• Tentang Kami
Wednesday, February 11, 2026
populi.id
No Result
View All Result
  • Login
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO
No Result
View All Result
populi.id
No Result
View All Result
Home headline

Rumah 18 Meter Persegi Dinilai Tak Layak, Pakar UGM Ingatkan Potensi Kemiskinan Baru

mengejar angka tanpa mempertimbangkan kualitas dan lingkungan, itu justru bisa menciptakan masalah sosial baru

Rahadian BagusbyRahadian Bagus
July 7, 2025
in headline
Reading Time: 2 mins read
A A
0
Rumah 18 Meter Persegi Dinilai Tak Layak, Pakar UGM Ingatkan Potensi Kemiskinan Baru
0
SHARES
7
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare via WhatsApp

 

YOGYAKARTA, POPULI.ID – Rencana pemerintah membangun rumah subsidi berukuran 18 meter persegi bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) menuai sorotan kritis dari kalangan akademisi.

BERITA MENARIK LAINNYA

Mayoritas Kampus di Indonesia Urung Ramah Disabilitas

Tragedi Anak SD NTT Cermin Rapuhnya Sistem Perlindungan Sosial Negara

Nurhadi, Ph.D., pakar Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan dari Universitas Gadjah Mada, menyebut kebijakan ini berisiko melahirkan bentuk baru kemiskinan jika tidak disertai pendekatan yang holistik.

“Memberikan rumah kepada warga berpenghasilan rendah memang langkah penting, tetapi kalau hanya mengejar angka tanpa mempertimbangkan kualitas dan lingkungan, itu justru bisa menciptakan masalah sosial baru di masa depan,” ujarnya, Senin (7/7/2025).

Nurhadi menegaskan bahwa rumah termasuk dalam lima kebutuhan dasar dalam kerangka kebijakan sosial, bersama dengan pendidikan, kesehatan, pekerjaan, dan pangan.

Negara memang punya kewajiban memenuhinya, tetapi sekadar menyediakan rumah secara fisik tidak cukup.

Kelayakan huni harus menjadi bagian dari standar minimum. Menurutnya, rumah yang sempit dan tidak sehat bisa berdampak pada kondisi psikologis penghuninya, terutama perempuan dan anak-anak.

Tekanan akibat ruang hidup yang terbatas juga bisa memperburuk kualitas hubungan antaranggota keluarga dan bahkan meningkatkan risiko kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Ia menambahkan, pembangunan rumah subsidi secara masif dengan ukuran terlalu kecil juga bisa memunculkan kawasan padat penduduk yang cenderung tidak sehat dan terpinggirkan.

“Bayangkan jika MBR dikumpulkan dalam satu lokasi tanpa dukungan fasilitas yang memadai. Ini bisa menjadi bibit-bibit baru kawasan kumuh,” katanya.

Nurhadi menekankan perlunya pendekatan menyeluruh yang mempertimbangkan infrastruktur dasar seperti sanitasi, air bersih, layanan transportasi, serta akses terhadap pendidikan dan kesehatan.

Ia menyatakan, rumah tanpa pelayanan bukanlah rumah. Itu hanya tempat berteduh yang kehilangan martabat.

Sebagai alternatif, ia mengusulkan pembangunan rumah susun yang memiliki ruang publik bersama dan fasilitas sosial yang layak.

Dengan anggaran yang sama, rumah susun menurutnya bisa menawarkan ruang yang lebih manusiawi dan mendorong interaksi sosial antarwarga.

Ia juga menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan.

“Perlu dilakukan survei langsung terhadap masyarakat MBR. Apa yang mereka anggap sebagai rumah layak? Jangan hanya top-down. Masyarakat harus diajak bicara,” ujarnya.

Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) tengah menyusun regulasi mengenai standar minimum rumah subsidi berukuran 18 meter persegi.

Direktur Jenderal Perumahan Perkotaan, Sri Haryati, menyebut cicilan saat ini berada di kisaran Rp1 juta per bulan dan diharapkan bisa ditekan menjadi Rp600–700 ribu.

“Kami sedang eksplorasi dan simulasi dengan berbagai pihak, termasuk pengembang dan perbankan. Harapannya, cicilan rumah subsidi dengan ukuran kecil bisa lebih ringan daripada cicilan FLPP saat ini,” ujar Sri Haryati di Jakarta, Selasa (17/6/2025).

Usulan cicilan Rp600 ribu pertama kali dicetuskan oleh Ketua Satgas Perumahan Nasional, Hashim Djojohadikusumo.

Ia menjelaskan bahwa skema ini merupakan bagian dari program pembangunan 3 juta rumah Presiden Prabowo, yang terdiri dari 2 juta rumah di desa dan 1 juta di kota.

Menurut Hashim, skema pembiayaan untuk rumah di kota akan melibatkan bank Himbara seperti BTN, sementara rumah di desa akan mendapat jaminan dari pemerintah.

“Untuk rumah di desa, bentuk dukungannya berbeda. Pemerintah akan hadir lebih kuat dalam menjamin cicilannya,” tutup Hashim.

Tags: Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukimanmiskinrumahrumah subsidiUGM

Related Posts

Ilustrasi disabilitas

Mayoritas Kampus di Indonesia Urung Ramah Disabilitas

February 10, 2026
Ilustrasi sistem perlindungan sosial

Tragedi Anak SD NTT Cermin Rapuhnya Sistem Perlindungan Sosial Negara

February 8, 2026
ilustrasi kecanduan game

Ngeri, Ini Efek Buruk Kecanduan Game

January 27, 2026
wilayah Greenland yang berupaya direbut Amerika

Trump Jadikan Greenland Panggung untuk Memperluas Imperium Ideologis Amerika

January 16, 2026
Pakar hukum tata negara Zainal Arifin Mochtar dikukuhkan sebagai guru besar UGM

Dikukuhkan Sebagai Guru Besar, Uceng Soroti Pelemahan Independensi Lembaga Negara

January 15, 2026
Ilustrasi konten media sosial

Marak Konten Seksual Palsu, Dosen UGM Ingatkan Hal Ini

January 9, 2026
Next Post
Ilustrasi hujan

BMKG Peringatkan Potensi Hujan Ekstrem, Pergerakan Cuaca Bergeser ke Timur Indonesia

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No Result
View All Result

TERPOPULER

Ilustrasi SMP di Sleman

8 SMP Terbaik di Sleman yang Bisa Jadi Pilihan

June 4, 2025
Kabupaten Bantul memiliki sejumlah Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang menjadi incaran para pendaftar.

10 SMP Favorit di Bantul: Pilihan Terbaik Sekolah Negeri dan Swasta

June 18, 2025
Berikut 10 SMP unggulan di Bantul yang bisa dijadikan acuan sebelum mendaftar SPBM 2025.

Inilah 7 SMP Unggulan di Bantul yang Paling Diburu Jelang SPMB 2025

June 9, 2025
ilustrasi : Sekolah Dasar

10 SD Favorit di Bantul dengan Akreditasi A, Layak Jadi Pilihan!

June 12, 2025
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo.

Penetapan UMK dan UMP DIY 2026 Berpotensi Mundur, Wali Kota Yogyakarta Berharap Ada Kenaikan

December 12, 2025

Subscribe

  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Copyright ©2025 | populi.id

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • NEWS
    • GLOBAL
    • NASIONAL
    • POLITAINMENT
  • SLEMAN
  • BANTUL
  • KOTA YOGYAKARTA
  • KULON PROGO
  • GUNUNGKIDUL
  • JATENG
    • KEDU
    • SOLO RAYA
  • BISNIS
  • UMKM
  • SIKAP
  • PSS SLEMAN
  • URBAN
    • SPORT
      • LIGA
    • CENDEKIA
    • KESEHATAN
    • KULTUR
    • LIFESTYLE
    • OTOMOTIF
    • TEKNO

Copyright ©2025. populi.id - All Right Reserved.