SLEMAN, POPULI.ID – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman bersama DPRD Sleman terus berkomitmen membangun Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul dan berdaya saing guna menekan angka pengangguran terbuka di wilayah Sleman. Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah untuk memastikan angkatan kerja memiliki keterampilan yang selaras dengan tuntutan dunia usaha dan industri saat ini.
Langkah tersebut diambil sebagai respons atas tantangan ketenagakerjaan di Sleman saat ini yang tidak hanya sekadar ketersediaan lapangan kerja, melainkan juga muncul masalah mismatch atau ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan pendidikan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.
Pembahasan itu mengemuka dalam acara Talkshow Sleman Bertumbuh dengan tema “SDM Sleman Siap Kerja, Kompeten, dan Berdaya Saing”, pada Rabu (23/9/2026). Kegiatan bincang-bincang yang digelar di Arkamaya Kusuma Resort, Gamping, Sleman itu menghadirkan narasumber Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sleman, Wawan Widiantoro, dan Anggota DPRD Sleman, Budi Sunyata.
Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Sleman, Wawan Widiantoro, menyoroti bahwa persoalan utama ketenagakerjaan di Sleman saat ini bukan semata-mata minimnya lowongan kerja. Akan tetapi, hal itu juga dipengaruhi adanya ketidaksesuaian antara keterampilan lulusan sekolah dengan kebutuhan industri dunia kerja.
“Banyak sekali yang pekerjaan, pendidikan, dan lowongan kerjanya kurang cocok. Salah satu masalah sosial di Kabupaten Sleman ini adalah pengangguran. Lulusan SD, SMP, SMA, SMK, bahkan universitas bisa menganggur kalau tidak cocok dengan kebutuhan dunia kerja,” ujar Wawan.
Dia menuturkan, masalah pengangguran jika tidak ditangani secara serius maka akan berisiko memicu masalah sosial baru yang lebih kompleks. Selain meningkatkan potensi kriminalitas, pengangguran usia muda kini juga rentan terjerat iming-iming judi online (judol) yang bakal mempengaruhi kualitas perekonomian keluarga ke depan.
Untuk menanggulangi hal tersebut, Pemkab Sleman melalui Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) dan Dinas Sosial menyediakan berbagai pelatihan keahlian. Masyarakat, tanpa batasan usia maupun latar belakang pendidikan didorong untuk mengasah keahlian (update skill) di Balai Latihan Kerja (BLK) yang menyediakan 11 kejuruan, mulai dari teknik otomotif, elektronika, pemasaran, hingga tata boga.
“Belajar itu tidak ada batas umur. Yang penting ada minat dan mau meningkatkan skill. Kalau sekolahnya dulu jurusan otomotif tapi ingin belajar tata boga untuk buka usaha, bisa mengajukan pelatihan di BLK,” ujarnya.
Peluang Besar
Wawan membeberkan, peluang penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Sleman sebenarnya sangat besar. Mengingat pertumbuhan ekonomi Kabupaten Sleman merupakan yang tertinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), yakni mencapai 6,53 persen.
“Pertumbuhan ekonomi yang tinggi, Insyaallah memberikan jumlah lapangan kerja yang lebih banyak. Jangan sampai lowongan yang banyak justru diisi warga luar daerah karena warga lokalnya kurang keahlian. Kesempatan itu harus dipakai,” tegasnya.
Wawan tak menampik bahwa setiap daerah memiliki dinamika, permasalahan, dan kebutuhan masing-masing. Oleh karena itu, Pemkab Sleman melalui masing-masing OPD (organisasi perangkat daerah) telah melakukan pemetaan untuk mengidentifikasi permasalahan dan mencarikan solusinya, terutama untuk menangani angka pengangguran.
Salah satu Langkah konkret yang dilakukan Pemkab Sleman melalui Dinsos Sleman yakni menghadirkan program beasiswa Sleman Pintar untuk anak-anak berprestasi dari keluarga miskin atau pra-sejahtera. Sebanyak 130 siswa lulusan SMA/SMK dari keluarga miskin telah diberikan kesempatan untuk menimba ilmu di perguruan tinggi.
Bahkan sejak 2025, program itu dikembangkan menjadi Sleman Pintar Plus Plus berkat kerja sama dengan perguruan tinggi dan ratusan perusahaan. Lewat skema itu, mahasiswa berkuliah selama dua tahun di kampus dan dilanjutkan magang di perusahaan selama 1,5 tahun.
“Bupati Sleman bahkan telah mengundang 100 pengusaha dan 100 perusahaan se-DIY untuk memperkuat komitmen magang ini. Peserta magang tidak hanya mendapatkan pengalaman kerja, tetapi juga insentif uang saku. Bahkan ada yang mencapai UMR Karawang sebesar Rp6,1 juta per bulan. Setelah lulus, mereka mengantongi ijazah sekaligus surat pengalaman kerja, dan banyak yang langsung diangkat menjadi karyawan tetap,” bebernya.(Dewi Rukmini)



![ilustrasi pekerja informal. [vecteezy/Amien Rahmat Noprianto Yusuf]](https://populi.id/wp-content/uploads/2025/10/vecteezy_a-scavenger-pulls-his-cart-along-a-street-the-concept-of_47004770-120x86.jpeg)




![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)



