JAKARTA, POPULI.ID – Mantan pelatih Timnas Indonesia, Indra Sjafri, menegaskan bahwa program naturalisasi pemain diaspora merupakan bentuk akselerasi prestasi yang sah bagi sepak bola Indonesia.
Di sisi lain, ia juga memberikan pandangan mengenai tren pemain diaspora yang kini banyak memilih berkarier di Liga Indonesia sebagai keputusan profesional demi kelangsungan karier dan menit bermain.
Terkait kebijakan naturalisasi, Indra Sjafri menilai langkah tersebut tidak perlu dipertentangkan selama dilakukan dalam koridor hukum yang berlaku. Ia memandangnya sebagai upaya mempercepat kualitas timnas agar bisa segera bersaing di level yang lebih tinggi.
“Bolehkah kita melakukan akselerasi? Boleh dong. Kalau secara hukum membolehkan, kenapa tidak?” ujar Indra dalam diskusi di kanal YouTube Bola Bung Binder, dikutip Selasa (7/7/2026).
Mengenai fenomena meningkatnya jumlah pemain diaspora yang memilih bermain di Liga Indonesia, Indra mengajak publik untuk melihatnya dari kacamata pemain sebagai profesional. Ia membantah narasi negatif yang menyebut kepulangan tersebut sebagai langkah yang menghancurkan karier. Menurutnya, pemain memiliki hak mutlak untuk menentukan masa depan yang terbaik bagi kehidupan mereka.
“Kalau saya pemain profesional, saya memilih mana yang terbaik untuk saya. Saya enggak memikirkan mana yang terbaik untuk federasi saya, karena itu yang paling pertama, saya yang akan hidup,” jelas pelatih asal Sumatra Barat tersebut.
Indra Sjafri juga menyinggung realitas persaingan di luar negeri. Ia menilai banyak pemain diaspora yang akhirnya memilih Indonesia karena kesulitan mendapatkan menit bermain di klub-klub Eropa. Baginya, kualitas adalah faktor penentu utama apakah seorang pemain bisa bertahan di kancah internasional atau tidak.
โKita kan dulu berharap karena dia main dengan kualitas bagus dan dia berkompetisi di luar. Sekarang dia bermain di kompetisi kita yang notabenenya kata orang kompetisinya enggak bagus, mungkin itu yang menjadi polemik,โ tutur Indra.
Ia menjelaskan bahwa jika seorang pemain memiliki kualitas yang benar-benar menonjol, mereka pasti akan bertahan dan dicari di luar negeri, seperti yang terjadi pada pemain-pemain Maroko. Maka, kepulangan mereka ke Indonesia sering kali menjadi solusi logis ketika mereka tidak berhasil bersaing secara kualitas di level internasional.
“Kalau kualitas bagus pasti dicari orang dan pasti bertahan di sana,” tambahnya.
Meskipun demikian, Indra melihat sisi positif dari tren ini bagi kemajuan sepak bola tanah air. Kehadiran para pemain diaspora berkualitas diharapkan mampu mendongkrak level kompetisi Liga Indonesia agar setara dengan kualitas liga-liga di luar negeri.
Namun, ia memberikan catatan agar distribusi para pemain ini merata dan tidak menumpuk di klub-klub tertentu saja agar kualitas liga benar-benar terlihat.
โMungkin intervensi dari federasi untuk bisa pemain-pemain ini jangan menumpuk (di satu klub) supaya kualitas juga kelihatan. Nah, ini apakah perlu ini dilakuin ya itu terserah nanti pemegang kebijakan,โ katanya.
Dari sudut pandang federasi dan sepak bola nasional, kehadiran pemain-pemain diaspora, termasuk pemain naturalisasi, diharapkan dapat mendongkrak kualitas kompetisi Liga Indonesia. Indra memberikan contoh bahwa pertandingan seperti Persib melawan Persija akan memiliki kualitas yang tidak kalah dengan liga luar jika diperkuat oleh pemain-pemain berkualitas tersebut.








![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)



