YOGYAKARTA, POPULI.ID – Puji (42), duduk terdiam menunggu pelanggan datang ke warung angkringannya pada Selasa (27/1/2026). Sesekali ia menyeruput segelas teh hangat sambil memandang jauh di antara aktivitas pedagang Pasar Induk Buah dan Sayur Giwangan, Kota Yogyakarta, DIY.
Pandangannya tampak sayu melihat kursi angkringan yang masih saja kosong, padahal saat itu sudah memasuki jam makan siang. Biasanya, kursi-kursi tersebut sudah dipenuhi jejeran pelanggan yang memesan minum untuk melepas dahaga.
Alih-alih keramaian pelanggan, justru tumpukan sampah buah dan sayuran lah yang memenuhi pandangan mata Puji.
Bagaimana tidak? Warung angkringan Puji berada tepat di samping depo sampah Pasar Induk Buah dan Sayur Giwangan.
Depo yang seharusnya menjadi tempat pengolahan sampah reduce, reuse, recycle (TPS 3R) itu kini penuh tumpukan karung sampah. Saking penuhnya, penampungan sampah tersebut tampak meluber sampai bahu jalan.
“Sudah sebulan lebih sampah-sampah tidak diangkut. Padahal dulu setiap pagi pasti diangkut, tapi mulai sebulan ini menumpuk,” ungkap Puji kepada Populi.id, Selasa (27/1/2026).
Dia mengaku tak tahu alasan pasti tumpukan sampah di Pasar Induk Giwangan itu tidak segera diangkut.
Dia merasa tumpukan sampah itu sangat mengganggu aktivitas jualannya. Lantaran, bau tak sedap yang bersumber dari tumpukan sampah membuat pelanggannya berpikir dua kali untuk mampir.
“Ya sangat berpengaruh, sekarang jadi sepi. Pelanggan yang mau makan pasti mikir-mikir lagi kalau baunya begini. Jangankan pelanggan, kami yang nunggu juga agak mual, pernapasannya juga agak engap,” katanya.
Sejak tumpukan sampah tak diangkut, Puji mengaku mengalami penurunan pemasukan. Jika biasanya bisa menjual 50 gelas minuman per hari. Kini dia hanya bisa menjual minuman di bawah 20 gelas per hari.
“Ya kebanyakan dibungkus bawa pulang. Kalau diminum di sini pada tidak mau. Saya juga jadi sering libur karena mikirin sampah itu, daripada tidak laku,” tutur dia.
Sementara itu, Pengawas Kebersihan Pasar Induk Giwangan, Sugeng, mengungkapkan ada sebanyak tujuh titik tumpukan sampah yang muncul di Pasar Induk Giwangan.
Kondisi yang berlangsung sebulan terakhir itu muncul karena pada 2025 armada pengangkut sampah tidak pasti datang.
Ditambah, pada awal 2026 TPA Piyungan sudah benar-benar ditutup, sehingga semakin memperparah tumpukan sampah di pasar rakyat tersebut.
“Dari dinas sudah berkoordinasi dan masih mencari cara untuk menyelesaikan masalah ini,” kata dia.
Sugeng menyebut, sebagian besar tumpukan itu berupa sampah organik dari sisa sayur dan buah-buahan busuk. Bahkan sebesar 70 persen berupa buah jeruk busuk atau tak layak jual (BS).
“Kalau semua sampah mau diangkut dalam sehari, membutuhkan 7 armada karena beratnya bisa sampai 30-an ton. Kalau kondisi sampah dari awal nol ton, paling 3 hari diangkut satu armada bisa cukup,” pungkasnya. (populi.id/Dewi Rukmini)



![Penumpang memasuki kereta api dari stasiun Yogyakarta. [Dok. PT KAI]](https://populi.id/wp-content/uploads/2025/03/pt-KAI-120x86.png)







