SLEMAN, POPULI.ID – Geliat ekonomi masyarakat tampak nyata di Ngijon, Kalurahan Sendangarum, Kapanewon Minggir, Sleman. Kegiatan Sunday Morning (Sunmor) Ngijon yang digelar di tengah hamparan persawahan kini menjadi magnet baru bagi warga dan wisatawan setelah viral dalam empat bulan terakhir.
Ribuan pengunjung memadati lokasi sejak pagi hari. Sepanjang jalur Sunmor, ratusan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) membuka lapak yang menawarkan beragam produk, mulai dari kuliner tradisional, jajanan kekinian, kerajinan hingga aneka produk lokal lainnya.
Fenomena ini mendapat perhatian berbagai pihak, mulai dari DPRD Sleman, Pemerintah Kabupaten Sleman, hingga Dekranasda Sleman yang melihat potensi besar Sunmor Ngijon sebagai penggerak ekonomi masyarakat.
Sekretaris Komisi C DPRD Sleman, Untung Basuki Rachmad, mengatakan geliat Sunmor Ngijon berawal dari Pasar Ngijon yang sempat viral. Namun saat itu aktivitas pasar hanya ramai pada hari pasaran Legi.
“Pasar Ngijon kami viralkan juga dan sempat viral. Setiap hari Minggu orang datang, tapi kami lupa kalau Pasar Ngijon hanya ramai saat pasaran Legi. Ketika hari Minggu masyarakat datang setelah viral, ternyata yang jualan tidak ada. Dari situ kemudian kami gulirkan terus,” ujarnya.
Menurut Untung, konsep yang dikembangkan kemudian bertransformasi menjadi Sunmor di tengah area persawahan. Meski awalnya tidak terlalu optimistis, konsep tersebut perlahan berkembang hingga ramai seperti sekarang.
Ia menjelaskan, pengelola sengaja menghadirkan produk kuliner yang berbeda dari pasar malam pada umumnya. Ke depan, makanan tradisional atau kuliner jadul akan diperbanyak untuk melengkapi kuliner yang diminati generasi muda.
“Masih ada sekitar 60 pendaftar yang belum bisa kami layani. Kami juga tidak menyiapkan kavling-kavling agar aktivitas jualan tumbuh secara alami,” katanya.
Untung menambahkan, syarat bagi pelaku UMKM yang ingin bergabung cukup sederhana, yakni hadir dan berjualan. Aktivitas perdagangan juga dibatasi hanya dari pukul 05.30 hingga 08.00 WIB agar pengunjung tidak merasa jenuh dan tetap memiliki waktu untuk menjalankan kegiatan lain pada hari Minggu.
Sementara itu, Bupati Sleman Harda Kiswaya mengapresiasi keberanian Kalurahan Sendangarum dalam mengembangkan potensi wilayah menjadi pusat aktivitas ekonomi baru.
“Tentu ini bagian dari pengembangan UMKM di wilayah Sendangarum. Mudah-mudahan pemerintah bisa hadir untuk memenuhi apa yang dibutuhkan UMKM di sini,” katanya.
Harda menilai keberhasilan Sunmor Ngijon menunjukkan kejelian pemerintah kalurahan dalam memanfaatkan potensi alam yang dimiliki. Pemandangan sawah dan aktivitas pertanian yang selama ini menjadi ciri kawasan tersebut ternyata mampu menjadi daya tarik bagi kegiatan perdagangan dan wisata kuliner.
Menurutnya, penguatan UMKM merupakan salah satu cara meningkatkan daya beli dan pendapatan masyarakat sehingga mampu menghadapi gejolak ekonomi.
“Apa yang diinisiasi Kalurahan Sendangarum ini kami harapkan bisa dicontoh kalurahan lain dengan melihat potensi masing-masing wilayah,” ujarnya.
Ia juga berharap kegiatan tersebut tidak hanya berlangsung setiap Minggu, tetapi dapat terus dikembangkan agar pendapatan masyarakat lebih terjaga secara berkelanjutan. Pemerintah Kabupaten Sleman, lanjutnya, siap berdiskusi dengan pemerintah kalurahan terkait kebutuhan pengembangan kawasan tersebut.
Harda mendorong para pelaku usaha untuk membentuk paguyuban agar komunikasi dengan pemerintah lebih mudah dilakukan. Dengan adanya wadah resmi, berbagai kebutuhan pengembangan UMKM dapat disampaikan kepada pemerintah daerah maupun organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
“Kalau sudah ada paguyuban, nanti saat pemerintah hadir mengembangkan dan memenuhi kebutuhan UMKM, komunikasi akan lebih mudah. Bahkan kegiatan pemerintah juga bisa memanfaatkan produk UMKM di sini,” katanya.
Dukungan terhadap pengembangan UMKM juga ditegaskan Sekretaris Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Sleman, Widodo. Ia mengatakan Pemerintah Kabupaten Sleman berkomitmen memberikan keberpihakan kepada UMKM melalui kebijakan anggaran.
“UMKM adalah penopang ekonomi. Kalau UMKM berdaya, tentu Sleman akan lebih berdaya,” ujarnya.
Menurut Widodo, keberpihakan tersebut diwujudkan melalui penyediaan anggaran penguatan modal usaha yang dapat diakses pelaku UMKM dengan beban yang lebih ringan dibandingkan pembiayaan perbankan konvensional.
Selain itu, pemerintah juga mengalokasikan porsi anggaran khusus untuk pengembangan UMKM. Bahkan, Bupati Sleman telah menginstruksikan agar kebutuhan konsumsi dalam berbagai rapat pemerintah memprioritaskan produk UMKM lokal.
“Perputaran uangnya di dalam Sleman. Dana dari APBD kembali ke masyarakat Sleman sehingga manfaat ekonominya dirasakan bersama,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa program penguatan modal dilengkapi proses verifikasi agar bantuan benar-benar diterima pelaku usaha yang membutuhkan dan digunakan untuk pengembangan usaha.
Selain permodalan, pelaku UMKM juga mendapatkan pendampingan dari dinas terkait agar usaha yang dijalankan dapat berkembang secara berkelanjutan.
Ketua Dekranasda Sleman, Parmilah, menilai pasar tiban di Ngijon ini memiliki prospek besar untuk terus berkembang. Namun karena kegiatan ini masih berjalan beberapa bulan, koordinasi dan penataan kawasan perlu terus ditingkatkan.
“Karena ini masih baru beberapa bulan, mungkin koordinasinya belum maksimal. Ke depan perlu ditata lebih baik,” ujarnya.
Parmilah mengusulkan agar setiap tenant diberi nomor sehingga lebih mudah dikenali pengunjung. Ia juga berharap ragam produk yang dijual semakin lengkap.
Saat ini, menurutnya, produk yang tersedia masih didominasi makanan dan minuman. Ke depan, ia berharap komoditas lain seperti sayur mayur juga dapat dipasarkan sehingga pengunjung bisa memenuhi berbagai kebutuhan dalam satu lokasi.
“Kalau ibu-ibu datang bersama keluarga, selain mendapatkan jajanan juga bisa membeli sayuran,” katanya.
Ia menambahkan, keberadaan pasar tiban di Ngijon ini diharapkan mampu meningkatkan pendapatan keluarga sekaligus mendorong kemandirian ekonomi masyarakat. Berbagai potensi lokal perlu terus digali agar sumber pendapatan warga semakin beragam dan ekonomi masyarakat menjadi lebih kuat.
Dengan tingginya antusiasme pengunjung, dukungan pemerintah daerah, serta semangat para pelaku UMKM, Pasar Tiban Ngijon kini tidak hanya menjadi destinasi wisata pagi di Sleman, tetapi juga tumbuh sebagai ruang ekonomi kerakyatan yang memberi manfaat langsung bagi masyarakat sekitar.








![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)



