SLEMAN, POPULI.ID – Fenomena kebakaran misterius yang terus terjadi di rumah Muftiana di Padukuhan Kasuran, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Sleman, tidak hanya menimbulkan kerugian materi. Peristiwa yang telah terjadi sebanyak 97 kali itu juga berdampak pada kondisi kesehatan dan aktivitas ekonomi keluarga korban.
Muftiana mengaku dirinya bersama anggota keluarga harus berjaga hampir sepanjang hari untuk mengantisipasi munculnya api secara tiba-tiba. Akibatnya, waktu istirahat mereka menjadi sangat terbatas.
“Kalau tidur paling sekitar tiga jam, lalu gantian dengan keluarga atau relawan yang membantu berjaga. Setiap hari seperti itu,” ujar Muftiana, Kamis (4/6/2026).
Kurangnya waktu istirahat membuat kondisi fisik dan psikologis keluarga mulai terganggu. Ia mengaku sering mengalami kelelahan akibat begadang, sementara pola makan sehari-hari juga menjadi tidak teratur.
“Secara psikologis jelas terganggu. Tensi naik karena sering begadang, kurang tidur, dan makan juga tidak teratur. Biasanya makan buah, sekarang sering tidak sempat,” katanya.
Selain berdampak pada kesehatan, kebakaran yang diduga berkaitan dengan gas dari dalam tanah tersebut juga mengganggu usaha pemotongan ayam yang menjadi sumber penghasilan keluarga. Menurut Muftiana, ketidakpastian kondisi di sekitar rumah membuat aktivitas usaha tidak bisa berjalan normal.
Karena itu, ia berharap apabila pemerintah mempertimbangkan relokasi sementara, lokasi yang dipilih tidak terlalu jauh dari tempat usaha saat ini.
“Kalau terlalu jauh, pelanggan bisa pergi. Kami berharap kalau ada relokasi sementara masih di sekitar sini supaya usaha tetap bisa berjalan,” ujarnya.
Muftiana mengatakan hingga saat ini kerugian yang dialami keluarganya terus bertambah. Jika sebelumnya ditaksir sekitar Rp40 juta, kini nilainya diperkirakan telah mencapai sekitar Rp70 juta.
Jumlah tersebut belum termasuk potensi kehilangan pendapatan usaha maupun biaya yang harus dikeluarkan untuk mendukung proses penelitian, seperti pembongkaran septic tank dan sejumlah bagian rumah.
“Kerugian itu belum termasuk omzet usaha yang turun. Kami juga mengeluarkan biaya sendiri untuk pembongkaran septic tank dan kebutuhan lainnya selama penelitian berlangsung,” ungkapnya.
Di tengah kondisi tersebut, Muftiana tetap mendukung proses penelitian yang dilakukan tim gabungan dari berbagai lembaga. Ia berharap penelitian dapat segera menemukan penyebab pasti kemunculan api sehingga warga sekitar tidak lagi diliputi kekhawatiran.
“Penelitian sangat membantu karena bisa menjawab pertanyaan masyarakat. Saya sendiri baru tahu ada kebakaran seperti ini yang asal-usulnya belum diketahui,” katanya.
Sembari menunggu hasil penelitian dari pihak terkait, keluarga korban berharap pemerintah dapat menyediakan hunian sementara yang lebih layak. Saat ini sebagian besar barang telah dipindahkan dari rumah, namun keterbatasan tempat membuat proses evakuasi tidak dapat dilakukan secara maksimal.
“Yang penting sekarang ada tempat tinggal sementara yang aman. Penelitian silakan terus berjalan, kami mendukung, tetapi kebutuhan keluarga juga perlu diperhatikan,” pungkasnya. (populi.id/Hadid Pangestu)










![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)

