SLEMAN, POPULI.ID – Fenomena kebakaran misterius yang terjadi di rumah warga di Padukuhan Kasuran, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, masih terus berlanjut. Hingga Selasa (2/6/2026) pagi, kebakaran dilaporkan telah terjadi sebanyak 79 kali.
Tim peneliti dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta dan Universitas Gadjah Mada (UGM) hingga kini masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap penyebab pasti peristiwa tersebut. Dugaan sementara mengarah pada keberadaan gas metana yang berasal dari dalam tanah.
Pemilik rumah, Muftiana, mengatakan api telah membakar berbagai peralatan rumah tangga, mulai dari sofa, bed cover, hingga sejumlah perlengkapan dapur. Akibat kejadian berulang tersebut, kerugian yang dialaminya diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah.
“Kalau kerugian saya hitung sekitar Rp 40 juta, tapi dalam dua hari terakhir bisa bertambah karena apinya belum reda dan masih bisa muncul kapan saja,” kata Muftiana.
Berdasarkan pantauan di lokasi, api masih sempat membakar sprei yang sedang dijemur di belakang rumah. Menurut Muftiana, titik kemunculan api paling sering berada di bagian tengah rumah.
Situasi tersebut membuat dirinya dan keluarga harus terus berjaga. Mereka bergantian tidur untuk mengantisipasi munculnya kebakaran susulan.
“Kalau tidur saya juga was-was. Kami sekeluarga gantian, paling lama tidur tiga jam. Dari jam 8 sampai jam 11 masih tidur, lalu rolling jaga dengan suami, bapak, dan ibu,” ujarnya.
Karena khawatir dengan keselamatan keluarga, mereka terpaksa mengungsi ke bangunan di samping rumah yang dianggap lebih aman. Namun, lokasi pengungsian sementara itu juga sempat terdampak kebakaran.
“Kami mengungsi di samping rumah, tapi api juga sempat membakar bagian belakang bangunan yang kami pakai untuk mengungsi,” ungkapnya.
Muftiana menambahkan, sejumlah peneliti dari UGM melakukan pemantauan hingga dini hari untuk mencari sumber permasalahan. Salah satu metode yang digunakan adalah menerbangkan drone guna mendeteksi titik panas di sekitar lokasi.
“Tadi malam sampai jam 1, tim dari UGM datang dari berbagai fakultas. Mereka menerbangkan drone untuk memantau titik panas. Pengamatan dilakukan malam hari supaya tidak banyak gangguan dari kendaraan,” katanya.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Sleman bersama sejumlah instansi terus memberikan pendampingan dan bantuan logistik kepada keluarga terdampak.
“Kalau dari Pemkab Sleman dan jajarannya masih mendampingi. Apa yang dibutuhkan disuplai. Dari BPBD dan Kemensos juga memberikan bantuan logistik. Kami juga menggunakan alat pemadam api ringan sendiri, ditambah bantuan dari Damkar,” jelasnya.
Muftiana menyebut tim peneliti dari UGM dan UPN Veteran Yogyakarta dijadwalkan menyampaikan hasil penelitian terbaru pada Selasa sore.
“Para pakar rencananya sore ini datang untuk menyamakan hasil penelitian. Informasi yang saya dengar, tim dari UGM dan UPN akan menyampaikan hasilnya Selasa sore,” pungkasnya. (populi.id/Hadid Pangestu)










![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)

