SLEMAN, POPULI.ID – Kepolisian Resor Kota Yogyakarta telah menetapkan 13 orang tersangka dalam kasus kekerasan anak di salah satu tempat penitipan anak (daycare) Yogyakarta, Little Aresha.
Para tersangka terdiri dari kepala yayasan, kepala sekolah, serta 11 orang pengasuh yang dijerat pasal berlapis pada perlindungan anak. Kasus ini tentu menyita perhatian publik, terlebih lembaga pengasuhan anak ini sudah berdiri sekitar 4 tahun lamanya.
Dosen Fakultas Psikologi UGM, Diana Setiyawati, menilai kasus tersebut sebagai alarm serius bagi seluruh pihak, termasuk keluarga dengan pengalaman serupa, maupun pemangku kebijakan.
Diana menyampaikan, praktik kekerasan di daycare tersebut diduga karena motif ekonomi dan sistem kerja yang tidak sehat. Ia turut menjelaskan posisi nanny sitter atau pengasuh cenderung berada dalam posisi rentan di bawah aturan dan tuntutan dari atasan.
Beberapa orang dalam kondisi tertentu dapat menormalisasi tindakan yang sebenarnya melanggar nilai-nilai kemanusiaan dengan alasan efisiensi kerja.
“Motifnya bisa jadi karena ekonomi, agar lebih mudah mengatur anak sekaligus bisa ‘merawat’ banyak anak,” ujarnya dilansir dari laman UGM, Senin (11/5/2026).
Kekerasan tentu berdampak signifikan pada psikologis manusia, terlebih korbannya adalah anak bayi yang masih sangat jauh di bawah umur. Diana menerangkan, bayi belum mampu mengekspresikan ketakutan atau ketidaknyamanan.
Mereka akan menangis untuk mengekspresikan emosi-emosi negatif yang mereka rasakan. Ketika orang dewasa tidak memahami, atau justru mencoba membungkam emosi bayi, maka bayi akan berpotensi memendam perasaan yang mereka rasakan.
“Misalnya respons bayi saat dipukul menangis, ia bisa jadi akan menyembunyikan emosinya di hari kemudian. Padahal itu caranya menunjukkan apa yang ia rasakan,” jelasnya.
Diana turut menyampaikan bahwa dampak psikologis pada bayi juga sangat bergantung pada bentuk kekerasan dan kronologi yang terjadi, sehingga memahami kronologi menjadi catatan penting.
Bagi bayi yang sempat mengalami kekerasan maupun bayi yang secara psikis sehat, lingkungan yang hangat, aman, dan penuh kasih sayang menjadi fundamental.
Menurut Diana, bayi membutuhkan lingkungan yang aman agar rasa takut yang sempat dirasakan tidak mendatangkan trauma permanen. Ekosistem yang baik berupa dukungan orang tua maupun pengasuh yang responsif menjadi faktor penting dalam proses pemulihan.
Relasi emosional yang sehat sejak dini akan membantu anak membangun kepercayaan diri dan kestabilan emosi pada perkembangannya. “Bayi perlu diberikan lingkungan yang hangat, dipeluk, disayangi, dan diberikan rasa aman untuk membantu menyembuhkan trauma,” katanya.
Pakar Psikologi UGM itu turut membagikan pengalaman pribadinya semasa bekerja sebagai paruh waktu di daycare ketika belajar di Australia. Pengalaman tersebut mengarah pada upaya penciptaan ruang daycare yang aman bagi anak dan bayi.
“Saat bekerja paruh waktu di daycare dulu, pemerintah secara rutin melakukan inspeksi terhadap layanan pengasuhan anak. Normalisasi perilaku kasar di lembaga pengasuhan dapat terjadi apabila tidak ada sistem pengawasan yang kuat,” ungkapnya.
Ia menilai tanggung jawab tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada lembaga pengasuhan. Perlu keterlibatan aktif pemerintah dalam supervisi dan sertifikasi tenaga pengasuh anak.
Kasus Little Aresha menjadi pengingat bahwa keamanan anak harus menjadi prioritas utama dalam setiap lembaga pengasuhan, termasuk dengan menciptakan ekosistem yang aman bagi anak dari berbagai pihak.












