POPULI.ID – Bergabungnya Timnas Indonesia di Grup F Piala Asia 2027 bersama raksasa seperti Jepang, Qatar, dan rival regional Thailand, telah menempatkan skuad asuhan John Herdman dalam “grup neraka”.
Pengamat sepak bola, Sapto Haryo, menyebut label “level Asia” yang kini disandang Timnas Indonesia membawa konsekuensi berupa ekspektasi prestasi yang lebih tinggi, bukan sekadar partisipasi. PSSI sendiri telah mematok target ambisius untuk menembus babak perempat final.
“Kalau sekarang dengan era baru ini dan kita sudah dilabeli level Asia ini jadi lebih berat lagi. Karena kita bukan hanya berpartisipasi tapi ada ekspektasi untuk kita bisa berprestasi juga,” ujarnya di kanal YouTube NLR SPORTS, dikutip Sabtu (16/5/2026).
Mengenai persaingan di Grup F, Sapto memberikan catatan khusus untuk Timnas Jepang yang ia nilai berada di tingkatan berbeda. Ia menyoroti kemampuan Jepang dalam membaca celah terkecil di lini pertahanan lawan yang harus diwaspadai secara ekstra oleh lini belakang Indonesia.
โJepang emang seperti itu, emang ini beda level karena mereka bisa ngebaca lubang-lubang mana yang bisa dimanfaatin dan instan langsung jadi gol,” kata Sapto.
Sementara itu, Qatar sebagai juara bertahan dua kali dianggap sebagai tim yang sedang mengalami pasang surut dan mungkin sudah melewati masa jayanya. Sapto melihat adanya peluang bagi Indonesia untuk mencuri poin dari Qatar, mengingat tim tersebut sedang dalam masa transisi pelatih di bawah Julen Lopetegui yang belum sepenuhnya menunjukkan performa stabil.
โWalaupun mereka statusnya dua kali juara di turnamen ini, 2019 dan juga 2023, tapi saya rasa mereka adalah tim yang agak sudah melewati prime-nya,” jelasnya
Adapun Thailand diposisikan sebagai target paling realistis untuk meraup tiga poin penuh. Meskipun secara historis tim senior Indonesia sulit menang atas Thailand sejak 2016, Sapto meyakini bahwa materi pemain Indonesia saat ini, yang banyak merumput di Eropa, secara kualitas individu berada di atas pemain Thailand.
Untuk bisa melaju ke babak sistem gugur, Sapto memberikan kalkulasi matematis yang cukup ketat. Belajar dari pengalaman Piala Asia 2023 di mana Indonesia lolos dengan tiga poin berkat “keberuntungan” hasil pertandingan tim lain, Sapto menegaskan bahwa strategi serupa tidak boleh terulang.
โSaya sih mikir empat poin ya, empat poin tuh kalau untuk peringkat tiga udah aman banget,” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa satu kemenangan adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar, terutama saat melawan Thailand. Skenario ideal menurutnya adalah mengamankan tiga poin dari Thailand dan berupaya mencuri satu poin hasil imbang saat menghadapi Qatar atau bahkan Jepang untuk mengunci posisi di babak knockout.
Sebelum mencapai puncak di tahun 2027, Indonesia harus melewati berbagai fase transisi yang dipandang sebagai ujian krusial bagi kematangan tim. Agenda terdekat seperti FIFA Matchday melawan Oman dan Mozambik pada bulan Juni, serta partisipasi di ASEAN Cup (AFF), merupakan bagian dari proses persiapan fisik dan taktis.
Laga melawan Oman dan Mozambik dianggap sebagai simulasi yang sangat baik untuk menghadapi Qatar karena kesamaan karakter fisik dan kecepatan lawan.
“Transisinya untuk mempersiapkan tim ini supaya bisa tampil oke di Piala Asia nanti,” jelas Sapto.
![Timnas Indonesia. [Instagram/Timnas Indonesia]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/01/timnas-indonesia-2-750x422.png)










