YOGYAKARTA, POPULI.ID – Penataan Sungai Winongo di wilayah Patangpuluhan, Wirobrajan, kini menitikberatkan pada kolaborasi lintas elemen masyarakat Jumat (24/4/2026).
Normalisasi tersebut dilakukan setelah sebelumnya selesai untuk Sungai Code. Upaya ini tidak hanya menyasar normalisasi aliran sungai, tetapi juga mendorong perubahan kawasan menjadi destinasi wisata yang ramah lingkungan.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo menuturkan bahwa keterlibatan berbagai pihak menjadi kunci dalam mengembalikan fungsi sungai sekaligus menjaga keberlanjutannya.
Ia menilai, persoalan yang dihadapi tidak hanya terkait endapan sedimentasi, tetapi juga pemanfaatan bantaran sungai yang kurang tertata, seperti keberadaan kandang ternak yang memicu penurunan kualitas lingkungan.
“Kami menurunkan alat berat kemudian melakukan normalisasi sungai agar sungai ini berfungsi baik, kemudian tidak terjadi luapan banjir sehingga menimbulkan longsor,” katanya.
“Karena ketika yang timur penuh sidemen kemudian airnya menghantam ke barat, sisi barat terancam longsor,” katanya.
Sejumlah langkah turut dilakukan, seperti pelepasan ikan untuk memperbaiki ekosistem serta rencana pembangunan fasilitas publik guna mendukung aktivitas warga dan potensi wisata.
Ketua Forum Komunikasi Winongo Asri Endah Rohjani menyampaikan bahwa gagasan menjadikan Winongo sebagai kawasan wisata telah lama dirintis oleh komunitas.
“Visi ‘Winongo Wisataku 2030’ sudah kami bangun sejak 2009. Ini proses panjang dan sekarang mulai terlihat perkembangannya,” ujarnya.
Menurutnya, kesinambungan program sangat bergantung pada edukasi berkelanjutan serta keterlibatan generasi muda dalam menjaga lingkungan sungai.
Pemilihan ketua RT RW setempat disebutnya akan menjadi momentum pergeseran kepemimpinan di wilayah yang akan diteruskan kepada generasi muda. “Regenerasi penting. Anak-anak muda harus ikut terlibat agar gerakan ini terus berjalan,” tegasnya.
Selain itu, pendekatan ekonomi juga mulai dikembangkan, seperti pertanian terpadu di bantaran sungai yang menggabungkan budidaya maggot, perikanan, dan peternakan.
Di sisi lain, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO), Maryadi Utama menegaskan pentingnya sinergi berbagai pihak dalam pengelolaan sungai.
“Ini adalah kerja kolektif. Tidak hanya pemerintah pusat, tetapi juga melibatkan swasta, mahasiswa, dan komunitas. Tanpa kolaborasi, upaya ini akan sulit berjalan maksimal,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kegiatan ini menjadi langkah awal untuk memperluas gerakan serupa di sungai-sungai lain di Yogyakarta, sehingga kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga sungai semakin meningkat.
Dengan semangat kebersamaan tersebut, Sungai Winongo diharapkan dapat bertransformasi menjadi kawasan yang bersih, produktif, serta memiliki nilai wisata bagi masyarakat. (populi.id/Hadid Pangestu)












