PURWOREJO, POPULI.ID – Deretan berbagai bahan kebutuhan pokok semisal beras, minyak goreng, gula pasir, tepung, mie instan, susu, pasta gigi, hingga buku tulis tampak terpajang rapi di atas rak ruang tamu sebuah rumah di Dusun Prigi, Desa Tridadi, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Ruang tamu itu disulap menjadi warung sederhana untuk anak-anak Yatim setempat.
Sekilas, tempat itu mirip seperti warung kelontong pada umumnya. Namun jika dilihat lebih cermat, tidak ada label harga yang mengantung, bahkan meja kasir di sudut warungnya. Sebab, di warung tersebut tidak ada transaksi jual beli. Anak-anak Yatim yang datang bebas mengambil kebutuhan pokok yang diperlukan tanpa perlu mengeluarkan koin sepersen pun.
Warung unik tanpa kasir itu adalah Warung Sembako Gratis untuk Anak Yatim yang digagas oleh Yan Budi Nugroho (33), seorang Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Sekretaris Daerah (Prokopim Setda) Kabupaten Purworejo.
Kesibukannya sebagai Apartur Sipil Negeri (ASN) Pemerintah Kabupaten Purworejo ternyata tidak mengugurkan perjuangan Yan Budi Nugroho dalam membantu anak-anak kurang beruntung di sekitarnya. Pria yang pernah menjadi guru honorer itu memulai langkah mulia mendampingi anak Yatim pada 2018 lalu.
Kala itu ada satu anak Yatim yang dia bina sepenuh hati. Seiring berjalannya waktu, jumlah anak yatim yang dia bina bertambah menjadi 30 anak. Di antaranya sebanyak 22 anak rutin mendapatkan bantuan.
Puluhan anak yatim itu berasal dari berbagai tingkat usia, mulai balita hingga remaja. Mereka tersebar di tujuh desa yang berada di Kecamatan Loano dan Bener, Kabupaten Purworejo. Jarak jangkauan binaannya pun tidak main-main, beberapa rumah anak yatim berjarak hingga 9 kilometer dari rumah Yan, dengan medan pedesaan yang menantang.
Setiap sebulan sekali, Yan rutin mendatangi rumah anak-anak yatim binaannya untuk menyalurkan sembako dan keperluan sekolah titipan dari donatur. Terkadang, usai bekerja Yan menyempatkan diri menengok kondisi anak-anak yatim binaannya. Namun, karena kesibukan sebagai ASN yang semakin meningkat, akhirnya Yan membuka warung sembako gratis untuk anak-anak yatim binaannya.
“Tahun ini (2026) sudah memasuki tahun kedelapan (membina anak yatim). Jadi, saya gagas konsep baru berupa warung sembako gratis yang dapat diakses langsung oleh anak-anak yatim binaan saya. Kalau saya visit setiap bulan kadang waktunya habis,” ucap Yan Bagus kepada Populi.id, Jumat (17/7/2026).
Warung sembako gratis itu resmi dibuka pada Juni 2026 lalu. Bagi Yan, warung itu bukan sekadar tempat menyalurkan bantuan logistik. Akan tetapi, juga menjadi simbol kedekatan emosional antara dia dan anak-anak yatim binaan.
“Warung sembako gratis ini tujuannya supaya kami bisa berinteraksi lebih dekat secara emosional. Jadi ketika anak-anak membutuhkan beras, minyak, telur, atau tepung, mereka bisa langsung mengambil di sini seminggu atau sebulan sekali,” jelasnya.
Meski dijadwalkan sebulan sekali, Yan memberikan kelonggaran penuh. Terutama jika ada kebutuhan mendesak (urgent), anak-anak bisa langsung datang mengambil logistik yang dibutuhkan setelah mengirim pesan singkat.

“Saya wajib bekerja secara profesional. Tetapi ketika ada amanah untuk anak-anak yatim, saya harus meluangkan waktu untuk mereka. Kadang selesai kerja malam, saya masih mengunjungi anak-anak,” ungkap dia.
Hebatnya, sumber dana awal warung gratis itu banyak disisihkan dari kantong pribadi Yan. Setiap kali mendapatkan uang tambahan dari perjalanan dinas, Yan langsung mengalokasikannya untuk membeli stok logistik warung dan keperluan sekolah bagi anak binaannya.
Kendati demikian, di balik keteguhan langkahnya, Yan mengaku kerap dihantui rasa khawatir mengenai konsistensi dan keberlangsungan warung gratis itu ke depan. Mengingat keterbatasan dana pribadinya. Namun, ketakutan itu dikalahkannya dengan rasa tanggung jawab atas kepercayaan yang telah dititipkan kepadanya.
Yan bermimpi, warung sederhana di sudut Desa Tridadi itu kelak bisa menjelma menjadi wadah kolektif masyarakat. Sebuah ruang tunggu kebaikan di mana siapa pun yang memiliki rezeki lebih bisa datang menitipkan bantuan, baik berupa sembako, alat tulis, maupun perlengkapan sekolah lainnya.
“Saya berpikir kebutuhan anak-anak ini tidak hanya uang atau sembako. Kalau ada tempat atau wadah seperti ini, orang lain yang ingin ikut membantu juga akan lebih mudah,” pungkas Yan. (populi.id/Dewi Rukmini)








![Siswa SMP Negeri 4 Pakem. SMP Negeri 4 Pakem masuk daftar SMP Negeri terbaik di Sleman berdasar data terbaru 2026. [Dok 31_natalie gwen]](https://populi.id/wp-content/uploads/2026/02/smp-negeri-4-pakem-120x86.png)



