YOGYAKARTA, POPULI.ID – Harga minyak goreng di Pasar Kranggan, Kota Yogyakarta melonjak signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Komoditi bahan pokok untuk goreng-mengoreng makanan itu mengalami kenaikan hingga Rp6.000 per 2 liter.
Seorang pedagang di Pasar Kranggan, Kaminem (71), mengatakan bahwa minyak goreng merek Sanco yang sebelumnya dijual Rp40 ribu per 2 liter, kini menjadi Rp45 ribu per 2 liter.
Sedangkan, minyak goreng merek Sofia, Sania, dan Filma yang sebelumnya dijual Rp39 ribu per 2 liter, saat ini melonjak menjadi Rp42 ribu per 2 liter.
“Memang hari ini harga minyak goreng melambung tinggi. Sebenarnya kenaikan harga tidak langsung tinggi, jadi bertahap mulai Rp1.000 – Rp2.000. Tapi harga minyak goreng Sanco 2 liter sudah Rp45 ribu,” ungkap dia kepada Populi.id, Kamis (23/4/2026).
Bahkan produk minyak goreng rakyat, MinyaKita, juga dikatakan mengalami lonjakan harga.
Jika biasanya MinyaKita dijual sesuai harga eceran tertinggi (HET) Rp18 ribu per liter, saat ini harganya melonjak mencapai Rp21 ribu per liter.
Kaminem menyebut, lonjakan harga minyak goreng tersebut juga diikuti kelangkaan stok. Sehingga dia terpaksa membeli minyak goreng yang dibandling dengan produk bumbu penyedap rasa merek baru.
“Kemarin saya kulak (beli stok) lima karton MinyaKita dan dua karton merek minyak goreng lain. Terus per 3 karton harus beli dua renteng bumbu penyedap rasa, itu baru (mereknya). Sebenarnya keberatan, tapi daripada tidak dapat minyak,” katanya.
Pedagang lainnya, Mardian (52), menuturkan bahwa kenaikan harga minyak goreng sudah terjadi sejak setelah Lebaran Idul Fitri 2026. Dia menyebut, kenaikan harga tersebut disebabkan barang susah sedangkan permintaan banyak.
“Dari salesnya harga sudah tinggi. Tapi barang susah dan permintaan banyak, jadi harganya melambung tinggi,” ujarnya.
Mardian menyebut, biasanya bisa mendapatkan stok 25-50 karton minyak goreng. Namun, kini dia hanya mendapatkan jatah 5-10 karton, itu pun harus membeli bumbu masak penyedap rasa dengan sistem bandling. Dia mengaku cukup keberatan dengan sistem bandling tersebut, karena produk bumbu makam akan menjadi beban pengeluaran apabila tidak laku terjual.
“Ya sebejarnya merasa berat tapi kan kalau tidak ada minyak goreng mau bagaimana? Jadi harus bisa menyesuaikan,” tuturnya.
Menurut dia, lonjakan harga minyak goreng seringkali berimbas ke harga bahan pokok lain untuk ikut naik. Oleh karena itu, dia berharap pemerintah segera turun tangan untuk menekan harga komoditi tersebut.
“Memang susah-susah gampang, kayaknya itu dari distributor pusatnya sana. Kalau respon pembeli sih tetap beli dan memahami karena sudah jadi kebutuhan pokok. Apalagi di Yogyakarta banyak rumah makan, tidak mungkin mereka ganti menu ayam goreng menjadi ayam rebus,” pungkas dia. (populi.id/Dewi Rukmini)












