POPULI.ID – Istilah “Londo Ireng” kini tengah menjadi pusat perhatian publik setelah digunakan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya di acara Hari Lahir Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, pada Kamis (23/7/2026). Pernyataan tersebut memicu kontroversi lantaran diarahkan kepada profesi jurnalis, pengamat, hingga lembaga swadaya masyarakat (LSM).
Dalam pidatonya, Prabowo menegaskan bahwa pemerintah tidak anti-kritik, namun ia menyayangkan adanya pihak yang dianggapnya lebih membela kepentingan asing.
“Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut londo ireng, ya. Yang ikut Belanda perang lawan kita. Londo-londo ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain. Wartawan, jurnalis, pengamat, LSM,” ujar Prabowo.
Pernyataan ini segera menuai reaksi keras dari organisasi profesi. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) menilai pelabelan tersebut merendahkan dan mendelegitimasi kerja jurnalis di lapangan. AJI menegaskan bahwa jurnalis bekerja berdasarkan fakta dan dilindungi oleh UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, bukan untuk kepentingan asing.
Asal Usul Sejarah: Pasukan Afrika di Tanah Jawa
Meski kini digunakan sebagai istilah peyoratif untuk menyebut “pengkhianat bangsa”, secara historiografi istilah Londo Ireng memiliki akar sejarah yang sangat spesifik. Istilah ini secara harfiah berarti “Belanda Hitam,” yang merujuk pada prajurit asal Afrika Barat yang direkrut oleh Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) pada abad ke-19.
Sejarah mencatat bahwa antara tahun 1831 hingga 1872, pemerintah kolonial Belanda mengalami krisis personel militer pasca Perang Jawa (Perang Diponegoro) yang sangat menguras kekuatan mereka. Untuk menutupi kekurangan tersebut, Belanda merekrut ribuan pria dari wilayah Pantai Emas (kini Ghana), seperti Burkina Faso, Mali, dan Pantai Gading.
Diperkirakan lebih dari 3.000 orang Afrika Barat bergabung ke dalam KNIL. Sebagian direkrut secara sukarela, tetapi ada pula yang berasal dari kalangan budak atau tawanan perang yang kemudian dibeli dari pasar budak di wilayah Kekaisaran Ashanti.
Dalam arsip-arsip resmi militer Belanda, para prajurit Afrika ini dijuluki sebagai Zwarte Hollanders (Orang Belanda Hitam). Meskipun bukan orang Belanda secara etnis, mereka mengenakan seragam militer KNIL, menggunakan nama-nama Belanda, dan memperoleh status hukum yang setara dengan tentara Eropa di lingkungan militer kolonial.
Masyarakat Jawa yang melihat serdadu berkulit gelap namun mengenakan seragam resmi militer Belanda kemudian menjuluki mereka sebagai Londo Ireng.
Hak Istimewa dan Status Setara Eropa
Fakta menarik dari keberadaan para serdadu Afrika ini adalah status hukum mereka yang istimewa. Berbeda dengan prajurit pribumi (inlander), pemerintah kolonial memberikan status legal yang setara dengan tentara Eropa kepada para Zwarte Hollanders.
Fasilitas yang mereka terima meliputi gaji dan ransum yang setara dengan prajurit Eropa, serta penempatan di tangsi-tangsi khusus. Bahkan, anak-anak hasil pernikahan mereka dengan perempuan lokal berhak mendapatkan pendidikan sekolah Belanda dan kewarganegaraan Eropa. Beberapa tokoh seperti Jan Kooi, prajurit asal Elmina, bahkan memperoleh penghargaan Militaire Willems-Orde atas keberaniannya dalam Perang Aceh.
Pergeseran Makna Menjadi Metafora Politik
Seiring berakhirnya masa kontrak militer, banyak dari serdadu ini memilih menetap di Jawa, terutama di kawasan Purworejo dan Surakarta, membentuk komunitas Indo-Afrika. Namun, makna istilah ini mulai bergeser pada era pergerakan nasional hingga masa perang kemerdekaan (1945–1949).
Pada masa itu, Londo Ireng tidak lagi digunakan untuk merujuk pada identitas etnis Afrika, melainkan menjadi label bagi orang pribumi yang dianggap berpihak ke kepentingan kolonial, semacam “antek penjajah” atau “pengkhianat bangsa”. Hingga saat ini, istilah tersebut tetap membawa konotasi negatif tentang pengkhianatan terhadap bangsa sendiri demi kepentingan asing.







![Ilustrasi anak sekolah. [Pexels]](https://populi.id/wp-content/uploads/2025/06/Ilustrasi-anak-sekolah.-Pexels-75x75.jpg)
![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)



