JAKARTA, POPULI.ID – Mantan Menteri Perdagangan, Thomas Trikasih Lembong alias Tom Lembong, memberikan tanggapan kritis terhadap pernyataan Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, terkait kondisi ekonomi Indonesia.
Tom menilai upaya pemerintah untuk meyakinkan publik bahwa ekonomi dalam keadaan “baik-baik saja” adalah langkah yang berbahaya karena tidak berpijak pada realitas tantangan yang ada.
Dalam sebuah siniar di kanal YouTube Akbar Faizal Uncensored, Tom Lembong menyatakan ketidaksetujuannya terhadap narasi optimisme yang dibangun oleh Purbaya di tengah rapuhnya kondisi fiskal dan moneter nasional.
“Hemat saya, pendekatan yang diambil pemerintah saat ini ya, termasuk oleh Pak Menteri Keuangan, justru sangat-sangat riskan,” ujar Tom dikutip Kamis (7/5/2026).
Tom menilai risiko terbesar muncul karena pemerintah dianggap tidak berani berterus terang mengenai tantangan nyata, terutama pada sektor neraca pembayaran. Ia menunjuk besarnya biaya yang harus ditanggung negara untuk mengimpor minyak mentah dan BBM yang harganya terus melonjak akibat krisis global.
Ia mengungkapkan bahwa beban yang harus ditutup oleh APBN untuk menambal selisih harga impor tersebut sangatlah besar.
“Pak Menteri Keuangan sudah menyampaikan juga bahwa selisih harga yang harus dibayar oleh Pertamina itu akan didanai dari APBN. Seingat saya menteri keuangan bilang itu 1,2 miliar dolar per bulan,” ungkap Tom.
Menurut Tom, angka tersebut merupakan beban yang sangat berat bagi arus modal nasional, terlebih Indonesia saat ini sedang menanggung warisan utang yang besar dari periode pemerintahan sebelumnya.
Kritik Tom juga menyasar pada inkonsistensi antara pernyataan pejabat pemerintah dengan indikator ekonomi yang dirasakan pasar. Ia menyebut bahwa melemahnya nilai tukar rupiah dan anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) adalah bukti nyata bahwa investor mulai meragukan narasi pemerintah.
“Kalau terjadi inkonsistensi, terjadi kontradiksi antara pernyataan pejabat dengan realita yang di depan mata, itu semacam bentuk ketidakjujuran atau dipersepsikan oleh investor sebagai sebuah bentuk ketidakjujuran,” tegasnya.
Tom menambahkan bahwa investor internasional sangat teliti dalam memantau apakah sebuah negara berani menghadapi realita atau justru menutup-nutupinya. Menurut Tom, sikap yang terlalu optimistis namun kontradiktif dengan data di lapangan hanya akan membuat modal keluar dari Indonesia semakin deras.
Tom mengimbau agar pemerintah, termasuk menteri keuangan, lebih berani berbicara mengenai kondisi aset-aset yang dibangun dari utang masa lalu namun ternyata tidak produktif. Ia menyayangkan tidak adanya keterbukaan mengenai proyek-proyek gagal yang kini justru membebani ruang fiskal pemerintah saat ini.
“Saya akan mengimbau beliau (Purbaya) untuk lebih terbuka lagi, lebih jujur lagi, lebih realistis lagi. Ini kan kalau penilaian saya, mungkin dua per tiga dari masalah yang kita hadapi sekarang itu warisan,” kata Tom.












