YOGYAKARTA, POPULI.ID – Puluhan kios permak jeans yang berada di sepanjang Jalan Dr. Sardjito, Kelurahan Terban, Kemantren Gondokusuman, Kota Yogyakarta sudah ditinggalkan pemiliknya.
Sejumlah kios semi permanen itu kini tinggal menyisakan puing triplek, papan atau spanduk nama kios, hingga beberapa pakaian dan tas bekas. Aktivitas jahit menjahit sudah tak terlihat di lokasi tersebut.
Tak jauh dari lokasi kios, tepatnya di dekat lampu APILL, terpasang spanduk yang menginformasikan bahwa kios permak jeans pindah ke komplek Pasar Terban. Meski begitu, ada beberapa kios yang menempelkan tulisan pindah ke lokasi lain, satu di antaranya di Jalan Demangan Baru.
Seorang penjahit, Mulyadi, (50), mengatakan sesuai surat pemberitahuan relokasi terakhir, para penjahit harus mengosongkan kios pada 15 Januari 2025. Para penjahit pun mengikuti aturan itu, sehingga pada 14 Januari 2025 mulai memindahkan barang-barang.
Dikatakan, sebagian besar penjahit langsung pindah menempati kios baru di Pasar Terban yang sudah disediakan pemerintah. Akan tetapi ada beberapa penjahit yang memilih mencari kios baru di tempat lain, termasuk dirinya.
“Total yang direlokasi ada sekitar 70-an, itu ada pedagang kuliner, servis sepatu, tas, dan penjahit permak. Sebetulnya memang banyak yang ke Pasar Terban. Tapi kalau permak banyak yang cari kios di luar. Kalau yang pindah di Jalan Demangan Baru sebanyak tujuh atau delapan penjahit, tapi kami juga ambil di pasar,” terangnya, Selasa (20/01/2026).
Mulyadi menyebut ada beberapa pertimbangan tidak langsung menempati kios yang sudah disediakan di Pasar Terban. Di antaranya karena barang-barangnya tidak muat jika dipindah ke kios Pasar Terban.

Menurutnya, keberadaan dua meja cor membuat kios di Pasar Terban sempit untuk penjahit. Selain itu, kios penjahit di Pasar Terban juga dinilai terlalu terbuka untuk menyimpan barang-barang.
Maka, penjahit harus melakukan perombakan agar mesin jahit bisa masuk dan barang-barang bisa disimpan ketika ditinggal pulang. Kendati demikian, perombakan kios tidak bisa serta merta dan harus mengikuti aturan pasar. Oleh karena itu, dia memilih mencari tempat lain terlebih dahulu.
“Sekarang di sana kan sedang dicarikan solusi. Kami menunggu solusi itu dan harapannya ingin menempati Pasar Terban, karena kami semua minat ke pasar. Semoga nanti ada kebijakan yang bisa mendukung,” tuturnya.
Penjahit lainnya, Setiono, memilih tidak pindah ke Pasar Terban karena kios yang disediakan pemerintah dinilai kurang cocok untuk penjahit. Sehingga dia harus melakukan perombakan agar nyaman untuk menjahit.
“Kalau teman-teman sih sebagian ambil kios itu, tapi saya tidak. Ya harus modal lagi dan tidak siap pakai, masalahnya di situ,” ucap dia.
Di sisi lain, dia menilai lokasi Jalan Demangan Baru lebih strategis bagi penjahit permak pakaian. Sebab, lokasinya mudah ditemukan dan pelanggan tidak perlu parkir.
“Kalau di Pasar Terban kan harus masuk dan parkir dulu. Kalau di pinggir jalan itu sangat berpengaruh mendatangkan pelanggan. Karena orang-orang pulang kerja tinggal mampir sebentar. Makanya sebagian pindah ke sini,” katanya.
Senada, Indra (42), penjahit dari Jalan Dr. Sardjito juga lebih memilih pindah ke Jalan Demangan Baru. Sebab, ia merasa nyaman dan terbiasa membuka lapak menjahit di pinggir jalan. Apalagi, rata-rata pelanggannya hanya mampir sebentar sehingga tidak mau parkir.
“Saya sudah puluhan tahun terbiasa di pinggir jalan, toh langganan saya juga kadang tidak mau parkir. Biasanya mereka turun dari kendaraan dan langsung saya kasih (jahitannya). Tapi nanti saya tetap buka di sana (Pasar Terban),” tutupnya. (populi.id/Dewi Rukmini)


![Wisatawan mencoba fasilitas air siap minum yang disediakan Pemkot Yogyakarta di kawasan Malioboro. [Dok Pemkot Yogyakarta]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/01/minum-dari-fasilitas-air-siap-minum-120x86.png)









