YOGYAKARTA, POPULI.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus melemah dalam beberapa hari terakhir. Pada Rabu (13/5/2026) sore, nilai tukar rupiah menembus angka Rp17.498 per dolar AS, setelah sempat tertekan di angka Rp17.555 pada Selasa (12/5/2026).
Dampak melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tersebut mulai dirasakan para perajin tahu rumahan di Kota Yogyakarta. Sebab, bahan baku pembuatan tahu yakni kedelai di dalam negeri sangat bergantung dengan impor dari Amerika Serikat. Sehingga, dengan melemahnya nilai tukar rupiah membuat harga kedelai impor ikut melambung.
“Ya pasti berdampak, karena bahan baku kedelai kan diimpor dari Amerika. Kalau dolar AS naik, otomatis biaya ke Indonesia naik sehingga harga bahan baku ikut naik,” ucap Tri Cahyo, Pengelola Produksi Tahu Bu Sum di Kelurahan Gedongkiwo, Kemantren Mantrijeron, Kota Yogyakarta, Rabu (13/5/2026).
Dia menyebut, kenaikan harga kedelai sudah terjadi sejak beberapa waktu lalu. Awalnya harga kedelai impor sempat menyentuh angka Rp10.500 per kg. Kini harganya kembali melonjak mencapai Rp11.500 per kg.
Kondisi itu cukup membuat Tri bimbang. Apalagi pada waktu hampir bersamaan harga plastik dan minyak juga mengalami lonjakan. Hingga akhirnya Tri memilih memperkecil ukuran tahu untuk menekan biaya bahan baku yang melambung.
“Karena pembeli pasti tidak mau kalau harga dinaikkan, sedangkan kami juga tidak bisa bertahan kalau seperti itu. Jadi kami akalin dengan memperkecil ukuran, misal yang biasanya ukuran 5 cm jadi 4 cm. Untuk harga masih tetap mulai Rp450 sampai Rp600 per biji, tergantung ukuran,” jelas dia.
Tri menyebut setiap hari bisa memproduksi sekitar 1,5 kuintal tahu. Produk tahu tersebut akan didistribusikan kepada pedagang dan pelanggan yang berada di wilayah Yogyakarta, termasuk memasok untuk program MBG.
“Kami biasanya order bahan baku kedelai 2 ton per Minggu,” katanya.
Meski harga bahan baku mengalami kenaikan, Tri menyebut tidak ada masalah dalam penjualan tahu. Bahkan terkadang permintaan tahu bisa naik drastis ketika harga bahan baku melonjak tajam.
“Berdasarkan pengalaman kemarin-kemarin seperti itu. Pernah terjadi pas harga bahan baku naik sampai Rp13.000 per kg, penjualan tahu malah bagus, banyak permintaan. Kalau harga turun, permintaannya malah stagnan. Tapi kami tetap berharap pemerintah bisa menekan harga kedelainya,” tandasnya. (populi.id/Dewi Rukmini)











