• Tentang Kami
Thursday, June 11, 2026
populi.id
No Result
View All Result
  • Login
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
No Result
View All Result
populi.id
No Result
View All Result
Home Cendekia

MBG Jadi Ladang Korupsi, Guru Besar UGM Desak Perbaikan Tata Kelola BGN

model pelaksanaan MBG yang dirancang secara nasional dan diterapkan seragam di seluruh Indonesia berisiko mengabaikan perbedaan kondisi, kapasitas, dan kebutuhan masing-masing daerah.

byredaksi
June 10, 2026
in Cendekia, headline
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Massa aksi yang diinisiasi oleh Suara Ibu Indonesia menggelar aksi menuntut evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bundaran UGM Yogyakarta, Jumat (17/10/2025) sore.

Massa aksi yang diinisiasi oleh Suara Ibu Indonesia menggelar aksi menuntut evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Bundaran UGM Yogyakarta, Jumat (17/10/2025) sore. [populi.id/Gregorius Bramantyo]

0
SHARES
2
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare via WhatsApp

SLEMAN, POPULI.ID – Kasus korupsi yang menyeret mantan pimpinan Badan Gizi Nasional (BGN) menambah deret panjang persoalan yang mengiringi Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Jalannya program yang digadang-gadang menjadi investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia ini tidak luput dari beragam persoalan, seperti kasus keracunan, ketimpangan distribusi manfaat, hingga adanya kontroversi dalam pemanfaatan anggaran.

BERITA MENARIK LAINNYA

Sebut Penangkapan Mantan Kepala BGN sebagai Langkah Tepat, Mahfud MD: Sejak Awal Sudah Ugal-Ugalan

ICW Sebut Korupsi Program MBG Sistemik: Dari Konflik Kepentingan hingga Bagi-Bagi Proyek Politik

Berbagai polemik tersebut pada akhirnya memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana sistem pengawasan dan tata kelola program telah berjalan efektif.

Guru Besar Manajemen dan Kebijakan Publik Fisipol UGM, Prof Gabriel Lele menilai kasus hukum yang menjerat mantan pimpinan BGN hanyalah puncak dari adanya akumulasi masalah tata kelola yang telah berlangsung sejak awal pelaksanaan program.

Menurutnya, sejak awal program ini dibangun dengan tata kelola yang cenderung sentralistis dan tertutup, sehingga menyisakan persoalan akuntabilitas dan pengawasan.

Ditambah dalam pengambilan keputusan, program yang menjadi prioritas pemerintah ini umumnya hanya terkonsentrasi pada segelintir aktor di tingkat pusat yang bertanggung jawab langsung kepada presiden.

“Kalau sebuah program dianggap prioritas oleh presiden, karakter dasarnya adalah tertutup dan sentralistis. Hanya sedikit orang yang terlibat dan bertanggung jawab langsung kepada presiden,” ujarnya, dilansir dari laman UGM, Rabu (10/6/2026).

Ia menilai, model pelaksanaan MBG yang dirancang secara nasional dan diterapkan seragam di seluruh Indonesia berisiko mengabaikan perbedaan kondisi, kapasitas, dan kebutuhan masing-masing daerah.

Padahal, tidak semua daerah di Indonesia memiliki tingkat kesiapan dan kebutuhan yang sama. Oleh sebab itu, ia menuturkan perlunya pelibatan pemerintah daerah dalam pelaksanaan program agar kebijakan lebih adaptif dan responsif terhadap kondisi lapangan.

“Kalau pola kebijakan seperti MBG yang dirumuskan di nasional dan diterapkan di seluruh Indonesia, risikonya adalah kurangnya sensitivitas terhadap konteks lokal. Tingkat kesiapan, tingkat penerimaannya berbeda-beda,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia menyoroti lemahnya mekanisme pengawasan dan akuntabilitas dalam pelaksanaan program MBG. Pengelolaan anggaran yang sangat besar dengan cakupan program berskala nasional oleh BGN tidak diimbangi dengan mekanisme kontrol yang jelas dan mampu mendeteksi penyimpangan sejak awal.

Sementara itu, pengawasan yang selama ini dilakukan oleh lembaga seperti Badan Pengelola Keuangan (BPK) maupun Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) umumnya baru berjalan setelah persoalan muncul ke permukaan, sehingga lebih bersifat reaktif daripada preventif.

Kondisi tersebut dinilai membuka ruang bagi berbagai persoalan mulai dari dugaan penyimpangan pengadaan, pemborosan anggaran, hingga menurunnya kualitas layanan di lapangan.

“Apalagi menggunakan anggaran yang besar dengan cakupan nasional. Godaan-godaan untuk mengambil sesuatu itu mesti ada. Itu bisa diminimalisir kalau bukan dihilangkan dengan menginstalasi sistem kontrol dan sistem akuntabilitas yang memadai,” jelasnya.

Selain sistem pengawasan yang lemah, ia menyoroti mekanisme kontrol publik juga tidak berfungsi secara efektif. Berbagai kritik yang dilontarkan publik terkait kasus keracunan makanan, dugaan pemborosan anggaran, hingga kualitas pelaksanaan program tidak mendapatkan respons yang memadai, bahkan malah dianggap sebagai ancaman oleh pemerintah pusat.

“Sebagian yang mengkritik ini adalah orang-orang yang sebenarnya setuju dengan tujuan MBG dan ingin MBG itu diterapkan secara baik. Tetapi karena jawabannya begitu, kemarahan publik makin meningkat,” ujarnya.

Faktor politik juga ikut andil dalam lambatnya respons pemerintah terhadap polemik yang muncul sejak awal pelaksanaan program MBG. Sebagai salah satu program unggulan yang menjadi janji kampanye Presiden, MBG dinilai memiliki nilai politik yang besar, sehingga koreksi maupun evaluasi dilakukan secara hati-hati.

Menurutnya, pemerintah kemungkinan besar telah mengetahui kelemahan dalam pelaksanaan program, akan tetapi menghadapi dilema apabila dilakukan perubahan yang signifikan, karena MBG telah menjadi program sekaligus simbol komitmen politik saat itu.

“Mereka memperhitungkan program ini untuk investasi Pemilu 2029,” tuturnya.

Meskipun demikian, ia tetap mengapresiasi langkah pemerintah yang memproses hukum mantan pimpinan BGN. Namun, ia menilai bahwa langkah tersebut tidak boleh sebatas pada penindakan individu saja. Kasus yang terjadi perlu dijadikan momentum untuk melakukan pembenahan tata kelola secara menyeluruh.

Tanpa perubahan sistem pada pengelolaan program, mekanisme pengawasan, serta pengambilan keputusan, persoalan yang sama akan berpotensi terulang meskipun dipimpin oleh figur yang berbeda.

“Kami mengapresiasi ada langkah untuk mencopot lalu menangkap Ketua BGN dan wakilnya. Dan harapannya tidak berhenti di situ, tetapi ini menjadi momentum untuk benar-benar membereskan masalah tata kelola yang luar biasa bobrok terkait dengan proses perencanaan dan pelaksanaan dari program MBG,” ujarnya.

Sebagai langkah perbaikan awal, ia mendorong pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap desain kelembagaan MBG, mulai dari aspek perencanaan, pelaksanaan, penganggaran, hingga pertanggungjawaban.

Ia mengusulkan agar pemerintah mempertimbangkan penghentian sementara program MBG selama satu hingga dua bulan, guna memberikan ruang evaluasi yang lebih komprehensif dengan melibatkan para ahli independen pada bidang gizi, keuangan, dan tata kelola.

“Bukan hanya dievaluasi oleh birokrat dan tim sukses, tetapi perlu dievaluasi oleh orang-orang yang punya kapasitas, seperti ahli gizi, ahli tata kelola, dan ahli keuangan,” tutup Gabriel.

Tags: Badan Gizi NasionalGabriel LeleGuru Besar UGMKorupsiMBG

Related Posts

Mantan Menko Polhukam RI, Mahfud MD, menilai penangkapan mantan Kepala BGN, Dadan Hindayana, oleh Kejagung RI sebagai langkah tepat, di Kabupaten Bantul, Sabtu (6/6/2026).

Sebut Penangkapan Mantan Kepala BGN sebagai Langkah Tepat, Mahfud MD: Sejak Awal Sudah Ugal-Ugalan

June 8, 2026
Kantor Badan Gizi Nasional (BGN).

ICW Sebut Korupsi Program MBG Sistemik: Dari Konflik Kepentingan hingga Bagi-Bagi Proyek Politik

June 6, 2026
YOGYAKARTA, POPULI.ID - Kasus dugaan korupsi yang menyeret mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menjadi sorotan dalam agenda pertemuan Kepala Daerah se-Jawa Bali di Kantor Gubernur DIY, pada Kamis (4/6/2026). Kasus tersebut disinggung langsung di hadapan para pemimpin daerah sebagai pengingat keras dalam menyusun kebijakan publik. Hal itu disampaikan langsung oleh Bupati Indramayu, Lucky Hakim, usai kegiatan. Dia mengungkapkan, dalam agenda silahturahmi Forkopimda se-Jawa Bali itu diisi dengan beberapa paparan dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan sejumlah menteri. Seperti diketahui, pertemuan itu dihadiri sejumlah menteri dan gubernur di wilayah Jawa dan Bali. Antara lain Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia (Mendagri) Tito Karnavian, Menteri Koordinator Bidang dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait, dan Kepala Badan Pusat Statistik Republik Indonesia (BPS RI) Amalia Adininggar Widyasanti. Dalam kegiatan itu tampak hadir Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Gubernur Bali I Wayan Koster, dan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X. Sedangkan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Gubernur DKI Pramono Anung, serta Gubernur Banten Andra Soni tidak terlihat menghadiri kegiatan itu. "Pada dasarnya memotivasi kami semua para kepala daerah. Secara umum, yang saya tangkap adalah kami dibayar oleh rakyat, jadi jangan sekali-kali sakiti hati rakyat," ungkapnya. Selain membahas isu-isu strategis seperti penanganan hoaks, penguatan kepemimpinan daerah (pimda), dan pencegahan konflik melalui Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Forum tersebut juga secara khusus menyoroti gaya hidup flexing atau pamer aparat negara dan akuntabilitas kebijakan. Kasus penangkapan Dadan Hindayana bersama dua mantan Wakil Kepala BGN, Sonny Sanjaya dan Lodewyk Pusung, atas kasus dugaan korupsi tata kelola program MBG juga dijadikan contoh nyata agar para kepala daerah lebih mawas diri. Poin penekanan yang diberikan terkait pentingnya menjaga benteng pertahanan, baik secara personal maupun sistemik. "Salah satu yang disinggung seperti itu (soal kasus MBG). Jadi maksudnya bahwa jaga-jaga diri baik secara sistem, jangan sampai kami salah membuat kebijakan. Karena ada beberapa kebijakan yang kami tidak bermaksud tapi kebijakannya salah, bisa memperkaya pihak lain. Apalagi kalau ada mensrea (niat jahat)," jelasnya. Dia menyebut menjadi kepala daerah itu bukan hal yang mudah. Karena seluruh kepala daerah diharapkan dapat bekerja lebih all-out dan selektif dalam merancang program kerja demi memastikan setiap anggaran negara benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. "Kalau kami bikin program, sebenarnya itu bermanfaat atau tidak. Walaupun suratnya lengkap, barangnya ada, tapi kalau ternyata sudah diadakan tapi tidak berguna untuk masyarakat, nanti malah menjadi salah satu tindakan koruptif," katanya. "Memang tidaj ada korupsi secara langsung tapi koruptif. Untuk apa kami belanja sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan oleh masyarakat, begitu kurang lebih," tandasnya.

Kasus Korupsi Kepala BGN Jadi Bahasan dalam Pertemuan Kepala Daerah se-Jawa di Yogyakarta

June 5, 2026
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik S. Deyang.

Resmi Pimpin Badan Gizi Nasional, Ini Profil dan Rekam Jejak Nanik S. Deyang

June 4, 2026
Kredit Fiktif di BUKP Tempel Rugikan Negara Rp2,1 M, Tiga Eks Pengurus Tersangka

Kredit Fiktif di BUKP Tempel Rugikan Negara Rp2,1 M, Tiga Eks Pengurus Tersangka

May 26, 2026
ilustrasi uang Rupiah yang diwacanakan bakal dilakukan redenominasi

Kritik Narasi Pemerintah Soal Optimisme Ekonomi, Pakar: Buktikan Secara Ilmiah

May 21, 2026
Next Post
satu di antara sejumlah tersangka sedang memperagakan aksi mengikat anak yang dititipkan di Daycare Little Aresha Kota Yogyakarta, saat rekontruksi pada Selasa (10/6/2026).

Rekonstruksi Kekerasan Daycare Little Aresha: Terungkap Arahan Ikat Anak hingga 8 Jam

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No Result
View All Result

TERPOPULER

Ilustrasi SMP di Sleman

8 SMP Terbaik di Sleman yang Bisa Jadi Pilihan

June 4, 2025
Kabupaten Bantul memiliki sejumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang menjadi incaran para pendaftar.

10 SMP Favorit di Bantul: Pilihan Terbaik Sekolah Negeri dan Swasta

June 18, 2025
Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]

9 SMP Negeri Terbaik di Sleman Berdasar Data Terbaru Tahun 2026

February 9, 2026
ilustrasi : Sekolah Dasar

10 SD Favorit di Bantul dengan Akreditasi A, Layak Jadi Pilihan!

June 12, 2025
Berikut 10 SMP unggulan di Bantul yang bisa dijadikan acuan sebelum mendaftar SPBM 2025.

Inilah 7 SMP Unggulan di Bantul yang Paling Diburu Jelang SPMB 2025

June 9, 2025

Subscribe

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Copyright ©2025 | populi.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO

Copyright ©2025. populi.id - All Right Reserved.