• Tentang Kami
Sunday, July 12, 2026
populi.id
No Result
View All Result
  • Login
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
No Result
View All Result
populi.id
No Result
View All Result
Home Cendekia

Kerusakan Lingkungan di Indonesia Kian Parah, Arqom: Akibat Manusia Serakah

Dorongan untuk terus memperoleh keuntungan dan memenuhi keinginan membuat manusia mengeksploitasi alam secara berlebihan tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan.

byredaksi
July 12, 2026
in Cendekia, headline
Reading Time: 3 mins read
A A
0
Ilustrasi kerusakan lingkungan

Ilustrasi kerusakan lingkungan. [magnific.com]

0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare via WhatsApp

SLEMAN, POPULI.ID – Indonesia masih menghadapi persoalan serius terkait kerusakan lingkungan. Deforestasi, alih fungsi kawasan hutan, eksploitasi sumber daya alam, hingga meningkatnya frekuensi banjir dan tanah longsor menunjukkan bahwa tekanan terhadap ekosistem alam terus berlangsung di banyak wilayah.

Melihat kondisi tersebut, Dosen Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada Arqom Kuswanjono menilai krisis lingkungan yang terjadi saat ini tidak dapat dipahami semata sebagai persoalan alam, melainkan juga sebagai krisis moral manusia.

BERITA MENARIK LAINNYA

Mencuat Tren Polyworking, Siasat Bertahan Hidup Zaman Now

Ribuan Mahasiswa Hadang Sejumlah Menteri di Forum Nusantara Young Leaders UGM

Mulanya, Arqom membedakan antara peristiwa alam dengan bencana moral. Menurutnya, gempa bumi, letusan gunung api, maupun berbagai gejala alam lainnya pada dasarnya merupakan mekanisme alam yang berlangsung secara alami.

Peristiwa tersebut kemudian disebut sebagai bencana ketika menimbulkan korban atau kerugian bagi manusia. Sementara itu, berbagai kerusakan ekologis akibat ulah manusia lebih tepat disebut sebagai bencana moral.

“Bencana moral merupakan bencana yang disebabkan oleh perilaku manusia. Banjir, longsor, dan berbagai kerusakan lingkungan memang ada pengaruh faktor alam, tapi di dalamnya juga terdapat persoalan moralitas. Manusia, karena keserakahannya, terus merusak alam,” ujarnya dilansir dari laman UGM, Minggu (12/7/2026).

Menurut Dosen Departemen Filsafat Agama tersebut, akar persoalan krisis lingkungan terletak pada keserakahan manusia.

Demi keuntungan ekonomi maupun kepentingan tertentu, manusia mengeksploitasi alam tanpa mempertimbangkan keseimbangan yang telah dibangun lewat hukum-hukum alam.

Padahal, alam sesungguhnya memiliki mekanisme untuk menjaga dirinya sendiri.

“Alam itu sebenarnya bisa mengelola dirinya sendiri lewat hukum alam. Ketika ada intervensi manusia yang merasa bebas menguasai alam, dan ingin merekayasa alam tanpa memperhatikan hukum-hukum alam, maka terjadilah kerusakan,” tegasnya.

Manusia, lanjut Arqom, tidak pernah merasa cukup terhadap apa yang dimilikinya. Dorongan untuk terus memperoleh keuntungan dan memenuhi keinginan membuat manusia mengeksploitasi alam secara berlebihan tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan.

Padahal, menurutnya, alam sesungguhnya telah menyediakan sumber daya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh umat manusia apabila dimanfaatkan secara bijaksana.

“Alam semesta cukup untuk memenuhi semua kebutuhan manusia, tapi tidak cukup untuk memenuhi keserakahan manusia,” ujarnya sembari mengutip pernyataan Mahatma Gandhi.

Sementara itu, dalam perspektif teologi, Arqom menilai banyak orang keliru memahami ajaran agama yang menempatkan manusia sebagai makhluk dengan kedudukan istimewa di antara ciptaan Tuhan.

Menurutnya, kedudukan tersebut bukanlah legitimasi untuk mendominasi atau mengeksploitasi alam, melainkan amanat untuk menjaga dan memeliharanya.

Ia mencontohkan konsep manusia sebagai khalifah atau wakil Tuhan di bumi dalam ajaran Islam.

“Manusia itu harus mencontoh sifat Tuhan, yakni pengasih dan penyayang. Menguasai alam bukan berarti kemudian manusia punya kebebasan untuk merusak. Manusia diberi kuasa atas burung, hutan, dan alam semesta bukan untuk merusaknya, tetapi untuk menjaganya,” terangnya.

Lebih jauh, Arqom menjelaskan bahwa upaya menjaga lingkungan perlu diawali dengan kesadaran filosofis mengenai posisi manusia di alam. Dari sisi ontologis, manusia harus memahami bahwa dirinya merupakan bagian dari alam, bukan penguasa yang bebas mengeksploitasinya.

Kesadaran tersebut kemudian menjadi landasan epistemologis, yakni membangun cara berpikir, pengetahuan, dan kesadaran mengenai relasi manusia dengan alam yang dapat ditanamkan melalui pendidikan, kurikulum, maupun berbagai bentuk pembelajaran.

Pada akhirnya, sambung Arqom, seluruh proses tersebut harus bermuara pada aksiologi, yaitu pembentukan etika dan tanggung jawab moral dalam melindungi lingkungan.

“Dari ontologi muncul epistemologi. Setelah mengetahui posisi manusia dengan alam, lalu manusia membangun pengetahuan dan kesadaran terhadap alam yang pada ujungnya membangun rasa tanggung jawab terhadap lingkungan,” jelasnya.

Tak lupa, Arqom juga menyoroti paradoks kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak selalu berbanding lurus dengan meningkatnya kepedulian terhadap lingkungan.

Menurutnya, berbagai bentuk eksploitasi alam, mulai dari penebangan hutan, pengembangan industri, hingga aktivitas lain yang menghasilkan polusi dan memicu perubahan iklim, justru kerap dilakukan atas nama pembangunan dan kemajuan teknologi.

Karena itu, ia menilai manusia modern perlu belajar dari masyarakat adat yang masih memandang alam sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan.

“Kadang-kadang manusia harus belajar dari masyarakat pedalaman. Mereka lebih santun kepada alam. Yang perlu dipelajari bukan mitologinya, tetapi kesantunan mereka terhadap alam,” katanya.

Di akhir pemaparannya, Arqom mengajak masyarakat mengubah paradigma dalam memandang alam. Menurutnya, alam tidak boleh diperlakukan sebagai warisan yang bebas dieksploitasi, melainkan sebagai titipan bagi generasi mendatang yang harus dijaga, dipelihara, dan jika memungkinkan diwariskan dalam kondisi yang lebih baik.

Dengan cara pandang seperti ini, manusia akan menyadari bahwa setiap kerusakan lingkungan pada akhirnya bukan hanya akan mengancam kelestarian alam, tetapi juga keberlangsungan hidup manusia itu sendiri. “Ketika alam rusak, bukan hanya alam yang rusak, tapi manusia sendiri juga akan rusak. Bumi ini adalah titipan untuk anak cucu kita, bukan warisan yang boleh kita habiskan,” tutupnya.

Tags: Arqom KuswanjonodeforestasiFilsafatkerusakan lingkungankeserakahanUGM

Related Posts

Ilustrasi melakukan banyak pekerjaan, kerja sampingan

Mencuat Tren Polyworking, Siasat Bertahan Hidup Zaman Now

July 8, 2026
Sejumlah tokoh yang hadir dalam forum Nusantara Young Leaders dikepung oleh ribuan mahasiswa di gerbang kampus Universitas Gadjah Mada (UGM), Senin (15/6/2026).

Ribuan Mahasiswa Hadang Sejumlah Menteri di Forum Nusantara Young Leaders UGM

June 16, 2026
Tim Gagana Brimob Polda DIY melakukam identifikasi di lokasi kebakaran berulang di Padukuhan Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Sleman, DIY, Sabtu (30/4/2026). (Instagram/@merapi_uncover)

UGM Telusuri Dugaan Retakan Tanah Pemicu Munculnya Api Misterius di Rumah Warga Seyegan

June 9, 2026
Ilustrasi pendidikan tinggi.

Kritik Penutupan Prodi yang Dianggap Tak Relevan dengan Industri, Ekonom UGM: Kebijakan Rabun Jauh

June 6, 2026
Dosen Departemen Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Sarju Winardi saat menyampaikan paparanya terkait kebakaran misterius di sebuah rumah di Padukuhan Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Sleman, Kamis (4/6/2026).

Tim UGM Duga Kebakaran Misterius di Seyegan Dipicu Gas dari Limbah Organik

June 5, 2026
Ilustrasi pemilu.

Saiful Mujani Ajak Masyarakat Sipil Kawal Demokrasi Menuju Pemilu 2029

May 31, 2026
Next Post
Ilustrasi ibadah haji

Sebanyak 465 Calon Jemaah Haji Khusus 2027 Ikuti Manasik Lebih Awal

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No Result
View All Result

TERPOPULER

Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]

9 SMP Negeri Terbaik di Sleman Berdasar Data Terbaru Tahun 2026

February 9, 2026
Kabupaten Bantul memiliki sejumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang menjadi incaran para pendaftar.

10 SMP Favorit di Bantul: Pilihan Terbaik Sekolah Negeri dan Swasta

June 18, 2025
Ilustrasi SMP di Sleman

8 SMP Terbaik di Sleman yang Bisa Jadi Pilihan

June 4, 2025
ilustrasi : Sekolah Dasar

10 SD Favorit di Bantul dengan Akreditasi A, Layak Jadi Pilihan!

June 12, 2025
SMP Negeri 5 Yogyakarta

7 SMP Negeri Terbaik di Kota Yogyakarta Berdasarkan Ranking TKA-TKAD 2026

May 6, 2026

Subscribe

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Copyright ©2025 | populi.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO

Copyright ©2025. populi.id - All Right Reserved.