SLEMAN, POPULI.ID – Pemerintah Kabupaten Sleman turut memberikan perhatian atas kebakaran berulang yang menimpa sebuah rumah warga di Padukuhan Kasuran, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan.
Sejumlah langkah telah dilakukan, termasuk membuka kemungkinan melibatkan perguruan tinggi dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk melakukan kajian lebih mendalam.
Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, mengatakan hingga saat ini fenomena munculnya api secara berulang di rumah tersebut masih dalam proses penyelidikan oleh pihak kepolisian dan instansi terkait.
Menurutnya, apabila penyebab kejadian belum dapat dipastikan melalui penanganan yang ada saat ini, Pemkab Sleman akan meminta dukungan dari kalangan akademisi untuk membantu penelitian secara ilmiah.
“Kalau nantinya kami belum bisa menemukan akar persoalannya, kami akan mengajukan permohonan pendampingan kepada pihak universitas,” ujar Danang.
Selain itu, Pemkab Sleman juga telah berkoordinasi dengan Anggota DPR RI My Esti Wijayati agar penanganan kasus tersebut dapat melibatkan BRIN. Langkah itu diharapkan mampu mempercepat proses identifikasi penyebab kebakaran yang meresahkan keluarga korban.
Danang menegaskan bahwa pemerintah daerah ingin memastikan fenomena tersebut ditelaah oleh pihak yang memiliki kompetensi dan kemampuan analisis yang memadai.
“Kami akan terus berkomunikasi dengan para ahli. Jika memang diperlukan kajian yang lebih mendalam dan di luar kapasitas pemerintah daerah, maka bantuan dari lembaga yang berwenang akan segera diupayakan,” katanya.
Saat ini, keluarga yang terdampak masih mengungsi demi alasan keselamatan. Pemerintah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman juga telah menyalurkan bantuan kebutuhan dasar kepada mereka.
Sementara itu, pemilik rumah, Mutfia, mengatakan penyebab kemunculan api hingga kini masih diteliti. Berdasarkan penjelasan awal yang diterimanya dari sejumlah ahli, fenomena tersebut diduga berkaitan dengan akumulasi gas metana.
Ia menjelaskan bahwa api diduga muncul akibat adanya penumpukan gas pada material tertentu yang kemudian bereaksi dengan oksigen dan sumber energi hingga memicu proses pembakaran.
“Yang kami pahami dari penjelasan para ahli, ini masih dalam tahap penelitian. Ada kemungkinan terkait akumulasi gas yang kemudian memicu munculnya api,” ujarnya.
Mutfia menceritakan, kejadian pertama kali diketahui saat sebuah kain lap yang masih basah tiba-tiba terbakar tanpa sebab yang jelas.
“Waktu itu ada kain bekas mengelap tumpahan es teh di lantai. Saat saya keluar dari kamar, kain tersebut sudah dalam kondisi terbakar,” katanya.
Ia mengaku tidak pernah mengalami kejadian serupa sebelumnya. Rumah yang ditempatinya telah berdiri selama kurang lebih 16 tahun dan selama itu tidak pernah muncul peristiwa aneh seperti sekarang.
“Selama saya hidup, baru kali ini mengalami kejadian seperti ini,” tuturnya.
Menurut Mutfia, keluarganya juga tidak mengetahui secara pasti riwayat lahan tempat rumah tersebut dibangun. Informasi yang mereka ketahui hanya menyebutkan bahwa kawasan tersebut dahulu merupakan area persawahan.
Fenomena kebakaran berulang itu pun menarik perhatian masyarakat. Banyak warga datang untuk melihat langsung kondisi rumah, termasuk pihak-pihak yang mengaitkannya dengan hal-hal mistis. Namun demikian, Mutfia memilih menunggu hasil kajian ilmiah yang sedang dilakukan.
“Kalau ada yang berpendapat lain, saya menghormati saja. Tetapi saya lebih memilih menunggu penjelasan dari para ahli,” ujarnya.
Saat ini, Mutfia bersama enam anggota keluarganya masih tinggal sementara di rumah kerabat yang berada di dekat lokasi. Mereka mengaku tetap waspada karena kemunculan api masih terjadi dan waktunya tidak dapat diprediksi.
“Tidak ada jam tertentu, tetapi hampir setiap hari masih muncul api. Karena itu kami masih harus berhati-hati,” katanya.
Meski masih diliputi kekhawatiran, Mutfia mengapresiasi perhatian dan bantuan yang diberikan pemerintah daerah serta berbagai instansi terkait selama proses penanganan berlangsung.
“Pemerintah dan instansi terkait sudah mendampingi kami dengan baik. Kami berharap pendampingan ini terus berlanjut sampai penyebabnya benar-benar ditemukan,” pungkasnya.
Sebelumnya kebakaran tersebut telah terjadi sebanyak 51 kali pada Jumat (30/5/2026). Adapun sebaran api terjadi di berbagai titik rumah.
Pihak keluarga diketahui juga telah melakukan penyadapan terhadap septic tank dan pembongkaran sebagian keramik rumah untuk mengurangi kemungkinan terakumulasinya gas dari dalam tanah. (populi.id/Hadid Pangestu)










![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)

