BANTUL, POPULI.ID – Kesejahteraan petani masih menjadi tantangan besar dalam pengembangan pertanian organik di Indonesia.
Meskipun sistem pertanian berkelanjutan kian diminati karena nilai ekonominya, para petani masih terhimpit berbagai persoalan nyata. Mulai dari rendahnya pendapatan dan sulitnya regenerasi petani, hingga masih lemahnya penguatan sosial di tingkat komunitas.
“Pertanian organik harus memberi dampak nyata terhadap kehidupan petani. Karena itu, ukuran keberhasilannya tidak cukup hanya pada peningkatan nilai jual produk. Namun, juga pada kemampuan rumah tangga petani memenuhi kebutuhan hidup, memperkuat daya tahan ekonomi, dan menjaga keberlangsungan kehidupannya,” jelas Guru Besar Bidang Ilmu Pembangunan Pertanian Berkelanjutan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Prof. Triyono sebagaimana dilansir dari laman UMY, Senin (11/5/2026).
Dalam penelitiannya, Prof. Triyono menemukan bahwa usaha tani padi organik memberikan kontribusi sebesar 34,71 persen terhadap kesejahteraan rumah tangga petani.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa pertanian organik memiliki peran penting dalam menopang kehidupan petani. Meskipun tingkat kesejahteraan rumah tangga tetap dipengaruhi oleh berbagai faktor lain di luar aktivitas budidaya.
Beberapa Faktor Pendukung Ekonomi Petani
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kondisi ekonomi petani tidak hanya ditentukan oleh hasil panen, tetapi juga dipengaruhi oleh akses pasar, kepemilikan lahan, kapasitas sumber daya manusia, hingga kemampuan rumah tangga dalam menghadapi tekanan ekonomi dan perubahan kondisi pertanian.
“Petani tidak hanya membutuhkan peningkatan produksi, tetapi juga perlindungan terhadap keberlangsungan hidup rumah tangga mereka. Ketahanan ekonomi keluarga petani menjadi bagian penting dalam pembangunan pertanian karena dari situlah keberlanjutan usaha tani dapat terus terjaga,” lanjutnya.
Dimensi Sosial Pertanian Organik Masih Lemah
Selain persoalan kesejahteraan, Prof. Triyono juga menyoroti masih lemahnya dimensi sosial dalam pengembangan pertanian organik. Menurutnya, berbagai program pertanian selama ini masih lebih banyak menitikberatkan pada aspek teknis dan produksi, sementara penguatan kapasitas sosial masyarakat tani belum menjadi perhatian utama.
Kondisi tersebut terlihat dari masih terbatasnya keterlibatan petani muda dan perempuan dalam pengembangan pertanian organik. Padahal, keberadaan generasi muda dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan sektor pertanian di tengah perubahan sosial dan ekonomi yang terus berkembang.
“Ketika generasi muda semakin menjauh dari sektor pertanian, maka tantangan yang dihadapi bukan hanya soal tenaga kerja, tetapi juga keberlanjutan pengetahuan dan masa depan pertanian itu sendiri. Karena itu, sektor pertanian harus mampu menghadirkan peluang yang lebih menjanjikan dan inklusif bagi generasi berikutnya,” tegas Prof. Triyono.
Dukungan dan Kolaborasi Berbagai Pihak
Untuk itu, penguatan kesejahteraan petani juga memerlukan dukungan kelembagaan dan kolaborasi dari berbagai pihak. Menurutnya, petani tidak dapat menghadapi tantangan pasar dan perubahan kondisi pertanian secara sendiri tanpa dukungan sistem yang lebih kuat.
Keterlibatan pemerintah, perguruan tinggi, lembaga pendamping, sektor swasta, hingga komunitas lokal dinilai penting untuk memperkuat posisi petani dalam rantai nilai pertanian. Dukungan tersebut diperlukan agar petani tidak hanya menjadi produsen, tetapi juga memperoleh akses yang lebih baik terhadap pasar, pendampingan, dan penguatan kapasitas ekonomi.

![Ilustrasi pemilu. [pexels]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/05/pexels-element5-1550337-120x86.jpg)










