel,” kata Deddy.
Sebagai langkah antisipasi, pelaku industri perhotelan di DIY kini memperkuat promosi wisata domestik dan pasar Asia, serta mendorong penambahan rute penerbangan dari kota-kota besar seperti Bali, Surabaya, dan Jakarta menuju Yogyakarta. (populi.id/Hadid Pangestu)












