BANTUL, POPULI.ID – Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional pada Agustus 2025 tercatat sebesar 4,85 persen, turun 0,06 poin dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini diiringi peningkatan jumlah penduduk bekerja yang mencapai 146,54 juta orang, atau bertambah sekitar 1,9 juta pekerja dibanding Agustus 2024. Di sisi lain, rata-rata upah pekerja meningkat 1,94 persen menjadi Rp3,33 juta per bulan.
Menurut Dosen Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Khalifany Ash Shidiqi tren positif tersebut berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang solid.
“Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) triwulan III-2025 sebesar 5,04 persen year-on-year menandakan kapasitas ekonomi kita masih ekspansif. Penurunan pengangguran terjadi bukan karena orang berhenti mencari kerja, tetapi karena jumlah lowongan meningkat dan berhasil diserap pasar tenaga kerja,” jelasnya dikutip dari laman UMY, Selasa (11/11/2025).
Khalifany menjelaskan, terdapat beberapa faktor utama yang mendorong penurunan angka pengangguran tahun ini. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi penyerap tenaga kerja terbesar, dengan tambahan sekitar 490 ribu pekerja. Selain itu, terdapat pergeseran positif ke arah pekerjaan formal, di mana proporsi pekerja formal naik dari 42,05 persen menjadi 42,20 persen.
Meski demikian, Khalifany mengingatkan bahwa kualitas pekerjaan masih menjadi tantangan besar. Berdasarkan data BPS, sekitar 67,32 persen pekerja tergolong penuh waktu, 24,77 persen bekerja paruh waktu, dan 7,91 persen masih setengah menganggur. Struktur pasar tenaga kerja juga masih didominasi sektor informal.
“Naiknya pekerja formal memang kabar baik, tapi mayoritas tenaga kerja kita masih di sektor informal dengan produktivitas rendah. Artinya, perbaikan kualitas pekerjaan harus terus dikejar, terutama dengan memastikan jam kerja penuh dan perlindungan sosial yang memadai,” ujarnya.
Sementara itu, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi satu di antara provinsi dengan profil pasar kerja yang relatif baik. Pada Agustus 2025, TPT DIY tercatat sebesar 3,46 persen, turun tipis dari tahun sebelumnya. Penyerapan tenaga kerja tertinggi terdapat pada sektor industri pengolahan serta akomodasi, makanan, dan minuman.
“Ekosistem pendidikan, pariwisata, dan industri kreatif di DIY berjalan sangat sinergis. Magang berbasis kebutuhan usaha dan kalender akademik membantu transisi lulusan ke dunia kerja. Ini contoh baik bagaimana kebijakan daerah bisa sinkron dengan dinamika ekonomi lokal,” ungkapnya.
Agar tren positif ini berlanjut, Khalifany merekomendasikan sejumlah kebijakan strategis, antara lain penyelarasan program Technical and Vocational Education and Training (TVET) dan kurikulum vokasi dengan kebutuhan keterampilan masa depan. Ia juga menekankan pentingnya penguatan layanan transisi dari masa sekolah ke dunia kerja, melalui portal prospek karier berbasis data dan bursa kerja dengan sistem penilaian keterampilan yang terukur.
“Generasi muda jangan hanya menunggu kesempatan, tapi bangun portofolio pengalaman lewat magang berbasis proyek di sektor-sektor berprospek tinggi. Anak muda perlu fleksibel lintas sektor dan wilayah, karena kecepatan belajar serta kemampuan beradaptasi terhadap teknologi adalah kunci untuk naik kelas menuju pekerjaan formal,” tutup Khalifany.

![Ilustrasi beras. [vecteezy/Suwinai Sukanant]](https://populi.id/wp-content/uploads/2025/07/ilustrasi-beras-120x86.png)










