• Tentang Kami
Thursday, February 26, 2026
populi.id
No Result
View All Result
  • Login
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
No Result
View All Result
populi.id
No Result
View All Result
Home headline

Polemik Alumni LPDP, Mahfud MD: Setuju Sanksi Tegas bagi Pelanggar, Pemerintah Perlu Koreksi Diri

Sikap flexing Dwi Sasetyaningtyas sebagai alumni beasiswa LPDP yang membanggakan anaknya sebagai WNA membuat Mahfud MD geram

byredaksi
February 25, 2026
in headline, Politainment
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Kolase foto Mahfud MD dan Dwi Sasetyaningtyas

Kolase foto Mahfud MD dan Dwi Sasetyaningtyas

0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare via WhatsApp

JAKARTA, POPULI.ID – Belakangan ini, ruang publik dihebohkan dengan pernyataan seorang alumni beasiswa LPDP bernama Dwi Sasetyaningtyas (Tyas) yang viral karena mengekspresikan kebanggaan atas status anaknya yang menjadi Warga Negara Asing (WNA).

Aksi flexing atau pamer tersebut belakangan memicu perdebatan mengenai nasionalisme, kewajiban warga negara, dan tanggung jawab negara dalam mengayomi rakyatnya.

BERITA MENARIK LAINNYA

Penjelasan Beasiswa LPDP, Sempat Viral Usai Polemik Cukup Aku yang WNI

4 Catatan Mahfud MD Soal Penegakan Hukum hingga Tata Kelola Sosial di Indonesia

Kasusnya bermula dari unggahan Tyas di akun Threads miliknya yang secara terbuka menyatakan, “Cukup saya aja yang jadi WNI karena anak saya enggak usah”.

Pernyataan tersebut dianggap melukai perasaan banyak pihak, termasuk mantan Menko Polhukam Mahfud MD, yang merasa bahwa hal tersebut merupakan penghinaan terhadap Republik Indonesia.

Mahfud MD mengakui bahwa secara personal merasa marah mendengar pernyataan tersebut. Sebagai orang yang merasakan nikmatnya kemerdekaan dan mendapatkan fasilitas pendidikan dari negara, ia menilai tindakan tersebut menyakitkan. Namun, Mahfud juga mencoba melihat sisi lain dari tindakan itu.

“Saya marah pada Anda menghina republik ini, tapi juga saya paham bahwa apa yang Anda katakan itu karena fakta yang sering mengecewakan,” ujar Mahfud dalam kanal YouTube Mahfud MD Official dilansir Rabu (25/2/2026).

Ia menyadari bahwa sikap tersebut tidak muncul tanpa alasan, melainkan berakar pada keputusasaan masyarakat terhadap pelayanan dan perlindungan negara.

Menurut Mahfud, nasionalisme bukanlah sesuatu yang statis, melainkan sangat dipengaruhi oleh bagaimana negara memperlakukan rakyatnya.

Ia menggarisbawahi beberapa alasan mengapa warga negara bisa merasa ingin “kabur” atau lebih memilih status WNA, beberapa di antaranya:

1. Ketidakadilan Hukum: Sulitnya mengeksekusi putusan hukum yang sudah berkekuatan hukum tetap (inkracht) tanpa membayar pungutan ilegal.

2. Praktik Pemerasan: Hambatan dalam berusaha, seperti perizinan yang dipersulit atau adanya “dana keamanan” tanpa kuitansi.

3. Hambatan Karier: Sulitnya mendapatkan pekerjaan jika tidak memiliki akses atau “orang dalam”.

“Kesetiaan kepada republik ini akan luntur, rasa cinta kepada bangsa ini akan menjadi hilang secara pelan-pelan kalau negara ini tidak mampu mengayomi rakyatnya,” tegas Mahfud.

Menurutnya, jika kebutuhan dasar seperti keamanan dan keadilan tidak terpenuhi, maka orang akan cenderung mencari tempat lain yang bisa menjamin kelangsungan hidup mereka.

Terkait kasus Tyas, pemerintah telah mengambil langkah tegas dengan mem-blacklist suaminya yang merupakan penerima beasiswa LPDP dan mewajibkan pengembalian seluruh dana pendidikan beserta bunganya.

Mahfud MD menyatakan dukungannya terhadap tindakan administratif ini sebagai bentuk ketegasan terhadap pelanggaran kontrak.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa tindakan tegas saja tidak cukup. Pemerintah harus melakukan introspeksi mendalam.

“Pemerintah harus mengubah dong karena ini bukan hanya Tyas, ini kan hanya orang mewakili suara publik yang sebenarnya sudah terasa terutama di masyarakat-masyarakat kecil,” kata Mahfud.

Ia juga memberikan catatan penting mengenai perbedaan antara mengkritik pemerintah dan menyerang negara. Mahfud berpendapat bahwa ketidakpuasan terhadap kinerja pemerintah yang dianggap tidak kompeten atau korup tidak seharusnya membuat seseorang membenci negaranya sendiri.

“Jangan negaranya yang diserang. ‘Saya tidak suka jadi WNI’, itu kan negara. Ketidakpuasan kepada situasi pemerintah jangan negara yang dikorbankan,” ujar Mahfud.

Tags: beasiswa LPDPDwi SasetyaningtyasMahfud MDnasionalismeWNA

Related Posts

Ilustrasi beasiswa LPDP

Penjelasan Beasiswa LPDP, Sempat Viral Usai Polemik Cukup Aku yang WNI

February 24, 2026
Mahfud MD dalam program acaranya bertajuk Terus Terang

4 Catatan Mahfud MD Soal Penegakan Hukum hingga Tata Kelola Sosial di Indonesia

February 18, 2026
Mahfud MD menyoroti soal anjloknya Indeks Persepsi Korupsi Indonesia.

Soroti Indeks Korupsi Indonesia Anjlok, Mahfud MD: Kalau Hukum Dimain-mainkan Negara Terancam

February 11, 2026
Ilustrasi kereta api cepat Indonesia-China (KCIC) atau Whoosh

Pakar Hukum Desak Tindak Lanjut Dugaan Korupsi Whoosh: Jangan Biarkan di Dalam Ruang Gelap

November 11, 2025
Mantan Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD saat diwawancarai wartawan di komplek Kepatihan, Danurejan, Kota Yogyakarta, Kamis (4/9/2025). (populi.id/Hadid Pangestu)

Mahfud MD: Yogyakarta Barometer Indonesia, Jangan Sampai Dibuat Panas

September 4, 2025
Mantan Menko Polhukam Mahfud MD

Nadiem Makarim Ditetapkan Tersangka, Mahfud MD Koreksi Kejagung Lebih Cermat

September 4, 2025
Next Post
Ilustrasi pelajar mengikuti sistem pendidikan Indonesia

Memahami Pendidikan Khas Kejogjaan yang Bakal Diterapkan di Seluruh DIY

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No Result
View All Result

TERPOPULER

Ilustrasi SMP di Sleman

8 SMP Terbaik di Sleman yang Bisa Jadi Pilihan

June 4, 2025
Kabupaten Bantul memiliki sejumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang menjadi incaran para pendaftar.

10 SMP Favorit di Bantul: Pilihan Terbaik Sekolah Negeri dan Swasta

June 18, 2025
Berikut 10 SMP unggulan di Bantul yang bisa dijadikan acuan sebelum mendaftar SPBM 2025.

Inilah 7 SMP Unggulan di Bantul yang Paling Diburu Jelang SPMB 2025

June 9, 2025
ilustrasi : Sekolah Dasar

10 SD Favorit di Bantul dengan Akreditasi A, Layak Jadi Pilihan!

June 12, 2025
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo.

Penetapan UMK dan UMP DIY 2026 Berpotensi Mundur, Wali Kota Yogyakarta Berharap Ada Kenaikan

December 12, 2025

Subscribe

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Copyright ©2025 | populi.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO

Copyright ©2025. populi.id - All Right Reserved.