YOGYAKARTA, POPULI.ID – Amarah dan jerit tangis orang tua tak dapat terbendung saat mengetahui buah hatinya menjadi korban dugaan kekerasan anak di daycare Little Aresha, Jalan Pakel Baru Utara, Kelurahan Sorosutan, Kemantren Umbulharjo, Kota Yogyakarta.
Kepercayaan orang tua yang menitipkan malaikat kecilnya di daycare tersebut seolah pecah berkeping-keping, ketika tindakan tak manusiawi pengasuh daycare terbongkar.
Bukan diasuh dengan kasih sayang, anak-anak balita yang dititipkan di daycare tersebut justru mendapatkan perlakuan kejam.
Di antaranya diikat dengan kain, anak balita diumbar tidur beralaskan matras tanpa baju, bahkan ada yang sampai dikunci di dalam kamar mandi.
Perlakuan nahas itu juga dialami oleh cucu Sri (53), warga Kotagede, yang baru berusia 4 tahun. Sri mengatakan bahwa cucunya mengaku pernah dimasukkan dan dikunci di kamar mandi agar tidak bermain.
“Kemarin saat ada penggerebekkan itu, cucu saya langsung dibawa pulang sama anak saya. Cucu saya cerita kalau tidak boleh main terus dikancing (dikunci) di kamar mandi sama pengasuhnya. Dulu pas saya jemput juga pernah pipinya merah,” katanya kepada Populi.id, Sabtu (25/4/2026).
Mendengar pengakuan cucunya, Sri merasa marah dan sangat kesal. Dia pun datang ke daycare Little Aresha untuk meminta penjelasan, namun tempat penitipan anak itu sudah disegel garis polisi oleh Polresta Yogyakarta.
Rasa amarah Sri cukup memuncak lantaran menitipkan cucunya di daycare tersebut tidak gratis. Setiap bulan, dia mengeluarkan uang sekitar Rp1,5 juta untuk membayar biaya penitipan anak pada Senin-Jumat mulai pukul 10.00 – 17.00 WIB.
“Saya pasrahkan ke polisi. Kami tidak menyangka bisa seperti itu, karena pengasuhnya itu ramah-ramah. Kalau pas jemput atau mengantar cucu pasti ketemu pengasuhnya dan itu kelihatan baik,” ujarnya.
Warga Kota Yogyakarta, Khoirunisa (34), tak bisa membendung kesedihannya saat melihat buah hatinya ada di antara foto anak-anak yang pergelangan tangannya diikat.
Mirisnya bocah berusia 1,5 tahun itu ditidurkan di atas matras playmate, tanpa bantal ataupun kasur, dan tidak memakai baju, hanya memakai popok di daycare tersebut. Kebiasaan itupun sampai terbawa ke rumah.
“Tadi malam anak saya tidur tidak mau di kasur. Maunya di lantai tanpa bantal, padahal belum ada sampai sebulan,” ucapnya.
Dia melanjutkan, sejak dititipkan di daycare berat badan anaknya justru turun, dari yang awalnya 9 kg kini menjadi 8 kg. Dikatakan setiap pulang dari daycare, sang anak merasa kelaparan, padahal dia selalu membawakan bekal makanan.
“Saya selalu bawain dia snack camilan jajanan pasar, pulang tuh selalu bersih, dan saya lihat langsung yang makan adalah Miss-missnya (guru atau pengasuh daycare). Setiap pulang dia selalu kelaparan, nangis, dan ketakutan,” ujarnya.
Tak sampai sana, Khoirunisa menyebut anaknya mengalami batuk yang tidak kunjung sembuh sejak masuk daycare. Padahal sebelumnya sang anak tidak pernah batuk sampai muntah dalam waktu lama.
“Yang bikin saya kaget, dia (anaknya) demam sampai 38,7 atau 39 derajat celsius tidak disampaikan ke kami. Bilangnya saat kami sudah tanya. Terus di tangan anak saya pernah ada bekas cakaran. Lalu saya tanyakan ke pengasuhnya, bilangnya kena cacar air atau gimana,” paparnya.
Orang tua lainnya, Norman Windarto (41), mengaku kaget saat mengetahui daycare tempat anaknya dititipkan digerebek polisi karena dugaan penganiayaan balita. Dia menyebut sudah 2 tahun lebih menitipkan anaknya di daycare itu.
“Ternyata perlakuan di daycare selama kami menitipkan anak tidak manusiawi. Melihat dari video bukti di TKP kemarin, perlakuan ke anak usia di bawah 3 tahun sangat tidak manusiawi, ada yang diikat kaki maupun tangannya, kemudian tidak pakai baju, dan hanya pakai popok,” terangnya.
Norman menuturkan bahwa anaknya pernah mengalami luka yang juga dialami oleh anak-anak lain yang dititipkan di daycare tersebut. Dari situ, dia mengetahui bahwa luka yang diderita anak-anak sama. Kesamaan lain, anak-anak yang dititipkan di daycare tersebut juga sering sakit.
“Hampir sebulan sekali kami ke dokter dan terakhir anak saya divonis pneumonia paru-paru. Ternyata yang kena pneumonia bukan hanya anak saya, tapi beberapa anak lain,” jelasnya.
Norman menyampaikan, suatu hari daycare juga pernah melaporkan ada luka goresan di pungung serta bibir anaknya semenjak kedatangan. Padahal sebelum berangkat dia selalu memandikan anaknya dan memastikan tidak ada luka tersebut.
“Jadi seolah-olah lukanya memang berasal dari rumah. Dua kali ada laporan seperti itu, kemudian saya berpikir ada apa ini?. Tapi sebelum terbongkar, dulu anak yang dititip di sana juga pernah ada luka serupa, saya pikir karena alergi,” tuturnya.
Norman mengaku tidak ada kecurigaan apapun terhadap daycare tersebut. Sebab, sejak awal branding yang ditunjukkan daycare bagus dan fasilitasnya menjanjikan. Selama ini, dia mengira anak-anak ditidurkan di atas kasur dan memakai AC. Ternyata hal itu jauh dari ekspetasi.
“Selama ini setahu kami ada kasur berAC, karena fasilitas yang ditawarkan bagus. Ternyata anak-anak cuma tidur di atas playmate dan pakai kipas angin,” ungkapnya.
Menurutnya, selama ini orang tua tidak boleh masuk ke dalam daycare. Sehingga mereka hanya mengantar dan menjemput anak dari luar daycare. Ia baru mengetahui ternyata kondisi di dalam daycare hanya berupa ruangan-ruangan kamar kecil yang susah menampung puluhan anak.
“Ini jadi pembelajaran buat kami orang tua untuk lebih care lagi dengan anak. Semoga menjadi titik awal daycare di Jogja tidak seperti itu,” tandasnya. (populi.id/Dewi Rukmini)












