BANTUL, POPULI.ID – Suhu di atas normal yang melanda Indonesia pada periode pancaroba April 2026 berpotensi mengancam produktivitas sejumlah komoditas pangan strategis, terutama padi dan jagung yang tengah memasuki fase pertumbuhan paling rentan.
Peringatan tersebut disampaikan Dosen Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Oki Wijaya, M.P., dilansir dari laman UMY, Selasa (21/4/2026).
“Dampak paling nyata adalah penurunan produktivitas karena proses biologis tanaman terganggu, terutama pada fase reproduktif. Suhu tinggi meningkatkan kehilangan air, mengganggu fotosintesis, mempercepat stres tanaman, serta mengganggu pembungaan, penyerbukan, dan pembentukan hasil,” ujar Oki.
Penurunan Hasil Panen Berpotensi Terjadi
Oki mengungkapkan bahwa setiap kenaikan 1 derajat Celsius suhu rata-rata global diperkirakan menurunkan hasil padi sebesar 3,2 persen, jagung 7,4 persen, gandum 6,0 persen, dan kedelai 3,1 persen. Menurutnya, angka tersebut bukan sekadar asumsi teoritis, melainkan indikator nyata yang relevan dengan kondisi saat ini.
“Panas yang dirasakan sekarang bukan sekadar kejadian sesaat, melainkan bagian dari tren pemanasan yang lebih luas. Titik acuannya sudah bergeser ke arah yang lebih hangat,” tegasnya.
Komoditas Paling Rentan
Di antara berbagai komoditas pangan, Oki menyebut padi, jagung, cabai, dan tomat sebagai yang paling rentan terhadap suhu ekstrem.
Pada tanaman padi, suhu tinggi saat fase pembungaan dan pengisian gabah dapat meningkatkan sterilitas bunga sehingga bulir tidak terbentuk sempurna. Sementara itu, jagung dinilai lebih sensitif, terutama pada fase tasseling, silking, dan awal pengisian biji.
Untuk komoditas hortikultura, cabai sangat sensitif pada fase awal perkembangan benih setelah anthesis, yang dapat menurunkan fruit set, bobot buah, dan mutu benih. Tomat juga menghadapi risiko serupa karena suhu tinggi dapat menurunkan viabilitas serbuk sari dan mengganggu proses pembuahan.
Selain itu, komoditas perkebunan seperti kopi, khususnya di wilayah dataran tinggi, juga perlu diwaspadai.
Gejala Awal dan Risiko Lapangan
Oki menjelaskan bahwa dampak suhu ekstrem sebenarnya sudah mulai terlihat di lapangan, meskipun belum selalu tercatat sebagai kegagalan panen total. Gejala awal antara lain tanaman cepat layu pada siang hari, gangguan pembungaan, serta penurunan kualitas hasil.
“Penurunan kualitas atau hasil bisa terjadi sebelum tercatat secara resmi sebagai penurunan produksi wilayah. Untuk memastikan skala dampaknya, tetap diperlukan verifikasi lapangan per komoditas dan wilayah,” jelasnya.
Kombinasi Panas dan Kekeringan
Menurut Oki, suhu tinggi menjadi lebih berbahaya ketika disertai kekurangan air. Pada masa pancaroba dengan curah hujan yang menurun, tanaman menghadapi tekanan ganda.
“Masalah utamanya bukan hanya panas, tetapi panas yang bertemu dengan kekurangan air. Ketika kedua faktor ini terjadi bersamaan, dampaknya terhadap tanaman akan jauh lebih berat,” imbuhnya.
Rekomendasi Adaptasi
Sebagai langkah mitigasi, Oki merekomendasikan petani untuk menyesuaikan waktu tanam, meningkatkan efisiensi penggunaan air, memprioritaskan perlindungan pada fase berbunga, serta menggunakan varietas yang lebih toleran terhadap cekaman panas.
Ia juga mendorong pemerintah untuk memastikan ketersediaan informasi cuaca yang operasional, akses terhadap benih tahan panas, serta penguatan infrastruktur irigasi guna menjaga stabilitas produksi pangan.












