• Tentang Kami
Wednesday, July 8, 2026
populi.id
No Result
View All Result
  • Login
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
No Result
View All Result
populi.id
No Result
View All Result
Home headline

Mencuat Tren Polyworking, Siasat Bertahan Hidup Zaman Now

Qisha menjelaskan bahwa memiliki lebih dari satu pekerjaan bukanlah fenomena yang baru dalam pasar kerja Indonesia.

byredaksi
July 8, 2026
in headline, Lifestyle
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Ilustrasi melakukan banyak pekerjaan, kerja sampingan

Ilustrasi melakukan banyak pekerjaan, kerja sampingan. [magnific]

0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare via WhatsApp

SLEMAN, POPULI.ID – Fenomena polyworking semakin banyak diperbincangkan seiring berkembangnya pola kerja yang lebih fleksibel dan meningkatnya pekerja yang memiliki lebih dari satu sumber pendapatan.

Dalam literatur, polyworking menggambarkan seseorang yang menjalankan beberapa aktivitas kerja yang sama-sama menghasilkan pendapatan secara bersamaan.

BERITA MENARIK LAINNYA

Ribuan Mahasiswa Hadang Sejumlah Menteri di Forum Nusantara Young Leaders UGM

UGM Telusuri Dugaan Retakan Tanah Pemicu Munculnya Api Misterius di Rumah Warga Seyegan

Namun, data ketenagakerjaan Indonesia belum secara khusus mengukur fenomena tersebut sehingga gambaran mengenai fenomena ini perlu didekati melalui data pekerja yang memiliki pekerjaan tambahan.

Dosen Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) UGM, Qisha Quarina menjelaskan bahwa fenomena tersebut perlu dipahami sesuai konteks pasar kerja Indonesia.

Qisha menjelaskan bahwa memiliki lebih dari satu pekerjaan bukanlah fenomena yang baru dalam pasar kerja Indonesia. Selama ini Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) telah mengenal konsep pekerjaan utama dan pekerjaan tambahan, meskipun belum secara spesifik menggunakan istilah polyworking.

Oleh karena itu, fenomena pekerja yang memiliki lebih dari satu sumber pendapatan perlu dilihat berdasarkan karakteristik pekerjaan maupun tujuan pekerjanya.

“Kalau kita berbicara polyworking dalam arti ada pekerjaan utama dan pekerjaan sampingan, itu tentunya tidak spesifik hanya untuk Gen Z. Tinggal lagi konteksnya apa dulu,” ujarnya, sebagaimana dilansir dari laman UGM, Rabu (8/7/2026).

Hasil olahan data Sakernas Agustus 2024 menunjukkan sekitar 19,29 juta pekerja atau 13,34 persen dari total pekerja di Indonesia memiliki pekerjaan tambahan.

Temuan tersebut juga memperlihatkan bahwa pekerja dengan pekerjaan tambahan justru didominasi kelompok usia 45–54 tahun sebesar 25,83 persen, disusul kelompok usia 55 tahun ke atas sebesar 25,66 persen dan usia 35–44 tahun sebesar 25,40 persen.

Sementara itu, pekerja berusia 15–24 tahun hanya mencapai 4,95 persen dan kelompok usia 25–34 tahun sebesar 18,17 persen.

“Kalau kita melihat skala yang lebih besar, fenomena ini ternyata tidak hanya terjadi pada generasi tertentu,” jelasnya.

Dalam perspektif ekonomi ketenagakerjaan, keputusan seseorang mengambil pekerjaan tambahan merupakan pilihan rasional untuk meningkatkan kesejahteraan.

Qisha menerangkan bahwa setiap pekerja menghadapi trade-off antara waktu bekerja, waktu istirahat (leisure), dan aktivitas lain di luar pekerjaan. Ketika seseorang bersedia mengurangi waktu luangnya demi pekerjaan tambahan, terdapat tujuan ekonomi yang ingin dicapai.

“Secara rasional ketika orang bekerja sampingan di luar pekerjaan utama, artinya pekerjaan utamanya belum cukup untuk memenuhi standar hidupnya,” ungkapnya.

Data Sakernas juga menunjukkan mayoritas pekerjaan tambahan berada pada sektor informal. Sekitar 86,79 persen pekerjaan tambahan berstatus informal, sedangkan hanya 13,21 persen yang berstatus formal. Bahkan pada pekerja yang pekerjaan utamanya formal, sekitar 78 persen pekerjaan tambahannya tetap berada di sektor informal.

Kondisi tersebut, kata Qisha, menjadi alasan mengapa fenomena pekerja dengan pekerjaan tambahan belum tentu dapat disimpulkan mempersempit kesempatan kerja formal bagi pencari kerja baru.

Ia menambahkan bahwa pengalaman menjalani beberapa pekerjaan dapat menjadi nilai tambah apabila relevan dengan kompetensi yang dibutuhkan perusahaan.

Sebaliknya, riwayat pekerjaan yang terlalu singkat di banyak tempat juga dapat dipersepsikan sebagai sinyal kurang baik oleh pemberi kerja, terutama ketika perusahaan mencari pekerja untuk jangka panjang. Penilaian tersebut bergantung pada kesesuaian pengalaman kerja, durasi bekerja, dan kebutuhan organisasi.

“Ada dua sisi yang harus kita lihat, apakah itu membantu enhancing CV, atau justru menjadi signaling mengenai motivasi pekerjanya,” katanya.

Qisha memandang keterlibatan aktif di pasar kerja tetap memberikan manfaat bagi pengembangan human capital. Seseorang yang terus bekerja akan terus mengasah keterampilan dan beradaptasi dengan perubahan kebutuhan dunia kerja dibandingkan mereka yang menganggur dalam waktu lama.

Baginya, mempertahankan keterlibatan di pasar kerja lebih penting karena kemampuan yang tidak digunakan berisiko mengalami penurunan.

“Selama orang itu engage actively in the labor market itu lebih baik dibanding dia disengage. Ketika aktif bekerja, dia terus meng-exercise human capital-nya,” tuturnya.

Bagi mahasiswa dan lulusan baru yang akan memasuki dunia kerja, Qisha berpesan agar tidak sekadar mengejar banyaknya pekerjaan, tetapi juga mempersiapkan kemampuan mengelola waktu dan membangun komitmen profesional.

Pemahaman mengenai hak-hak pekerja, termasuk perlindungan jaminan sosial bagi pekerja lepas, juga perlu menjadi perhatian sejak awal karier. Menurutnya, fleksibilitas bekerja perlu diimbangi dengan kesiapan mengelola tanggung jawab sebagai pekerja.

“Komitmen itu penting. Selain itu, pahami juga hak Anda sebagai pekerja, karena sering kali pekerja lepas belum menyadari perlindungan yang menjadi haknya,” pungkasnya.

Tags: aktivitas kerjabertahan hidupkerja sampinganpekerjaan tambahanPolyworkingQisha QuarinaUGM

Related Posts

Sejumlah tokoh yang hadir dalam forum Nusantara Young Leaders dikepung oleh ribuan mahasiswa di gerbang kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Senin (15/6/2026).

Ribuan Mahasiswa Hadang Sejumlah Menteri di Forum Nusantara Young Leaders UGM

June 16, 2026
Tim Gagana Brimob Polda DIY melakukam identifikasi di lokasi kebakaran berulang di Padukuhan Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Sleman, DIY, Sabtu (30/4/2026). (Instagram/@merapi_uncover)

UGM Telusuri Dugaan Retakan Tanah Pemicu Munculnya Api Misterius di Rumah Warga Seyegan

June 9, 2026
Ilustrasi pendidikan tinggi.

Kritik Penutupan Prodi yang Dianggap Tak Relevan dengan Industri, Ekonom UGM: Kebijakan Rabun Jauh

June 6, 2026
Dosen Departemen Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Sarju Winardi saat menyampaikan paparanya terkait kebakaran misterius di sebuah rumah di Padukuhan Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Sleman, Kamis (4/6/2026).

Tim UGM Duga Kebakaran Misterius di Seyegan Dipicu Gas dari Limbah Organik

June 5, 2026
Ilustrasi pemilu.

Saiful Mujani Ajak Masyarakat Sipil Kawal Demokrasi Menuju Pemilu 2029

May 31, 2026
Presiden ke-5 Indonesia Megawati Soekarnoputri memberikan arahan dalam forum National Policy Dialogue yang digelar di UGM, Jumat (22/5/2026)

Megawati Menangis Usai Menonton Film Pesta Babi: Itu Benar Adanya

May 24, 2026
Next Post
Kolase foto pemain bintang Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo yang melakoni last dance di ajang Piala Dunia 2026

11 Pemain Bintang yang Jalani Last Dance di Piala Dunia 2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No Result
View All Result

TERPOPULER

Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]

9 SMP Negeri Terbaik di Sleman Berdasar Data Terbaru Tahun 2026

February 9, 2026
Kabupaten Bantul memiliki sejumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang menjadi incaran para pendaftar.

10 SMP Favorit di Bantul: Pilihan Terbaik Sekolah Negeri dan Swasta

June 18, 2025
Ilustrasi SMP di Sleman

8 SMP Terbaik di Sleman yang Bisa Jadi Pilihan

June 4, 2025
ilustrasi : Sekolah Dasar

10 SD Favorit di Bantul dengan Akreditasi A, Layak Jadi Pilihan!

June 12, 2025
Berikut 10 SMP unggulan di Bantul yang bisa dijadikan acuan sebelum mendaftar SPBM 2025.

Inilah 7 SMP Unggulan di Bantul yang Paling Diburu Jelang SPMB 2025

June 9, 2025

Subscribe

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Copyright ©2025 | populi.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO

Copyright ©2025. populi.id - All Right Reserved.