YOGYAKARTA, POPULI.ID – Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY Eko Yunianto melihat minat masyarakat di wilayah DIY cukup besar terhadap investasi di pasar modal.
Disebutnya, hal itu tercermin dari data perkembangan SID Saham, Reksa Dana, dan Surat Berharga Negara (SBN) yang terus meningkat sejak Juni 2022 hingga Juni 2025.
Pada Juni 2024, jumlah SID Saham meningkat secara year on year (yoy) dari 116.855 menjadi 143.439. Sementara jumlah SID Reksadana juga turut mengalami peningkatan secara yoy dari 227.993 menjadi 255.477. Selain itu, SID SBN juga meningkat secara yoy dari 19.126 menjadi 22.452.
“Pada bulan Juni 2025, nilai transaksi saham yang ada di wilayah DIY mencapai Rp3,28 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat sebagai investor mulai memiliki optimisme dan kepercayaan terhadap perekonomian nasional serta sadar terhadap pentingnya berinvestasi,” katanya saat diwawancarai wartawan, Jumat (10/9/2025).
Eko menyebut jumlah investor pasar modal di wilayah DIY didominasi oleh investor individu dengan tren jumlah Single Investor Identification (SID) saham, reksadana, dan SBN dari Juni 2022 hingga Juni 2025 yang terus meningkat.
Jumlah SID Saham untuk tipe investor individu meningkat secara yoy dari sebesar 116.761 pada Juni 2024 menjadi 143.332 pada Juni 2025.
Jumlah SID Reksadana untuk tipe investor individu meningkat secara yoy dari sebesar 227.828 pada Juni 2024 menjadi 255.266 pada Juni 2025.
Selain itu, jumlah SID SBN juga mengalami peningkatan secara yoy dari sebesar 19.041 pada Juni 2024 menjadi 22.350 pada Juni 2025.
Pihaknya menyampaikan telah memberikan edukasi terkait pasar modal kepada masyarakat. Eko juga menyebut semakin banyak masyarakat yang ingin mendapatkan edukasi.
Masyarakat disebutnya telah memahami kondisi yang tidak pasti di masa depan perlu diantisipasi. Hal tersebut menurutnya tidak hanya sekedar direspon melalui cara menabung namun investasi
Selain itu, berdasarkan hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK), pada tahun 2025 indeks literasi pasar modal mencapai sebesar 17,78 persen meningkat dibandingkan tahun 2024 sebesar 15,43 persen.
“Sedangkan indeks inklusi pasar modal sebesar 1,34 persen menurun dibandingkan tahun 2024 yang mencapai sebesar 1,60 persen,” katanya.
“Peningkatan indeks literasi pada sektor pasar modal ini juga menunjukkan bahwa upaya edukasi yang kami lakukan bekerja sama dengan Kementerian/Lembaga, BEI dan PUJK berjalan cukup efektif,” katanya.
Investasi di pasar modal dilakukan oleh Wulan Intandari, pekerja media di Yogyakarta. Dirinya mengaku berinvestasi melalui saham.
“Saya melakukan investasi lewat aplikasi Stockbit,” katanya.
Disebutnya, saham menjanjikan peluang untung yang cukup tinggi meskipun dalam waktu yang lama. Ia menekankan, untuk mendapatkan hasil yang maksimal, perlu memahami cara mengelola dan aturan dalam berinvestasi saham.
“Selain itu, investasi juga dapat memberikan penghasilan tambahan (passive income) yang terus berjalan bahkan saat tidak aktif bekerja, karena ada pembagian dividen saham atau bunga investasi,” katanya.
Ia menyampaikan, dalam melakukan investasi saham, seorang investor perlu memperhatikan risiko dan kondisi pasar.
“Tantangannya lebih ke volatilitas pasar sih yang bisa membuat harga naik atau turun cepat banget. Nah faktor psikologis,” katanya.
“Seperti emosi tuh jadi tantangan menurutku karena bisa memicu keputusan buruk, terus kurangnya pengetahuan tentang cara kerja pasar saham,” tambah Intan.
Oleh karena itu, ia mengantisipasi segala resiko pasar dengan terus memantau berita tentang perusahaan yang sahamnya telah dibeli.
“Karena kadang sentimen pasar global atau geopolitik juga mempengaruhi harga saham,” katanya.
(populi.id/Hadid Pangestu)












