YOGYAKARTA, POPULI.ID – Azizah Chandrasari tampak aktif bermain bersama anak-anak sebayanya di Rumah Singgah Bumi Damai, Kelurahan Purbayan, Kemantren Kotagede, Kota Yogyakarta pada Minggu (19/4/2026).
Di balik tawa ceria bocah berusia 6 tahun itu ternyata menyimpan cerita pilu yang menyayat hati.
Bagaimana tidak? Di usianya yang masih sangat belia, seharusnya diisi dengan aktivitas bermain dan belajar.
Namun tidak dengan Azizah. Di atas pundak kecilnya, Azizah sudah memikul beban untuk mengurus pekerjaan rumah dan merawat ayahnya yang sedang sakit.
Azizah juga sering ikut ayahnya mencari rongsok untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sebelum pindah ke Yayasan Rumah Singgah Bumi Damai, Azizah bersama adik dan ayahnya tinggal di rumah indekos di Kampung Mrican, Kelurahan Giwangan, Kemantren Umbulharjo, Kota Yogyakarta.
Rumah berukuran 3×3 meter tepat di pinggir Sungai Gajah Wong itu menjadi saksi bisu perjuangan Azizah mengurus ayahnya yang sakit.
Hermanto (51), ayah Azizah, memiliki sakit berupa benjolan di kepala bagian depan. Benjolan yang semakin membesar beberapa tahun terakhir itu mulai terasa sakit sejak satu tahun lalu.
Namun, rasa sakit semakin parah dan tak bisa ditahan sejak tiga bulan terakhir. Akibatnya, Hermanto tidak bisa beraktivitas seperti biasa ketika rasa sakit kambuh.
Dia pun tak bisa mengantarkan Azizah berangkat sekolah ke TK di daerah Tegalsari, Jomblangan, Bantul.
“Kalau sakitnya kambuh, saya tidak bisa apa-apa. Harus tidur sejam sampai dua jam supaya tidak terasa sakit. Kadang anak saya Azizah mijitin kepala agar tidak sakit. Dia juga bantuin mencuci pakaian, harusnya kan tidak karena masih kecil. Tapi bagaimana lagi, kalau sakitnya kambuh saya tidak bisa apa-apa,” ungkap Hermanto kepada Populi.id, Minggu (19/4/2026).
Dia membenarkan, hampir setiap hari Azizah dan adiknya, Agip Pranata (5), membantu mencari rongsok dengan bersepeda.
Biasanya pada pagi hari sekitar pukul 06.00 WIB, Hermanto mengantar Azizah ke sekolah dan menjemput pada pukul 11.00 WIB.
Lalu pada sore hari sekitar pukul 15.00 WIB sampai 17.00 WIB, Azizah dan adiknya mencari rongsok bersama ayahnya.
Setiap tiga hari sekali, hasil rongsok tersebut dijual ke pengepul. Kadang Hermanto mendapatkan Rp120-150 ribu dari hasil menjual rongsokan.
Hasil tersebut akan disisihkan Rp40 ribu dan dikumpulkan untuk membayar biaya kos Rp400 ribu per bulan. Sisanya digunakan untuk keperluan sehari-hari.
“Kadang saya juga mikir, kalau anak ditinggal di rumah bagaimana. Karena rumah kosnya pinggir sungai yang tiba-tiba bisa banjir. Kalau banjir kan bisa sampai depan tangga pintu, jadi tidak tenang juga kalau mau ditinggal. Kadang dia yang mau ikut sendiri,” katanya.
Warga asal Sumatera itu mengaku sudah lama berpisah dengan istrinya. Mantan istri Hermanto dikatakan telah pergi meninggalkan anak-anaknya saat Azizah berusia 2 tahun 3 bulan dan Agip 5 bulanan. Sejak itu, Hermanto menjadi ayah tunggal bagi kedua buah hatinya.
Sementara itu, Azizah mengaku sangat senang kini tinggal di Yayasan Rumah Singgah Bumi Damai. Bocah TK itu merasa semangat sebentar lagi bisa duduk di bangku sekolah dasar (SD) dan memiliki banyak teman.
“Mau (tinggal di sini). Mau (masuk SD). Senang sekolah di sini karena banyak temannya,” ucap Azizah penuh semangat. (populi.id/Dewi Rukmini)












