YOGYAKARTA, POPULI.ID – Sebanyak empat kepala keluarga (KK) dari total 12 jiwa warga Kota Yogyakarta akan diberangkatkan mengikuti program transmigrasi ke Torire, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, pada tahun 2025. Mereka akan berangkat bersama peserta transmigrasi dari seluruh DIY pada Desember 2025.
Kepala Bidang Pengembangan Tenaga Kerja dan Transmigrasi Dinsosnakertrans Kota Yogyakarta, Erna Nur Setyaningsih, menjelaskan sebelum diberangkatkan, para calon transmigran akan masuk camp transmigrasi di DIY. Proses ini dilakukan untuk pembekalan awal dan penyesuaian.
“Kami ada MoU dan perjanjian kerja sama dengan daerah tujuan transmigrasi. Kami lakukan monitoring dan komunikasi dengan UPT di sana,” ujarnya, Jumat (12/12/2025).
Menurut Erna, pelepasan peserta transmigrasi tingkat provinsi dijadwalkan pada 14 Desember. Rencana awal masuk camp pada 15 Desember di Tegalrejo, namun jadwal tersebut kemungkinan mundur.
“Dalam minggu ini lah, kalau rencana awal 17, kalau tidak 20 Desember,” jelasnya.
Erna menyebut animo warga Kota Yogyakarta untuk ikut transmigrasi masih cukup tinggi. Saat ini terdapat sekitar 20 orang yang masuk daftar minat (animo) dan menunggu seleksi berikutnya.
“Waiting list-nya masih sekitar 20-an. Kita masih seleksi dulu minat dan kecocokannya,” katanya.
Namun keberangkatan sangat bergantung pada kuota yang ditentukan pemerintah pusat. Tahun lalu Kota Yogyakarta mendapat kuota enam KK, sementara tahun ini hanya empat. Secara keseluruhan, DIY pada tahun ini mendapatkan kuota 15 KK.
Selain uang saku sebesar Rp13 juta per KK, Pemkot Yogyakarta juga memberikan berbagai persiapan bagi calon transmigran. Mulai dari pelatihan keterampilan seperti pertanian hingga pembinaan mental.
“Pembinaan mental itu kita bekerja sama dengan ESQ. Satu hari penuh calon transmigran diberikan motivasi dan pemantapan. Satu keluarga, termasuk istri dan anak yang sudah dewasa, ikut semua,” kata Erna.
Pemkot juga memberikan perbekalan tambahan sebelum pemberangkatan. Untuk memantau perkembangan transmigran terdahulu, Dinsosnakertrans membentuk grup komunikasi dengan para peserta yang telah menetap di berbagai daerah.
“Mereka rutin memberi kabar. Kami juga berkoordinasi dengan UPT daerah tujuan karena kerja sama berlangsung lima tahun hingga mereka menerima sertifikat hak milik,” jelas Erna.
Salah satu calon transmigran, Lingga Perwira Sakti, mengaku mengikuti program transmigrasi karena ingin memperbaiki kehidupan ekonomi keluarga. Selama ini, ia bekerja serabutan sebagai buruh harian di Yogyakarta.
“Di Yogyakarta lapangan pekerjaan sempit. Saya ingin mengubah hidup bersama keluarga,” ujar warga Keparakan tersebut.
Ia juga memiliki pengalaman bekerja di perkebunan sawit di Sumatra. Lingga menilai pemerintah sangat memperhatikan peserta transmigrasi. Bahkan tahun ini, para calon peserta difasilitasi untuk melakukan kunjungan ke lokasi sebelum diberangkatkan.
“Fasilitasnya sudah diusahakan maksimal. Komoditas yang bagus di sana kopi, durian, dan kakao. Rencana saya menanam kopi sebagai tanaman tahunan dan juga sayuran,” pungkasnya.












