YOGYAKARTA, POPULI.ID – Kasus Hantavirus kembali menjadi perbincangan hangat setelah ada laporan temuan penularan dari penumpang kapal pesiar mewah MV Hondius di Samudra Atlantik Selatan.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) pun melaporkan ada 23 kasus positif Hantavirus yang terdeteksi di Indonesia. Penemuan itu tersebar di sembilan provinsi, salah satunya Yogyakarta.
Kepala Bidang Pencegahan, Pengendalian Penyakit, Pengelolaan Data, dan Sistem Informasi (P2PPD SIK) Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Lana Unwanah, mengatakan bahwa Kota Yogyakarta pernah mencatat temuan satu kasus positiv Hantavirus.
Namun, temuan kasus itu terjadi pada 2025 lalu, sedangkan pada tahun ini belum ada laporan kasus baru.
“Sementara belum ada laporan (kasus baru) untuk tahun ini (2026),” katanya dikonfirmasi Sabtu (9/5/2026).
Oleh karena itu, Lana mengimbau masyarakat Kota Yogyakarta tidak perlu panik menanggapi temuan baru kasus tersebut.
Meski begitu, dia mengingatkan masyarakat agar tetap menjaga pola hidup sehat serta kebersihan lingkungan rumah dan sekitarnya untuk antisipasi penularan virus yang berasal dari hewan pengerat itu.
“Intinya masyarakat jangan panik,” ucapnya.
Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan DIY, Ari Kurniawati, memaparkan bahwa kasus Hantavirus pertama kali ditemukan di DIY pada 2025. Kala itu sebanyak enam orang dinyatakan positif Hantavirus dari surveilans sentinel rutin.
“Keenamnya sudah sembuh, tidak ada kasus kematian, dan tidak ditemukan kasus lain,” ucapnya.
Adapun pada tahun ini juga dikatakan belum ada laporan kasus positif Hantavirus dari sentinel rutin yang telah diperiksa laboratorium. Kendati demikian, ada pasien suspek yang dalam proses pemeriksaan laboratorium.
“Untuk suspek atau terduga Hantavirus 2026, tadi malam sudah keluar hasilnya negatif. Sehingga di DIY tidak ada kasus Hantavirus tahun ini,” tegasnya.
Ari menjelaskan, Hantavirus adalah penyakit yang ditularkan melalui hewan pengerat semisal tikus, layaknya Leptospirosis. Kendati demikian, penyebab kedua penyakit itu berbeda. Dikatakan, Leptospirosis disebabkan bakteri Leptospora, sedangkan penyakit Hanta disebabkan virus Hanta.
“Penularannya dapat terjadi melalui kontak langsung dengan feses, urine, atau air liur tikus yang terinfeksi. Lalu melalui udara yang terkontaminasi dari kotoran tikus, atau kontak dengan air maupun tanah yang tercemar virus tersebut,” paparnya.
Lebih lanjut, pihaknya mengharapkan masyarakat tetap tenang dan tidak panik, namun terus meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga pola hidup bersih dan sehat. Terutama menjaga kebersihan lingkungan dan memastikan tidak ada tikus yang bersarang, selalu gunakan alas kaki ketika beraktivitas di area lembab dan beresiko.
Kemudian, selalu memastikan cuci tangan menggunakan sabun setelah beraktivitas di gudang, kebun, atau area terindikasi ada keberadaan tikus. Menutup makanan dan sumber air agar tidak tercemar, memastikan setiap luka terbuka selalu ditutup dengan perban kedap air sebelum beraktivitas, serta segera bersihkan luka dengan sabun dan air mengalir jika terkena kotoran.
“Kami bersinergi dengan pemerintah kota/kabupaten untuk melakukan langkah surveilans aktif, surveilans sentinel untuk kewaspadaan, pengendalian vektor, edukasi, dan pencegahan serta pengendalian zoonosis maupun penyakit infeksius baru tingkat provinsi dan kabupaten/kota,” tandasnya. (populi.id/Dewi Rukmini)












