YOGYAKARTA, POPULI.ID – Desing mesin penggiling kopi memecah hiruk pikuk aktivitas pedagang di lantai dasar sisi timur Pasar Beringharjo Kota Yogyakarta, pada Minggu (1/2/2026). Aroma harum kopi yang baru saja digiling menyebar di antara los jamu dan obat herbal Pasar Beringharjo.
Wangi semerbak itu berasal dari Kios Hasanah. Dari kios berukuran 3×2 meter itu terlihat belasan toples berisi biji kopi lokal dari berbagai wilayah Nusantara. Di balik etalase, tampak Karel tengah fokus mengemas bubuk kopi yang baru saja digiling, sambil sesekali menjawab pertanyaan pelanggan.
Kios Hasanah itu adalah milik ayah Karel. Kios tersebut sudah berjualan biji kopi sejak sebelum Pandemi Covid-19 melanda Kota Yogyakarta. Selain biji kopi, Kios Hasanah juga menyediakan madu, herbal, dan berbagai macam wedang rempah.
“Dulu awalnya Ayah tidak jualan kopi, tapi herbal dan madu. Terus Ayah dulu sering ngulik-ulik dan akhirnya jualan kopi. Tapi belum terlalu banyak yang tahu kalau di sini jual kopi. Mungkin baru-baru ini mulai pada tahu, apalagi kan Jogja baru terkenal kopinya,” ungkap Karel kepada Populi.id, Minggu (1/2/2026).
Ada dua jenis biji kopi yang dijual Karel, yakni robusta dan arabika. Biji-biji kopi tersebut berasal dari berbagai wilayah lokal penghasil kopi di Indonesia. Antara lain biji kopi arabika Gayo, Wine, Kerinci, Flores Bajawa, Toraja, Sidikalang, Kintamani, Merapi, Ijen, Temanggung, dan Luwak Liar. Selain itu juga ada biji kopi robusta dari Temanggung, Menoreh, dan Merapi.
![Pemilik gerai biji kopi Kios Hasanah di Pasar Beringharjo Kota Yogyakarta, Karel tengah menjelaskan perihal jenis kopi kepada pelanggan, Minggu (1/2/2026). [populi.id/Dewi Rukmini]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/IMG-20260201-WA0025-1024x768.jpg)
Karel menyebut, sebagian besar biji kopi tersebut diambil langsung dari petani. Biasanya dia membeli biji kopi yang masih hijau (green bean) dari petani. Kemudian green bean itu diroasting sendiri di rumah Karel. Rata-rata setiap hari dia bisa meroasting sekitar 3,5 kg green bean dari masing-masing jenis kopi.
“Setiap pagi hari nge-roasting, tergantung kebutuhan stok. Kalau biji kopi terpopuler kayak Temanggung, Merapi, dan Menoreh itu wajib,” ujarnya.
Dia menyampaikan, rata-rata setiap hari melayani lebih dari 100 pembeli. Kebanyakan pembelinya adalah wisatawan dari luar wilayah Yogyakarta, sehingga tertarik untuk mencoba kopi lokal sekitar.
Seorang pembeli, Rara (26), mengaku baru pertama kali membeli kopi di Kios Hasanah Pasar Beringharjo. Biasanya dia membeli produk-produk wedang rempah di Pasar Beringharjo. Pada siang itupun Rara mencoba membeli kopi lokalan untuk ayahnya.
“Menurut saya, dibandingkan dengan Space Roaster, harga kopi di sini cukup murah dan terjangkau untuk kalangan mahasiswa ke atas. Saya pikir stan kopi di Pasar Beringharjo bagus karena banyak turis non-lokal yang bisa tahu produk-produk kopi dari Jogja,” tandasnya. (populi.id/Dewi Rukmini)












